LONDON — Universitas Oxford mengatakan sedang menangguhkan sumbangan-sumbangan hibah dan dana penelitian dari Huawei di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan tentang raksasa telekomunikasi Tiongkok tersebut.

Ini merupakan kemunduran lain untuk citra Huawei di Eropa, pasar penting bagi perusahaan tersebut, yang telah secara efektif diblokir di AS karena kekhawatiran teknologinya menimbulkan risiko keamanan siber. Sekarang sedang menghadapi peningkatan pengawasan di Eropa, di mana ia telah berharap dapat memainkan peran utama dalam membangun jaringan seluler generasi kelima yang baru, 5G.

Universitas memutuskan pada 8 Januari bahwa “tidak akan berusaha memperolah peluang-peluang pendanaan baru” dengan Huawei atau perusahaan-perusahaan terkait, katanya dalam sebuah pernyataan pada 17 Januari.

Keputusan tersebut, dimana berlaku untuk pendanaan kontrak-kontrak penelitian maupun sumbangan-sumbangan hibah, dibuat “berdasarkan kekhawatiran-kekhawatiran publik yang timbul dalam beberapa bulan terakhir” sekitar kemitraan UK dengan perusahaan tersebut.

Dua proyek penelitian yang sekarang sedang berlangsung senilai 692.000 pound (US$895.000) akan berlanjut, katanya.

“Kami berharap masalah ini dapat diselesaikan segera dan mencermati kesediaan Huawei sendiri untuk meyakinkan pemerintah tentang peran dan kegiatan-kegiatannya,” kata universitas.

Huawei mengatakan “tidak diberitahu tentang keputusan ini” dan menunggu penjelasan penuh dari universitas.

Sekretaris pertahanan Inggris dan kepala intelijennya keduanya telah menyuarakan keprihatinan bulan lalu tentang keterlibatan Huawei dalam peluncuran jaringan 5G di negara tersebut.

Masalah-masalah Huawei sedang meluas di tempat lain di Eropa. Perusahaan itu telah memecat direktur penjualan di Polandia minggu lalu setelah pihak-pihak berwenang di sana menangkapnya atas tuduhan mata-mata untuk Tiongkok. Republik Ceko telah memperingatkan agar tidak menggunakan peralatan Huawei karena kekhawatiran akan keamanan dan Norwegia memikirkan kembali peran perusahaan tersebut di dalam jaringan-jaringan telekomunikasinya.

Pendiri Huawei Ren Zhengfei mengatakan dalam sebuah wawancara yang jarang terjadi bahwa perusahaannya tidak pernah menerima permintaan dari pemerintah untuk mengirimkan informasi yang melanggar peraturan-peraturan apa pun.

Ren, seorang mantan insinyur militer dan anggota Partai Komunis saat ini, mengatakan perusahaannya “tidak akan menanggapi” permintaan-permintaan dari rezim Tiongkok untuk menyerahkan informasi, Wall Street Journal melaporkan.

Ren tidak memberikan detail tentang bagaimana perusahaan tersebut akan menolak permintaan dari Partai Komunis Tiongkok (PKT). Akan tetapi di bawah undang-undang keamanan nasional Tiongkok, semua perusahaan yang beroperasi di negara tersebut diwajibkan untuk memberikan hak-hak kendali atas datanya jika diminta. Konsep keamanan nasional didefinisikan secara luas yang mencakup ancaman-ancaman terhadap kontrol otoriter PKT, termasuk opini-opini kritis tentang Partai tersebut.

Kepala keuangan Huawei, Meng Wanchou, yang merupakan putri Ren, sedang melawan permintaan AS agar dia diekstradisi dari Kanada dengan tuduhan terkait pelanggaran sanksi-sanksi Iran. (ran)

Video pilihan:

Huawei dan Ancaman Mata-mata Tiongkok

Share

Video Popular