“Gaya hidup seperti Buddha,” atau “fo xi” dalam bahasa Mandarin, adalah istilah yang dibuat sekitar tahun 2017 yang menggambarkan filosofi kehidupan yang semakin banyak diadopsi oleh anak-anak muda Tiongkok: tidak memiliki keinginan, tidak mencampuri urusan orang lain, tidak ambisius untuk mencapai apa pun, maupun tidak peduli untuk menyenangkan orang lain.

Dong Zhenhua, seorang profesor di Pusat Sekolah Partai Komunis Tiongkok, lembaga terkemuka untuk melatih para kader, menulis sebuah artikel yang mengkritik gaya hidup “fo xi” yang diterbitkan 20 Januari di People’s Forum, sebuah majalah yang dicetak oleh koran corong Partai, Harian Rakyat (People’s Daily).

Banyak outlet media yang dikelola pemerintah menerbitkan kembali artikel tersebut di situs-situs web mereka.

Dong, yang juga adalah wakil direktur departemen pendidikan filsafat Sekolah Partai, menulis bahwa gaya hidup “fo xi” akan mengarahkan orang untuk “melepaskan prinsip-prinsip mereka dan mengikuti yang lain.”

“Kurangnya keinginan untuk mengejar impian mereka,” orang-orang ini akan kehilangan motivasi dalam hidup, dan kemudian “kurang peduli tentang hukum dan peraturan,” klaim Dong.

Dia menyarankan kaum muda untuk tidak mengambil gaya hidup itu. “Efek buruk dari mentalitas ‘fo xi’ tidak dapat diabaikan,” tulis Dong.

Rezim Tiongkok baru-baru ini meningkatkan upaya untuk mengatur pilihan-pilihan gaya hidup masyarakat.

Sehari sebelum artikel Dong diterbitkan, muncul berita bahwa iQiyi, platform video online yang mirip dengan Netflix, telah mulai menyensor foto-foto selebritas pria yang mengenakan anting-anting saat tampil di program televisi atau video. Anting-antingnya diburamkan.

Aktor dan rapper Tiongkok Kris Wu
Aktor dan rapper Tiongkok Kris Wu menghadiri acara Louis Vuitton Menswear Fall / Winter 2019-2020 sebagai bagian dari Paris Fashion Week pada 17 Januari 2019. Selebriti pria yang mengenakan anting-anting yang diburamkan baru-baru ini oleh platform video online iQiyi. (Pascal Le Segretain / Getty Images untuk Louis Vuitton)

Meskipun para pejabat membantah bahwa ada larangan, tidak biasa bagi perusahaan media untuk terlibat dalam sensor tanpa beberapa bentuk instruksi dari otoritas Tiongkok.

Faktanya, media pemerintah Xinhua pernah menerbitkan sebuah komentar pada September 2018 yang mengkritik fenomena pria yang memilih untuk tampak dan bertingkah laku seperti wanita. “Dari ‘muda’ menjadi ‘cantik’ dan, akhirnya, ‘banci’ adalah perkembangan estetika yang tidak normal.”

Aktivis terkemuka yang bermarkas di Beijing, Hu Jia, mengatakan kepada Radio Free Asia mengapa lebih banyak anak muda yang mengadopsi filosofi “fo xi”. Dalam masyarakat yang menekankan latar belakang keluarga dan status sosial seseorang, banyak anak muda percaya bahwa tidak peduli sekeras apa pun mereka berusaha, mereka tidak memiliki sumber daya atau pengaruh yang dimiliki pangeran mahkota partai (keturunan pejabat senior komunis terkemuka dan berpengaruh) atau elit kaya.

“Anggota keluarga yang kuat dan kaya memimpin politik dan ekonomi,” kata Hu. “Tidak cukup bagi seseorang mempunyai kemampuan. Bagi perusahaan swasta, mustahil bagi mereka untuk mempertahankan lingkungan yang adil dan kompetitif.”

Hu menambahkan bahwa rejim Tiongkok tidak membiarkan kehidupan “fo xi”, yang tidak memiliki rasa khawatir, karena ia menginginkan warga negara “berpura-pura sangat bahagia dan sangat bangga dengan sistem komunisnya.”

Tang Jingyuan, seorang komentator yang berbasis di AS pada The Epoch Times edisi bahasa Mandarin mengatakan bahwa filosofi “fo xi” juga tidak cocok dengan ideologi Komunis.

“Dengan cara tersamar, gaya hidup seperti ini sedang menentang pembatasan-pembatasan yang dilakukan rezim Tiongkok terhadap masyarakat,” kata Tang dalam sebuah wawancara pada 23 Januari. “Orang-orang ini menggunakan cara yang lembut dan pasif untuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka pada pemerintah.” (ran)

Video pilihan:

Kacau Balaunya Bhikhu Model Komunis Tiongkok

Share

Video Popular