oleh Su Jinghao

Beijing terus berharap mata uangnya Renminbi dapat menjadi mata uang internasional untuk menantang Dolar AS yang selalu mendominasi pasar global. Namun, setelah krisis zona Euro dan perlambatan ekonomi Tiongkok akhir-akhir ini, dominasi global Dolar AS justru lebih stabil dari waktu sebelumnya, membuat mata uang lain tak tertandingi. Data ekonomi terbaru juga menggambarkan hal ini.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa Dolar AS tidak hanya mata uang cadangan utama yang dipegang oleh bank sentral sejumlah negara, tetapi juga ada di mana-mana dalam perdagangan dan pasar modal internasional, dan sangat penting untuk stabilitas ekonomi negara-negara berkembang.

Selain itu, karena kebutuhan untuk memasuki sistem keuangan global perlu terlebih dahulu melalui sistem perbankan AS. Status Dolar AS juga memberikan kepada pemerintah AS kemampuan untuk mencegah masuknya beberapa negara dan organisasi ke dalam sistem keuangan dunia.

Iran, Tiongkok, Rusia dan negara-negara lain merasa tidak puas dengan hal ini dan selalu ingin menantang status global dari Dolar AS. Uni Eropa juga berharap untuk meningkatkan status Euro. Namun, setelah zona Euro dalam krisis dan perlambatan ekonomi Tiongkok akhir-akhir ini, keuntungan internasional dari Dolar AS semakin kuat dari waktu sebelumnya.

Status “hegemoni” Internasional dari Dolar AS Hampir Tidak Dapat Diguncang

Wall Street Journal melaporkan bahwa Catherine Schenk, seorang sejarawan ekonomi dari Universitas Oxford mengatakan : “Kami telah melihat pemulihan yang dominan dari Dolar AS dalam utang lintas batas serta perannya sebagai mata uang cadangan sejumlah negara.”

Ia mengatakan, hal ini tidak saja akibat dari pelemahan mata uang Eropa dan perlambatan internasionalisasi Renminbi, tetapi juga akibat dari potensi keuntungan dari Dolar AS itu sendiri.

“Di masa yang tidak pasti seperti hari ini, likuiditas pasar menjadi lebih penting,” kata Catherine Schenk.

BACA JUGA : Akankah Tiongkok Menggerakkan Ekonomi Dunia pada Tahun 2019 ?

Menurut data dari Bank for International Settlements, bahwa obligasi dalam Dolar AS yang diterbitkan oleh pemerintah dan perusahaan non-AS telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak pertengahan tahun 2008 hingga akhir 2018, naik dari USD. 4,299 triliun menjadi USD. 9,564 triliun. Obligasi internasional dalam mata uang lainnya telah menyusut dari USD. 6,129 triliun menjadi USD. 5,672 triliun. Mata uang Euro dalam pangsa cadangan global juga menurun dari 28 % pada tahun 2009 menjadi 20,5 % pada kuartal ketiga tahun 2018.

Pada Senin (21/1/2019), Dolar AS berada di kisaran level tertinggi dalam dua minggu terakhir, sementara nilai tukar Renminbi terhadap Dolar AS ditutup turun hampir 200 poin ke level terendah dalam dua pekan ini, jatuh ke harga USD.1 = RMB. 6,79.

Pedagang mengatakan bahwa indeks Dolar AS jangka pendek sedang menguat sementara mata uang non-Dolar AS melemah, ditambah lagi dengan melemahnya PDB Tiongkok yang baru dirilis oleh pihak berwenang Tiongkok.

Pada Senin, tingkat pertumbuhan PDB resmi Tiongkok pada tahun 2018 mencapai paling rendah dalam 28 tahun terakhir, dan tingkat pertumbuhan pada kuartal keempat adalah yang terendah dalam hampir 10 tahun terakhir. Hal ini memberikan tekanan pada fundamental Renminbi. Pada saat yang sama, perhitungan saldo devisa bulanan dan cadangan devisa berada pada angka yang lebih tinggi (akibat melemahnya mata uang Renminbi) sehingga memberikan dampak pada pasar.

Reuters melaporkan bahwa karena perang dagang antara AS – Tiongkok menunjukkan tanda-tanda mereda dan data produksi industri AS yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya, sehingga Dolar AS mencatat kenaikan pertamanya sejak pertengahan bulan Desember tahun lalu. Indeks Dolar AS stabil di 96,308 pada hari Senin dan sempat naik ke 96,394 tertinggi pada hari Jumat (4 Januari).

BACA JUGA : Dampak Perang Dagang di Tiongkok, Jutaan Pekerja di-PHK dan Sebagian Besar Pabrik Hengkang

Esther Maria Reichelt, ahli strategi valuta asing dari Commerzbank di Frankfurt mengatakan Dolar AS saat ini diuntungkan sebagai mata uang pengaman (safe haven).

“The Fed dapat menyediakan penyangga untuk ekonomi yang lebih lemah melalui langkah-langkah kebijakan moneter … melindungi AS dari tekanan melemahnya ekonomi global dan menjadikan Dolar AS tetap sebagai mata uang pilihan.”

Internasionalisasi RMB Sulit Dilakukan Akibat Rezim Mengendalikan Secara Berlebihan

The Wall Street Journal melaporkan bahwa di sisi lain, pihak berwenang Tiongkok selama bertahun-tahun terus berusaha untuk mempromosikan internasionalisasi Renminbi, termasuk mendorong transaksi Renminbi lepas pantai dan peluncuran kontrak minyak dengan mata uang Renminbi baru-baru ini.

Meskipun Renminbi telah mendapatkan tempat dalam mata uang cadangan IMF, tetapi ekonom dan investor telah menegaskan sebagai rangkaian benar-benar menginternasionalisasikan Renminbi, maka Beijing harus memungkinkan dana mengalir lebih bebas di pasar Tiongkok dan internasional.

Pada tahun 2015, Renminbi menyumbang 2,8 % dari total volume transaksi global. Setelah itu menurun dengan cepat. Pada bulan Oktober 2018, hanya tinggal 1,7 % yang tersisa, dan di dalam pasar domestik, hanya 13 % dari perdagangan dilakukan dengan mata uang Renminbi, yang merupakan setengah dari transaksi perdagangan tahun 2015.

Selain itu, selama periode tahun 2015-2016, pemerintah Tiongkok membatasi investasi asing karena terjadi arus keluar modal secara besar-besaran. Saat ini, karena perlambatan pertumbuhan ekonomi dan akibat pagu tariff AS, pemerintah Tiongkok juga tidak akan melonggarkan kontrol, sehingga masuk keluarnya dana dari dan ke Tiongkok semakin sulit.

BACA JUGA : Ketika Fenomena Krisis Ekonomi Bermunculan, Menunjuk Janji Reformasi Xi Jinping

Data ekonomi yang memburuk jelas mempengaruhi mata uang Renminbi. Data FTSE menunjukkan bahwa pasar obligasi Renminbi di lepas pantai telah menyusut, data dari jaringan perbankan Swift menunjukkan bahwa pangsa Renminbi dalam pembayaran internasional terus menurun.

Claire Dissaux, kepala ekonomi dan strategi global di Millennium Global Investment Corporation mengatakan : “Pihak berwenang Tiongkok masih saja disibukkan dalam mengatasi masalah pengendalian modal dan masih memiliki keraguan tentang kredibilitas terhadap institusi mereka sendiri, sehingga tidak realistis kalau mata uangnya ingin dijadikan sebagai mata uang cadangan.”

Mitra Usaha Lebih Suka Bertransaksi dengan Dolar AS, Proyek OBOR Saja Tak Mampu Menasionalisasi RMB

Pada saat yang sama, proyek One Belt One Road (OBOR) yang beromzet sekitar USD. 1 triliun, dan Beijing berharap dapat menggunakan kesempatan ini untuk menginternasionalkan Renminbi. Beberapa orang bahkan menyamakan proyek OBOR dengan Rencana Marshall AS (The Marshall Plan).

Analisis ‘Financial Times’ mengatakan bahwa sebagian besar proyek OBOR masih dihitung dengan mata uang AS, dan melalui proyek OBOR, RMB juga belum memperoleh tiga fungsi yang diperlukan sebagai mata uang internasional : unit penetapan harga, media perdagangan dan penyimpanan nilai.

Laporan itu memperingatkan bahwa sebagian besar mitra dagang yang terlibat dalam proyek OBOR lebih suka menerima Dolar AS ketimbang Renminbi, ini yang memungkinkan bank sentral Tiongkok untuk melepaskan sejumlah besar cadangan devisa.  Walaupun cadangan devisa mereka masih berlimpah, tetapi tidak mungkin tanpa batas.

Pakar Citibank mengatakan bahwa kemampuan Tiongkok untuk mencapai target OBOR terbatas, dan pemerintah Tiongkok tidak dapat terhindar dari situasi yang dikendalikan oleh Dolar AS.

Wall Street Journal bahkan melaporkan bahwa The Marshall Plan pada saat itu diluncurkan untuk sepenuhnya memenuhi kebutuhan mendesak akan Dolar AS di Eropa. Akan tetapi, debitur proyek OBOR berbeda, karena mereka tidak perlu atau tidak ingin memiliki begitu banyak mata uang Renminbi. (Sin/asr)

Share

Video Popular