TAIPEI / HONG KONG — Taiwan akan meningkatkan penyelidikannya terhadap surat kabar pro-Beijing yang dituduh oleh para politisi di pulau yang diperintah sendiri tersebut karena menyebarkan berita-berita palsu dan kegiatan memata-matai yang melanggar keamanan nasional, kata seorang pejabat keamanan pada 18 Januari.

Diklaim oleh Beijing sebagai wilayah keramatnya, Taiwan adalah masalah Tiongkok yang paling sensitif, pada saat yang sama pemimpin Tiongkok Xi Jinping telah meningkatkan tekanan di pulau itu sejak tahun 2016, ketika Tsai Ing-wen yang berpihak pada pro-kemerdekaan terpilih menjadi presidennya.

Pernyataan hari Jumat tersebut menyusul setelah laporan-laporan dalam sebuah tabloid yang berbasis di Hong Kong, Wen Wei Po, yang menyetujui sikap pro-Beijing, tentang kegiatan-kegiatan beberapa aktivis pro-kemerdekaan Hong Kong yang melakukan perjalanan ke Taipei minggu lalu.

Bersamaan dengan surat kabar lain, Ta Kung Pao, tabloid tersebut dikenal karena pelaporannya yang agresif untuk memburu para aktivis kemerdekaan dan demokrasi di Hong Kong dan Taiwan.

“Mengerahkan upaya untuk kekuatan-kekuatan asing yang tidak bersahabat merupakan prioritas utama kami,” You Cheng-hua, wakil direktur unit keamanan nasional yang melapor ke Biro Investigasi Taiwan, mengatakan kepada wartawan.

“Kami telah meningkatkan penyebaran dan mengumpulkan intelijen.”

You menambahkan, “Saya juga mendesak publik dan media untuk membantu memberikan informasi apa saja tentang aktivitas-aktivitas yang mencurigakan atau ilegal.”

Dalam hubungannya dengan Taiwan yang diperkirakan akan mengadakan pemilihan presiden dalam jangka waktu sekitar satu tahun, Tsai telah memperingatkan tentang upaya-upaya Tiongkok, termasuk penyebaran “berita-berita palsu,” untuk mengganggu politik dan pemilihan domestik.

“Organisasi-organisasi media Tiongkok sedang melakukan tindakan memata-matai di Taiwan,” Lo Chih Cheng, seorang anggota parlemen dari Partai Progresif Demokratik, mengatakan kepada wartawan. “Ini telah mengungkap masalah keamanan nasional yang nyata.”

Lo, yang duduk di komite Pertahanan Luar Negeri dan Nasional Taiwan, menambahkan, “Saya khawatir bahwa ‘teror merah’ sedang terjadi di Taiwan … Mereka mengikuti orang-orang Hong Kong hari ini. Apakah mereka akan mengikuti orang Taiwan besok?”

Sebelumnya, Alex Huang, juru bicara kantor kepresidenan Taiwan, mengatakan koran Ta Kung Pao telah melakukan tindakan “melanggar hukum” melakukan tindakan memata-matai terhadap orang-orang, dan menambahkan bahwa ia menyebarkan “berita-berita palsu.”

Media-media tersebut, Ta Kung Pao dan Wen Wei Po, tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Seorang aktivis pro-kemerdekaan Hong Kong yang telah diikuti dan dilaporkan, Tony Chung, mengatakan kepada Reuters bahwa ia dan dua anggota dari kelompoknya, Student Localism, terbang ke Taiwan pada 11 Januari.

Kedua surat kabar tersebut pada hari Senin merinci pertemuan mereka, gerak-geriknya, dan bahkan buku-buku yang mereka lihat di toko buku, bersama dengan foto-foto.

“Tindakan memata-mati itu sangat serius,” kata Chung, seorang siswa sekolah menengah berusia 17 tahun. “Sangat menakutkan yang bahkan di Taiwan kami diikuti 24 jam sehari.”

Target-target media pro-Beijing tersebut juga termasuk mereka yang bukan warga negara Hong Kong atau Taiwan.

Pada bulan Desember, Wen Wei Po memuat berita halaman depan tentang seorang akademisi yang berbasis di Australia, Kevin Carrico, mengirim sebuah tim untuk membuntutinya selama kunjungan ke Hong Kong.

Carrico, yang telah melakukan penelitian tentang politik Hong Kong dan gerakan kemerdekaan, dicap sebagai “separatis” oleh surat kabar tersebut. (ran)

Video pilihan:

Tiongkok Memoles Kamp Penahanan Uighur, untuk Hindari Inspeksi Internasional

Share

Video Popular