Rezim komunis Tiongkok telah meningkatkan upaya untuk mengajarkan secara mendalam kepada para siswa tentang Marxisme ateisme sebagai dogma resmi dan kebesaran-kebesaran dari kepemimpinannya, sekaligus menindas agama, sebagaimana tercermin dalam serentetan laporan berita akhir-akhir ini yang mengkhawatirkan.

Kampanye-kampanye tersebut, yang terjadi di sekolah-sekolah mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi dan termasuk menyuruh anak-anak untuk melaporkan kegiatan-kegiatan keagamaan orangtua mereka, telah menjadi bagian dari tren totaliter yang semakin meningkat di dalam kebijakan-kebijakan Partai Komunis Tiongkok (PKT) akhir-akhir ini.

Tahun lalu, otoritas PKT di Provinsi Hubei, Tiongkok tengah, mengharuskan sebuah universitas mengadakan kursus-kursus ideologi politik PKT, menurut laporan Radio Free Asia (RFA) pada 11 Januari. Menyusul pengenalan kursus tersebut, Departemen Pendidikan Tiongkok mengeluarkan pernyataan pada bulan April 2018 yang merekomendasikan bahwa lembaga-lembaga pendidikan tinggi di seluruh negeri memperkuat dan meningkatkan kursus-kursus “Situasi dan Kebijakan” mereka yang terjadi belakangan ini.

Menurut seorang mahasiswa, menggunakan nama samaran Zhang Kai, kursus tersebut berisi tentang “cuci otak.”

Dengan mengambil contoh perang perdagangan AS-Tiongkok, ia mengatakan kepada RFA bahwa “kursus tersebut memberi tahu kami bagaimana Amerika Serikat bersikap sombong dan tidak masuk akal [di dalam kebijakan Tiongkoknya], dan betapa hebatnya Partai Komunis. Ia secara pelan-pelan mempengaruhi para mahasiswa dengan gagasannya bahwa Partai tersebut dan negara adalah satu, serta kebencian terhadap negara-negara lain.”

Kementerian Pendidikan telah menetapkan bahwa mahasiswa harus mengambil setidaknya delapan periode untuk “Situasi dan Kebijakan” per semester.

Zhang yakin pihak-pihak berwenang sedang bergerak dengan cara mencegah untuk membentuk opini-opini mahasiswa tentang keadaan-keadaan saat ini.

“PKT pada dasarnya dikelilingi oleh masalah-masalah domestik dan eksternal. Pimpinan mungkin berpikir bahwa tingkat pencucian otak yang ada tidak cukup. Mereka takut mahasiswa akan meragukan otoritas-otoritasnya setelah mengetahui keadaan-keadaan terkini.”

“Banyak mahasiswa mengeluh,” kata Zhang. “Beberapa cukup diarahkan oleh isi dari cuci otak tersebut.”

Seorang mahasiswa universitas di Tiongkok Timur Laut, menggunakan nama samaran Li En, mengutip ucapan pengajar “Situasi dan Kebijakan” yang mengatakan, “Jika semua orang mendukung kepemimpinan Partai Komunis, maka tidak perlu menjalani kursus ini.”

MENINDAS KEYAKINAN

Bitter Winter, sebuah majalah yang berfokus pada kebebasan beragama dan hak asasi manusia di Tiongkok, melaporkan pada 8 Januari bahwa PKT mengintensifkan pengajaran mendalam (indoktrinasi) tentang ateisme kepada murid-murid sekolah dasar dan menengah di banyak provinsi dan kota di seluruh negeri.

Menurut sebuah dokumen yang telah dikeluarkan oleh departemen pendidikan di Shenyang Oktober lalu dan telah diperoleh Bitter Winter, pihak-pihak berwenang melarang para guru berbicara tentang agama di sekolah. Mereka juga diperintahkan untuk menghentikan para murid dalam memiliki keyakinan agama apa pun.

“Sebaliknya, PKT ingin para pendidik menggunakan upacara pengibaran bendera dan pelajaran-pelajaran bertema yang bertujuan memperkuat ideologi para murid tertuju pada garis-garis Partai,” kata laporan tersebut.

Bapak Lin, seorang guru sekolah dasar yang hanya memberikan nama keluarganya, mengatakan kepada RFA bahwa akhir-akhir ini, sekolah telah mendidik murid-murid untuk tidak percaya pada “agama-agama yang dianggap sesat,” tetapi tidak merinci agama mana yang termasuk dalam kategori ini. Sekolah juga mendorong para orang tua dan murid untuk saling melaporkan satu sama lain gejala-gejala yang mengarah keagamaan.

Seorang pria bermarga Wang dari Provinsi Hunan mengatakan kepada New Tang Dynasty Television, bagian dari Epoch Media Group, bahwa “sekolah secara terus-menerus menanamkan pemikiran pada para murid tentang pemikiran ateistik dan filosofi perjuangan Partai Komunis.”

Dalam sebuah laporan terpisah, Bitter Winter mengatakan polisi di Kota Lanzhou, Provinsi Gansu, telah pergi ke sekolah menengah dan meminta para murid untuk segera melaporkan setiap kasus kegiatan-kegiatan keagamaan. Para murid akan diberi hadiah 1.000 yuan (US$150) untuk jasa melaporkan orang-orang biasa yang menjadi umat beragama dan 10.000 hingga 40.000 yuan (US$1.500 hingga 6.000) untuk jasa melaporkan pemimpin-pemimpin gereja.

Para murid diminta untuk melaporkan kepercayaan agama orangtua mereka dan memanggil polisi jika mendengarkan ceramah khotbah dari ulama-ulama asing. (ran)

Video pilihan:

Tiongkok Memoles Kamp Penahanan Uighur, untuk Hindari Inspeksi Internasional

Share

Video Popular