Rezim Tiongkok terus memperketat cengkeramannya atas internet negara tersebut dengan menutup ratusan situs web dan ribuan aplikasi, dan memilih untuk fokus pada aplikasi berita raksasa internet Tencent Holdings untuk menyebarkan “konten vulgar.”

Dalam tiga minggu pertama tahun ini, lembaga siber Tiongkok, Cyberspace Administration of China (CAC), telah menghapus lebih dari 7 juta informasi online yang dianggap “berbahaya”, dan menghapus 9.382 aplikasi seluler serta 733 situs web, kata regulator internet tersebut dalam sebuah pernyataan 23 Januari.

Langkah ini merupakan bagian dari kampanye enam bulan polisi dunia maya (siber) yang diluncurkan pada tahun baru untuk membersihkan “informasi vulgar” dari internet.

Aplikasi berita milik Tencent, Tiantian Kuaibao, yang diterjemahkan menjadi “berita harian cepat,” telah dipanggil karena menyebarkan “informasi vulgar dan tidak intelektual yang berbahaya dan merusak ekosistem internet,” dan diperintahkan untuk melakukan perubahan-perubahan. Lembaga tersebut tidak memberikan contoh-contoh spesifik konten yang kasar dan memuakkan.

Tiantian Kuaibao mengatakan akan beroperasi sesuai dengan hukum dan memenuhi semua persyaratan, lapor The Wall Street Journal.

Lembaga tersebut juga mengkritik Huaban, sebuah jejaring sosial berbagi foto, karena memiliki “masalah ekosistem yang serius.” Laman web Huaban saat ini menampilkan pemberitahuan, mengatakan bahwa layanan daring (online)-nya telah diturunkan sementara waktu untuk perbaikan.

Pengawas siber secara berkala mengumumkan tindakannya untuk menyensor web. Pada Desember 2018, pengawas siber telah menghapus 110.000 akun media sosial karena menyebarkan apa yang dikatakannya sebagai informasi berbahaya.

Dua bulan sebelumnya, CAC telah membersihkan 9.800 akun media sosial, termasuk yang dimiliki oleh para influencer terkenal (akun yang mempunyai pengikut yang banyak karena opini, saran dan rekomendasinya dihormati), karena dianggap melakukan pelanggaran-pelanggaran menyebarkan informasi yang berbahaya secara politis dan memalsukan sejarah Partai Komunis Tiongkok.

KONTROL INTERNET

Rezim Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan upayanya untuk mengendalikan internet, ketika rezim komunis berusaha untuk menekan suara-suara yang berbeda pendapat di kancah media sosial negara yang selalu ramai.

Baru-baru ini, sensor telah membidik video-video pendek, format media sosial yang sangat populer yang menawarkan lebih dari 100 juta pengguna setiap hari di Tiongkok. Sebuah asosiasi internet yang didukung pemerintah bulan ini telah menerbitkan daftar tentang 100 jenis konten yang dilarang, dari mulai membuat lelucon mengenai pemimpin-pemimpin partai komunis sampai video-video yang mempromosikan “pemujaan terhadap uang,” yang mana platform-platform video pendek, seperti aplikasi populer Bytedance, Douyin dan Kuaishou, diharuskan untuk menyensor.

Raksasa pencarian internet Tiongkok, Baidu Inc. dan Sohu.com, juga telah dipanggil pada awal Januari untuk menangguhkan berbagai layanan berita.

Namun bukan hanya internet domestik negara tersebut yang sangat dibatasi; rezim juga telah memperketat kendali pada aktivitas media sosial di luar Great Firewall-nya. Great Firewall mengacu pada perangkat sensor internet Tiongkok yang mencakup pemblokiran situs-situs web asing dan menyensor konten yang dianggap tidak diinginkan oleh Partai Komunis Tiongkok.

Dalam beberapa bulan terakhir, otoritas Tiongkok telah menargetkan warga Tiongkok di Twitter, yang hanya dapat diakses dengan menghindari Firewall. Beberapa aktivis dan influencer Twitter telah ditangkap dan diinterogasi oleh polisi setempat, sementara yang lain dipaksa menghapus tweet mereka dan menutup akun mereka.

Pada bulan Desember, polisi mendenda dua netizen Tiongkok yang menerobos Great Firewall karena mengakses situs-situs web internasional yang diblokir. (ran)

Video pilihan:

“Bom Maya” Tiongkok yang Mengkhawatirkan

Share

Video Popular