oleh Lin Yan

Negosiasi perdagangan Tiongkok – AS seperti perlombaan lari estafet, dan akan segera memasuki tautan kunci berikutnya, yakni lari gawang.

Wall Street Journal mengutip ucapan sumber yang akrab dengan masalah pada Rabu (9 Januari) memberitakan bahwa kedua belah pihak telah membuat kemajuan baru dalam negosiasi dengan mencapai beberapa kesepakatan, tetapi masalah yang pelik harus diselesaikan dalam pembicaraan tingkat tinggi berikutnya.

Amerika Serikat dan Tiongkok telah mengakhiri negosiasi perdagangan tatap muka pertama mereka tahun 2019, tetapi kedua tim membutuhkan lebih banyak diskusi lanjutan untuk menyelesaikan sengketa perdagangan ini.

Kelompok kerja Tiongkok dan Amerika Serikat mengadakan pertemuan tiga hari di Beijing pada 7 – 9 Juli.  Di Beijing, kedua belah pihak telah setuju untuk membeli komoditas dan jasa AS dan membuka pasar Tiongkok lebar lebar bagi investor AS.

Sumber yang akrab dengan masalah ini mengatakan bahwa kedua belah pihak masih memiliki perbedaan pada beberapa masalah, termasuk mengurangi subsidi untuk perusahaan domestik Tiongkok dan dalam hal melindungi hak kekayaan intelektual, ini berarti bahwa masih membutuhkan solusi dalam penyelesaian masalah tersebut.

BACA JUGA : Perubahan Besar Dalam Situasi Perang Dagang AS – Tiongkok, Inilah Faktor-faktor di Baliknya

Delegasi AS yang dipimpin oleh Wakil Perwakilan Dagang AS Jeffrey Gerrish meninggalkan Beijing pada Rabu sore.

Usai pembicaraan tersebut, sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh US Representative Trade Office (USTR) menyatakan bahwa kedua belah pihak membahas perlunya kesepakatan yang sudah dicapai sepenuhnya untuk dilaksanakan dalam suatu mekanisme yang dapat diverifikasi. “Untuk melakukan verifikasi yang berkelanjutan dan memastikan penegakan hukum yang efektif.”

Pernyataan juga menambahkan bahwa para negosiator telah menyampaikan pesan Presiden Trump yang berharap hasil negosiasi mampu membawa peningkatan perdagangan antara kedua negara, menyelesaikan defisit perdagangan yang berkelanjutan dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan struktural.

Sumber kemudian mengatakan bahwa kedua belah pihak telah membuka jalan bagi para pejabat tingkat kabinet untuk melanjutkan pembahasan di putaran berikutnya. Mungkin pembicaraan selanjutnya akan diadakan antara Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dengan Wakil Perdana Menteri Dewan Negara Tiongkok Liu He.

Sumber mengungkapkan hasil negosiasi minggu ini

Negosiasi perdagangan putaran baru antara Tiongkok dengan AS dimulai pada hari Senin di gedung Kementerian Perdagangan Tiongkok di Beijing dan berlangsung selama lebih dari dua hari. Putaran negosiasi ini dilakukan dalam kelompok yang melibatkan pembahasan tentang nontarif, kekayaan intelektual, pembelian hasil pertanian, pengadaan industri dan lainnya.

Menurut sumber yang akrab dengan diskusi, kedua belah pihak pada hari pertama pertemuan membicarakan soal rincian dalam pembelian komoditas dan jasa AS, terutama produk pertanian dan produk energi AS.

Sumber tersebut mengatakan bahwa para perunding dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Energi dan sektor pertanian AS mencoba untuk mendapatkan kepastian tentang kapasitas produk pertanian yang diminta Tiongkok, dan meminta komitmen pihak Tiongkok pada jumlah pembelian dalam periode waktu tertentu.

Sebagai tanda kemajuan dalam negosiasi, Beijing mengumumkan pada Selasa (8 Januari) bahwa mereka akan menyetujui untuk impor lima varietas tanaman transgenik baru, ini adalah  langkah yang dicari oleh para petani dan agribisnis Amerika selama bertahun-tahun.

BACA : Perang Dagang RRT-AS, 1 Aksi Trump 9 Perolehan

Selama pembicaraan, kedua belah pihak menerima serangkaian persyaratan perdagangan yang lebih menantang yang diajukan oleh administrasi Trump, termasuk meminta Beijing untuk menghentikan tindakan pejabatnya yang menekan perusahaan-perusahaan AS dan setop menuntut perusahaan-perusahaan AS mentransfer teknologi yang melanggar keinginan mereka.

AS juga meminta pemerintah Tiongkok mengurangi subsidi kepada BUMN Tiongkok,  menciptakan lingkungan persaingan yang lebih adil bagi perusahaan-perusahaan asing.

Sumber yang akrab dengan masalah mengatakan bahwa kedua belah pihak masih memiliki perbedaan pada banyak masalah, terutama yang menyangkut BUMN milik Partai Komunis Tiongkok.

Para pemimpin Tiongkok menganggap perusahaan besar milik negara itu sebagai pondasi dari kekuasaan Komunis yang selama beberapa tahun terakhir ini terus diperkuat usahanya.

3 jenis masalah yang ada dalam daftar klasifikasi mengalami kemajuan negosiasi

Sebelum beredar rumor di media sosial daratan bahwa pihak Tiongkok kali ini sudah tidak berani lagi mengulangi mode acuh yang dipraktikkan di masa lalu, mereka telah menarik orang-orang dari berbagai departemen terkait, dan meminta semua detail untuk diimplementasikan.

Dalam empat putaran negosiasi perdagangan sebelumnya, Tiongkok telah mengklasifikasikan permintaan AS ke dalam tiga bagian. Pertama, berkaitan dengan meningkatkan pembelian komoditas AS yang mencapai sekitar 30 – 40%, dan pejabat Tiongkok percaya bahwa hal itu dapat dipenuhi segera.

Dilihat dari hasil negosiasi putaran kelima saat ini, Tiongkok diperkirakan akan menerbitkan pesanan pembelian produk pertanian dan produk energi yang cukup besar dari AS, tetapi dalam pesanan kali ini Tiongkok diminta untuk menetapkan waktu penyelesaiannya.

Kedua, persyaratan untuk pembukaan pasar sekitar 30 – 40%, seperti menaikkan batas atas kepemilikan saham lembaga keuangan asing dalam usaha patungan Tiongkok dan memberikan mereka hak operasi yang lebih luas. Pejabat Tiongkok percaya bahwa negosiasi tentang hal ini mungkin dapat memakan waktu sampai beberapa tahun.

BACA JUGA :  Taktik Perang Jangka Panjang, Mampukah Atasi Perang Dagang?

Dalam negosiasi perdagangan putaran kelima ini, sumber mengungkapkan bahwa kedua belah pihak telah membuat kemajuan dalam urusan membuka pasar Tiongkok lebih luas untuk investor AS dan lainnya.

Ketiga, menyangkut Tiongkok diwajibkan untuk menyesuaikan kebijakan industrinya sekitar 20 – 40%, termasuk menghentikan subsidi kepada perusahaan teknologi tinggi Tiongkok, tidak mengganggu operasi perusahaan data AS, atau menghentikan tekanan kepada perusahaan AS yang diwajibkan untuk mentransfer teknologi jika ingin beroperasi di Tiongkok.

Demi keamanan nasional atau alasan politik, Tiongkok tidak setuju untuk merundingkan sebagian besar konten ini.

Pada saat yang sama, Tiongkok juga tidak mengakui bahwa mereka memaksa perusahaan AS untuk mengalihkan secara paksa teknologinya kepada perusahaan mitranya di Tiongkok.

Dilihat dari perundingan putaran kelima, AS terus memberikan tekanan langsung pada bidang-bidang utama ini dan berbicara tentang landasan ekonomi Tiongkok, yakni soal subsidi kepada perusahaan BUMN.

Dunia luar percaya bahwa tantangan ‘lari gawang’ yang paling besar antara Amerika Serikat dengan Tiongkok ada pada bagian ini, bagaimana membuat Beijing memastikan komitmen dan melaksanakan reformasi struktural.

Dilaporkan bahwa Kantor Perwakilan Dagang AS baru-baru ini mengundang sejumlah kelompok industri dan lembaga pemikir untuk mengajukan saran tentang cara memantau Beijing mematuhi komitmennya.

Pada 1 Desember tahun lalu, kepala negara AS dan Tiongkok bertemu di Argentina saat KTT G20, Presiden Xi Jinping dan Presiden Trump mencapai kesepakatan untuk sementara menghentikan pertikaian perdagangan selama 90 hari.

Kedua belah pihak juga menyepakati untuk menghentikan transfer teknologi wajib, melindungi kekayaan intelektual milik AS, mengatasi hambatan non-tarif, intrusi jaringan dan pencurian lewat jaringan, Setuju bahwa masalah reformasi struktural seperti layanan dan pertanian akan dibawa ke dalam putaran negosiasi berikutnya.

Tu Xinquan, direktur Institut Organisasi Perdagangan Dunia Tiongkok dari Universitas Bisnis dan Ekonomi Internasional mengatakan kepada media Hongkong ‘South China Morning Post’ bahwa perjanjian akhir antara kedua pihak mungkin baru bisa tercapai pada hari terakhir (perundingan). Dia percaya bahwa pembicaraan minggu ini terfokus pada rincian teknis, dan kemudian tingkat tinggi kedua belah pihak baru dapat membuat keputusan politik yang sulit.

Taimur Baig, kepala ekonom DBS Research kepada stasiun televisi keuangan AS CNBC mengatakan, usai negosiasi putaran kelima, perang dagang tidak akan berakhir dalam tiga hingga enam bulan ke depan, karena bidang pertentangannya jauh melebihi impor dan ekspor.

Taimur Baig percaya bahwa kedua belah pihak mungkin akan memperpanjang gencatan senjata selama tiga bulan hingga musim panas yang akan memberikan ruang bernapas bagi ekonomi global pada paruh pertama tahun ini. “Jika situasinya tidak memburuk, kami bisa bisa’bernapas’ lega,” tuturnya. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular