WASHINGTON – Elit Tiongkok menyukai Presiden Donald Trump dan berharap dia dapat memberikan tekanan yang bermanfaat pada Tiongkok untuk memajukan reformasi, kata seorang peneliti top Amerika baru-baru ini.

William Overholt, seorang peneliti senior di Asia Center Universitas Harvard, berkata, “Elit Tiongkok menyukai Trump. … Elit Amerika Serikat membenci Trump dan massa mencintainya. ”Dia mengatakan di Tiongkok, para elit menyukai Trump dan massa membencinya karena alasan-alasan nasionalistik.

“Mereka menyukainya karena dia sedang terus bergerak maju menekan [pemimpin Tiongkok] Xi Jinping.”

Overholt mengatakan kepada The Epoch Times, “[Elit Tiongkok] khawatir tentang beberapa hal sedang mengalami kemunduran. Mereka pikir tekanan asing bisa sangat membantu.”

Situasinya mirip dengan apa yang pernah terjadi di Jepang, Overholt menjelaskan. Jepang “menunggu orang Amerika mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang perlu mereka lakukan.”

“Saya pikir ada banyak orang di Tiongkok, terutama di kalangan elit akademis yang melihatnya seperti itu,” kata Overholt. “Mereka berharap untuk lebih banyak reformasi dan keterbukaan. Itu adalah apa yang Xi Jinping katakan ingin dilakukan. Namun bagi banyak orang di Tiongkok dan banyak orang di luar Tiongkok, sepertinya reformasi sangat lambat dan tindakan menutup diri yang kuat.”

Overholt mengomentari elit Tiongkok di Pusat Kajian Strategis dan Internasional (Center for Strategic and International Studies – CSIS) pada 15 Januari, ketika membahas buku barunya “Crisis of Success of Tiongkok”.

Dalam bukunya, Overholt berpendapat bahwa “Tiongkok telah mencapai ambang batas di mana kesuksesan telah menghilangkan kondisi-kondisi yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan menakjubkan. Keberhasilan yang berkelanjutan membutuhkan tindakan politik dan ekonomi dengan versi yang sama sekali baru. Strategi ekonomi lama, berdasarkan ekspor dan infrastruktur, sekarang menumpuk utang tanpa menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan masyarakat Tiongkok sekarang menolak perubahan yang mengacau yang memungkinkan reformasi-reformasi lebih awal.”

Overholt membahas kelemahan ekonomi yang muncul yang kini dihadapi Tiongkok. Masalah-masalahnya termasuk pertumbuhan produktivitas yang ambruk, utang yang tinggi, kenaikan harga properti, kelaparan dan kanibalisasi sektor swasta, dan negara tidak lagi mendapatkan kontrol melalui kepemilikan industrinya.

Dia juga membahas kelemahan-kelemahan politik yang timbul, dimana mencakup tindakan mengasingkan segmen-segmen luas rakyat Tiongkok, ketika rezim Tiongkok berjuang untuk mempertahankan kekuasaan.

“Apa yang kita sedang lihat adalah sebuah partai yang sedang berusaha untuk mencengkeram setiap pemicu kecil untuk kontrol politik, segala sesuatunya,” kata Overholt. (ran)

Video pilihan:

Hati-hati..!!! Hotel di Tiongkok Penuh Kamera Tersembunyi

Share

Video Popular