Erabaru.net. Hatiku hancur! Kalimat ini bukan hanya gambaran emosi atau keadaan mental dalam novel dan film percintaan, karena telah dikonfirmasi dari sudut medis, dan itu memang bisa menjadi “keadaan fisiologis” yang dapat mempengaruhi kesehatan seseorang!

Penelitian di Elson S. Floyd College of Medicine, Washington State University menyebutkan bahwa “patah hati” bukan hanya kata sifat dari suasana hati yang sangat buruk, tetapi juga dapat berkembang menjadi kondisi fisiologis yang mengarah ke masalah gagal jantung.

Dawn DeWitt, asisten dekan pendidikan klinis di kampus tersebut mengatakan: “Cinta, persahabatan dan komunikasi dengan dunia luar tidak hanya dapat membuat kita bahagia, tetapi juga membuat kita hidup lebih sehat dan lama.

“Perasaan dan kontak kita dengan dunia luar dapat memberi pengaruh yang signifikan pada jantung. Oleh karena itu, ketika dipicu oleh desakan emosional yang kronis, seperti kematian orang yang disayangi, patah hati atau perceraian, tekanan emosional yang serius tidak hanya akan menyebabkan masalah psikis, tetapi juga fisik. “

Ilustrasi.(Foto :Internet)

Kardiomiopati (Takotsubo) atau sindrom patah hati ini umumnya dikenal sebagai ” heartbreak syndrome atau sindrom patah hati/sakit hati.”

Ini adalah gejala yang dinamai di Jepang pada tahun 1990, dipicu oleh tekanan emosional yang kuat. Gejalanya hampir sama dengan serangan penyakit jantung, termasuk sesak dada, pusing, mual, keringat dingin, dan sesak napas.

Ketika seorang pasien mengalami “patah hati”, ventrikel kiri menjadi lebih lemah dan mengurangi kemampuan untuk memompa darah, sehingga terjadi gejala angina dan sesak napas.

(Foto:Adobe Stock)

Namun, “gejala yang mirip dengan serangan jantung” ini tidak sama dengan penyakit jantung, karena pembuluh darah pasien lancar dan tidak terjadi penyumbatan aliran darah.

Selain itu, apeks ventrikel kiri pasien akan menjadi bentuk balon yang unik, yang terlihat seperti wadah perangkap khas Jepang yang digunakan untuk menangkap cumi-cumi yakni “Takotsubo”, yang menjadi nama penyakit ini. Diberi nama demikian karena bentuk jantung para penderita menggelembung menyerupai perangkap cumi-cumi.

Sejenis wadah Jepang yang digunakan untuk menangkap cumi-cumi (Foto: Wikipedia)

Para dokter percaya bahwa hal itu disebabkan peningkatan hormon yang mendadak seperti adrenalin, yang menyebabkan jantung dalam kondisi “koma”, menyebabkan otot-otot ventrikel melemah dengan cepat dan berubah bentuk, tidak dapat berkontraksi dengan baik.

Kondisi ini mungkin dapat terjadi selama beberapa jam, atau bahkan beberapa minggu! Secara umum, “patah hati” hanyalah gejala jangka pendek. Namun, ada juga sebagian kecil pasien menghadapi komplikasi serius, seperti gagal jantung.

Ilustrasi.(Foto:Adobe Stock)

Sindrom patah hati memengaruhi lebih dari 3. 000 orang per tahun di Inggris. Tetapi, kadang-kadang sindrom itu menyerang beberapa orang yang belum sempat mengalami stres emosional atau kehilangan orang-orang yang disayangi terlebih dulu.

Para peneliti mempelajari peranan jantung terhadap 52 pasien sindrom Takotsubo dalam waktu 4 bulan dengan pemindai ultrasound dan MRI.

Ilustrasi. (Foto : Adobe Stock)

Studi ini menemukan bahwa beberapa sisi otot jantung tergantikan oleh sisa luka halus, yang mengurangi elastisitas jantung serta mencegahnya untuk berkontraksi dengan benar.

Prof Metin Avkiran, direktur medis di lembaga BHF – British Heart Foundation (Yayasan Jantung Inggris), mengatakan: “Penelitian ini menunjukkan bahwa pada beberapa pasien yang terpapar sindrom Takotsubo, berbagai aspek fungsi jantung tetap tidak normal sampai empat bulan kemudian.”

“Penyakit ini tidaklah selangka seperti yang kita pikirkan, dan gejala penyakit ini mungkin dapat berlangsung selama empat bulan atau lebih. Dengan teknologi saat ini, pasien mungkin tidak memiliki kesempatan untuk pulih sepenuhnya. Oleh karena itu, kita perlu menemukan pengobatan yang lebih efektif untuk penyakit yang menghancurkan ini,” tambahnya.

Ternyata sindrom “Patah hati” itu benar-benar dapat menyebabkan dampak buruk yang tak terduga terhadap jantung. Karena itu, kita harus menjaga emosi kita dengan baik, jangan sampai mengalami sindrom “patah hati” seperti tersebut di atas.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular