Erabaru.net. Ada seorang anak laki-laki bernama Xiao Le, sebelum lahir dia sudah dicampakkan ayahnya. Ibunya melahirka dan membesarkannya seorang diri dengan susah payah hingga tumbuh dewasa, dan mereka berdua tinggal di sebuah desa.

Xiao Le tidak mengecewakan upaya keras ibunya dan juga tidak pernah merepotkannya. Sejak kecil hingga tumbuh dewasa ia adalah anak yang berbakti.

Setelah kariernya stabil dan punya keluarga sendiri, ia membawa ibunya ke kota untuk tinggal bersama dan menikmati masa tuanya.

Sementara itu, istrinya juga sangat berbakti kepada ibunya, sayangnya, ibu Xiao Le terlalu keras bekerja sejak melahirkan Xiao Le, sehingga menyebabkannya sering jatuh sakit di masa tuanya.

Sadar dengan hari-hari yang akan dilaluinya tidak banyak lagi, sang ibu meminta Xiao Le agar membawanya kembali ke kampung halamannya.

Xiao Le dan istrinya mengundurkan diri dari pekerjaan mereka dan tinggal di kampung menemani masa-masa terakhir bersama ibu mereka sampai dia pergi untuk selamanya dengan tenang.

Setelah memakamkan ibunya, Xiao Le kembali ke kota bersama istrinya, dan pasutri ini kemudian membuka sebuah kedai makan kecil-kecilan.

Mungkin karena diberkati ibunya, usaha Xiao Le berkembang pesat dan kedai makannya yang kecil kini semakin besar.

Pada peringatan pertama kematian ibunya, Xiao Le tampak sibuk dengan kedainya, sementara istrinya juga tengah hamil, jadi dia tidak sempat ziarah ke makam ibunya.

Setelah anaknya lahir, Xiao Le memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya dan ziarah di pusara ibunya. Istrinya yang pengertian dan tahu suaminya adalah anak yang berbakti hanya menitipkan do’a terbaik untuk almarhumah ibu mertuanya.

Xiao Le melihat banyak rumput liar di sekeliling pusara ibunya. Dia pun segera membersihkannya dan menyalahkan dirinya yang tidak segera pulang waktu itu.

Saat sedang membersihkan pusara ibunya, tiba-tiba dia melihat sebuah kuburan di sebelahnya dan membuatnya terkejut, karena di batu nisan itu terukir namanya. Dia melihat lebih dekat dan ternyata beda marga, “tetangga” ibunya itu bermarga Yang dengan nama yang sama, Xiao Le.

Melihat makam itu juga dipenuhi dengan rumput liar, Xiao Le pun berpikir mungkin kerabatnya belum sempat ziarah ke makamnya, jadi dia sekalian membantu membersihkannya.

“Meski kita tak saling mengenal, tapi aku harap kamu bisa membantu menjaga ibuku di alam sana. Aku akan membakar sedikit uang kertas untukmu, dan aku akan membeli lebih banyak lagi di lain kesempatan,”gumam Xiao Le sambil membersihkan makamnya.

Xiao Le menunggu sampai Matahari terbenam di makam ibunya, ketika melihat langit mulai gelap, dan karena khawatir dengan istrinya dan anaknya di rumah, Xiao Le bermaksud pulang ke kota malam itu juga, dia mengambil jalan pintas di jalan pegunungan yang terjal, agar bisa tiba di stasiun dengan cepat.

Saat sedang berjalan dalam kegelapan, sayup-sayup Xiao Le mendengar seseorang mengerang di belakangnya. Dia berbalik ke arah sumber suara dan melihat seorang kaki seorang pria terluka. Xiao Le segera merobek lengan bajunya dan membalut luka si pria yang tak dikenalnya itu.

Pria itu mengucapkan terima kasih pada Xiao Le dan berkata sambil menunjuk di belakangnya :”Anak muda, kenapa kamu berjalan ke sana? Ujung dari jalan itu adalah jurang, yang akan membuat kamu jatuh ke dalam jurang yang dalam. Sebaiknya kamu berjalan ke arah ini saja.”

Xiao Le terkejut dan berkeringat dingin mendengar perkataan pria itu, dan sangat berterima kasih pada orang itu karena telah mengingatkan. Dia segera mengubah jalannya dan jalan yang dilaluinya itu memang lebih datar dan nyaman. Untung saja ada petunjuk dari pria itu, jika tidak entah apa jadinya, gumam Xiao Le.

Setelah berjalan cukup jauh, Xiao Le tiba-tiba mendengar suara pria yang tadi ditolongnya: “Anak muda, kamu adalah orang yang baik dan berbakti. Terima kasih atas uang kertasmu. Jangan khawatir, saya akan menjaga ibumu disana.”

“Ingat, tidak peduli sesulit apa pun, orang baik pasti akan mendapat balasan baik,” lanjutnya kemudian hening kembali.

Ketika Xiao Le menoleh ke belakang, pria itu telah lenyap entah kemana.

Yakinlah, selalu berbuat baik dengan tulus tanpa pamrih, dan peduli pada orang lain, pasti akan mendapatkan balasan baik yang setimpal pada akhirnya. Karena itu, tidak ada salahnya selalu berbuat baik untuk siapa pun, inilah modal yang bisa kita bawa saat berpulang kepada-Nya nanti !(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular