Erabaru.net. Bos dan karyawan itu ibarat kencan buta. Selain melihat berbagai kondisi, yang terpenting adalah kesan pertama. Kesan pertama ini mungkin berupa karakter bos, atau dengan kata lain baik atau tidak sikapnya terhadap karyawan.

Seporsi ikan rebus, menguak karakter dua orang pemilik restoran.

Ilustrasi. (Internet)

Masakan yang diolah oleh koki Li ini sangat lezat dan dia memiliki pelanggan yang setia, boleh dikata setiap restoran yang menggunakan tenaganya menjadi ramai dikunjungi berkat masakannya. Dan dia juga cukup dikenal di daerah setempat.

Baru-baru ini, dua restoran ingin mempekerjakannya. Fasilitas yang ditawarkan kedua restoran ini kurang lebih sama, dan skala restoran mereka juga sebanding. Lalu bagaimana memilihnya? Koki Li merasa sedikit pusing untuk menjatuhkan pilihannya.

Dia kemudian menceritakan hal ini dengan temannya. “Lingkungan kerja seperti apa yang kamu inginkan?” Tanya temannya.

Koki Li mengatakan sudah bertahun-tahun dia selalu berkutat di dapur, yang paling memusingkan adalah persaingan yang ketat, dan bosnya juga angkuh, suka memandang remeh seseorang, dan selalu melemparkan tanggung jawabnya kepada koki.

Ilustrasi. (Internet)

Itu berarti harus melihat karakter bos, kan? Tanya temannya. Baik, saya akan memberi idenya, koki Li dan temannya sepakat mengunjungi dua restoran itu.

Koki Li dan temannya ke restoran pertama dan memesan seporsi ikan rebus. Baru mencicipi sedikit, temannya tiba-tiba berteriak,: “Hei, panggil bosmu, memangnya masakan di restoranmu tidak pakai garam ya? Rasanya benar-benar tidak enak!” katanya ketus.

Tak lama kemudian bosnya keluar, pemilik restoran tidak mengenali koki Li, karena koki Li datang dengan menyamar dengan dandanan yang sangat berbeda dengan koki Li.

Pemilik restoran mengira mereka hanya pengunjung biasa, jadi ingin segera menyelesaikan masalahnya. Saat itu, cukup banyak tamu-tamu yang sedang makan di restoran, dan bos langsung meminta maaf tanpa bertanya dulu ada apa dengan masakan di restonya.

Dan tanpa mencicipi masakan itu. dia langsung memanggil keluar kokinya dan memberi teguran kepadanya, dia langsung menyalahkan kokinya, dan akan memotong bonusnya dan sebagainya.

Kemudian bos itu menawarkan menggantinya dengan seporsi ikan rebus yang baru. Koki Li dan temannya saling memandang sekilas, kemudian membayar pesanannya dan pergi sambil geleng-geleng kepala.

Ilustrasi. (Internet)

Kemudian, mereka ke restoran kedua, Chef Li juga memesan seporsi ikan rebus, dan sebagaimana di restoran pertama, mereka protes masakannya tidak enak, terlalu asin. Pemilik restoran keluar untuk meminta maaf, tetapi sebelum menyelesaikan masalahnya, dia mencicipi hidangan itu terlebih dahulu.

Bos merasa tidak ada masalah dengan hidangan itu. Lalu berkata,: “Saya sudah mencicipi hidangan ini. Garamnya sesuai dengan standar hidangan ini. Jika Anda rasa kurang asin, kita bisa menambahkan bumbunya.”

Ketika koki Li ingin bertemu dengan koki restoran itu, sang bos menolaknya. ” Koki yang memasak hidangan ini tidak salah. Jika salah, itu pasti masalah komunikasi kita sebelum memesan hidangan,” kata pemilik restoran.

Di antara kedua bos pemilik restoran itu, manakah yang akan kamu pilih?

Akhirnya, koki Li memilih restoran kedua.

“Bos yang tahu bagaimana melindungi kepentingan dan hak-hak koki itu adalah bos yang patut kita pilih !” Kata koki Li

Bos seperti apa yang pantas kita ikuti? Mungkin seperti poin-poin berikut ini:

Ilustrasi. (Internet)

Pertama, bos yang menganggap talenta seseorang sebagai aset

Karyawan yang cakap adalah fondasi kesuksesan perusahaan. Bos harus mengutamakan kepentingan karyawan yang berbakat. Dan tidak perlu dilanjutkkan lagi jika seorang bos tidak peduli dengan karyawan yang bertalenta. Perusahaan Anda tidak mungkin akan terus berkembang maju.

Kedua, bos yang tahu akan talenta dan mengutamakan watak-moral

Prasyarat mempekerjakan seseorang yang berbakat dan bermoral adalah mengetahui kecakapan seseorang. Bisa tidaknya seorang bos mengenali sosok orang yang cakap berhubungan langsung dengan keberhasilan atau kegagalan perusahaan.

Ketiga, bos yang tahu mempekerjakan orang-orang yang cakap

Pepatah lama berbunyi,: “Burung yang cerdik akan memilih pohon yang cocok/ideal untuk sandaran hidup, sementara seorang pejabat yang cakap akan memilih rajanya yang arif bijaksana untuk mengabdi.”

Berikut beberapa cara untuk mempekerjakan orang-orang yang bertalenta:

  1. Keinginan bersama untuk masa depan yang baik.
  2. Kharisma/kepribadian bos.
  3.  Perlakuan (fasilitas/upah) yang baik dan mekanisme insentif.

Keempat, bos yang tidak menuntut kesempurnaan (pekerjaan)

Pertama harus bisa menerima orang yang lebih cakap/pintar dari diri Anda (bos). Kedua, harus bisa mentolerir kekurangan seseorang. Ketiga, toleransi atas kesalahan seseorang. Karyawan yang hebat sekali pun juga tak terhindarkan akan melakukan kesalahan saat banyak tugas yang dikerjakan, jadi sebagai bos, Anda harus benar-benar memahami dan memkluminya.

Ilustrasi. (Internet)

Lima, bos yang bisa menggunakan bakat seseorang

Terhadap seseorang yang bertalenta dengan kemampuan nyata, harus bisa melanggar batasan usia, pendidikan, dan perbedaan, dan menggunakannya dengan berani, dengan demikian, baru ada orang bertalenta yang dapat digunakan untuk Anda.

Enam, bos yang rajin komunikasi

Mengapa seringkali terjadi kesenjangan yang tidak dapat diatasi antara bos dan karyawan? Dalam kebanyakan kasus, kurangnya komunikasi tatap muka langsung. Sebagai bos, Anda harus secara aktif berkomunikasi dengan karyawan, terutama manajer operasional

Tujuh, bos yang mempercayai karyawan bertalenta

Bagi seorang bos, tidak boleh berprasangka/curiga (ragu dengan bakatnya) terhadap seseorang yang dipekerjakan, kalau memang mau mempekerjakannya, jangan berpikiran negatif. Kalau berprasangka/curiga, lebih baik tidak mempekerjakannya sama sekali, titik.

Ini hanyalah tahap awal: namun, berani menggunakan seseorang yang dicurigai (meragukan bakatnya), bisa memanfaatkan seseorang yang dicurigai itu barulah kecerdasan tinggi. Hanya dengan demikian baru dapat memastikan penggunaan orang-orang berbakat itu tidak akan habis-habisnya.

Ilustrasi. (Internet)

Delapan, bos yang bisa secara rasional membagikan keuntungan

Keuntungan yang didapat perusahaan adalah tujuan yang ingin dicapai oleh bos dan segenap karyawan. Namun, setelah mendapatkan keuntungan, maka cara mendistribusikannya kembali keuntungan itu adalah kunci untuk menguji apakah bos dapat membuat perusahaannya berkembang lebih besar.

Orang-orang yang memenangkan hati segenap rakyat adalah mereka yang akan mendapatkan dunia, so, teman-teman sudah tahu kan bos seperti apa yang harus dipilih?

Dan kepada bos, sudah tahukah Anda bagaimana memperlakukan karyawan ? (jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular