SHENZHEN, Tiongkok — Seorang ilmuwan Tiongkok yang mengklaim telah menciptakan bayi-bayi “yang telah diubah gennya” yang pertama di dunia telah mengabaikan pengawasan dan melanggar batas etika dalam upaya mencari ketenaran dan kekayaan, media pemerintah mengatakan pada 21 Januari, bahwa universitas tempat dia bekerja telah memecatnya.

He Jiankui mengatakan pada bulan November bahwa dia telah menggunakan teknologi pengeditan gen yang dikenal sebagai CRISPR-Cas9 untuk mengubah gen-gen embrio dari gadis kembar yang lahir bulan itu, sedang memicu kemarahan internasional tentang etika dan keamanan dari penelitian seperti itu.

Ratusan ilmuwan di seluruh dunia mengecam He dan mengatakan setiap penerapan pengeditan gen pada embrio manusia untuk keperluan reproduksi tidak etis.

Otoritas Tiongkok juga mencela He dan mengeluarkan perintah penghentian sementara kegiatan penelitian yang melibatkan pengeditan gen-gen manusia tersebut.

Sebuah laporan oleh media yang dikelola pemerintah Xinhua mengutip temuan baru-baru ini dari penyelidikan oleh otoritas kesehatan setempat, di mana ditemukan bahwa dia “sengaja menghindari pengawasan” dan mengumpulkan dana sendiri untuk melakukan prosedur tersebut untuk “mencari ketenaran dan keuntungan pribadi,” menambahkan bahwa dia telah memalsukan makalah-makalah permohonan kelayakan etika untuk mendapatkan sukarelawan demi prosedur tersebut.

Southern University of Science and Technology (SUSTech) di kota Shenzhen, mengatakan dalam sebuah pernyataan di situs webnya bahwa dia telah dipecat.

“Secara efektif secepatnya, SUSTech akan membatalkan kontrak kerja dengan Dr. He Jiankui dan mengakhiri semua kegiatan pengajaran dan penelitiannya di SUSTech,” kata pernyataan tersebut.

Meskipun pihak-pihak berwenang Tiongkok secara konsisten telah membantah keterlibatannya, foto-foto “Formulir Permohonan Tinjauan Kelayakan Etika” milik He telah beredar secara online. Terlihat di foto tersebut ada cap resmi dari Rumah Sakit Wanita dan Anak Shenzhen Hemei dan tanda tangan dari tujuh anggota Komite Etika.

Sementara itu, para pengamat Tiongkok juga mengatakan bahwa proyek mahal seperti itu tidak akan mungkin terjadi tanpa dukungan dari otoritas-otoritas tingkat tinggi, terutama ketika SUSTech mengatakan bahwa He sedang cuti yang tidak dibayar sejak Februari 2018.

Sebuah acara TV khusus pada bulan September 2018 di stasiun televisi negara Tiongkok juga telah menyoroti dan memuji penelitian genetika He.

Baik He maupun perwakilan tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar pada 21 Januari. Dia membela tindakannya di sebuah konferensi di Hong Kong pada bulan November, dengan mengatakan bahwa dia “bangga” dengan apa yang telah dia lakukan dan bahwa pengeditan gen akan membantu melindungi bayi-bayi perempuan itu dari terinfeksi HIV, virus yang menyebabkan AIDS.

Para ahli internasional dalam ilmu genetika mengatakan bahwa mereka berharap laporan 21 Januari itu hanya hasil awal penyelidikan He dan bahwa lebih banyak tindakan akan diambil.

“Laporan tersebut diharapkan akan memberikan contoh dengan tindakan-tindakan hukum dan hukuman yang sesuai untuk meyakinkan masyarakat dan komunitas ilmiah,” kata Yalda Jamshidi, seorang pakar genomik di Universitas London London.

Pengumuman He telah mencetuskan perdebatan di antara para sarjana hukum Tiongkok tentang hukum mana yang secara teknis telah ia langgar dengan menjalankan prosedur tersebut, serta apakah ia dapat dianggap bertanggung jawab secara pidana atau tidak.

Banyak sarjana menunjuk pada pedoman tahun 2003 yang melarang embrio-embrio manusia diubah dari mulai ditanam untuk tujuan reproduksi, dan mengatakan embrio yang diubah tidak boleh dikembangkan selama lebih dari 14 hari.

Helen O’Neill, seorang ahli ilmu reproduksi di University College London, mengatakan dia khawatir bahwa laporan yang telah diberikan “tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang tindakan apa yang akan diambil untuk mencegah hal ini terjadi di masa depan, atau apa yang akan dilakukan sebagai hukuman.” (ran)

Video pilihan:

Kasus HIV AIDS Baru Melonjak di Tiongkok

Share

Video Popular