Erabaru.net. Taylor lahir di Iowa, AS, setelah lulus SMA dia bekerja sebagai penjinak bom di Angkatan Laut AS. Taylor yang saat itu berusia 23 ditugaskan ke Afghanistan.

Setelah bertahun-tahun mengikuti pelatihan, Taylor dan rekan-rekannya melakukan misi pembersihan bom di provinsi Kandahar di Afghanistan, namun, mereka secara tidak sengaja menginjak ranjau, menyebabkan anggota badanmnya hancur.

“Saya tahu ketika menginjak sesuatu, kemudian terdengar ledakan itu, saya melihat kaki saya terbang, “kata Taylor mengenang masa-masa menegangkan itu.

Saat kejadian itu, Taylor tidak kehilangan kesadaran. Meskipun ada kemungkinan akan tewas karena pendarahan yang berlebihan, tapi Taylor sempat melarang staf medis yang datang agar tidak mendekat, sampai petugas penjinak bom mengamankan daerah di sekitarnya.

Dia menatakan: “Jika ada ranjau lain di sana, staf medis juga akan bisa terkena bom.”

Meskipun dia kehilangan tangan dan kakinya, tapi hal itu tidak membuatnya putus asa. Dia tetap optimis untuk hidup seperti orang normal.

Setelah Taylor mengalami hal yang menyakitkan itu, satu-satunya orang yang memberinya keberanian untuk bertahan hidup adalah seorang gadis bernama Danielle.

Keduanya mulai jatuh cinta sejak SMA, dan meskipun sekarang Taylor kehilangan kaki dan tangannya, Danielle tetap setia menemaninya. Danielle dengan tulus setia merawat Taylor.

Di medan perang di Afghanistan, Taylor selalu energik dan ceria. Dia sering menelepon pacar dan ibunya. Ia membayangkan kembali hidup di Amerika dalam beberapa bulan ke depan, namun hal tragis yang tak terduga terjadi, ia tak sengaja menginjak ranjau yang membuatnya kehilangan kedua kaki, lengan kiri, dan tangan kanannya

Entah berapa banyak kawan seangkatannya yang terluka atau bahkan tewas. Tetapi ini adalah pilihannya, dan kekasihnya sekarang harus merawatnya. Sebaiknya kita renungkan, tidak ada pemenang abadi dalam perang, perang itu sangat kejam.

Ketika ditanya apa harapan lainnya, Taylor mengatakan bahwa impian terbesarnya adalah: Hidup tentram bersama wanita tercinta di pondok bambu di hutan.

Setelah mimpi Taylor diungkapkan di media, orang-orang pun menyumbangkan uang kepadanya melalui organisasi dan jaringan penggalangan dana untuk membantunya mewujudkan mimpinya, hidup tenang bersama sang kekasih dengan membangun sebuah rumah kayu di tepi danau di hutan.

Hanya dalam beberapa hari, orang-orang yang menyumbangkan dana untuknya telah mencapai 230.000 dolar AS (sekitar Rp 3.2 miliar) dan masih terus meningkat.

Danielle mendorong kursi roda menemaninya menikmati indahnya Matahari terbenam dan senyum manis masih selalu tersungging di wajah mereka.

Teman-teman Danielle berkata: “Danielle adalah sesosok wanita yang luar biasa. Dia meninggalkan pekerjaan dan segalanya, dan langsung menemani Taylor di rumah sakit.

Tetapi dia benar-benar orang yang suka iseng, dia membantu Taylor mengerjai teman-temannya. Dia juga membantu Taylor mencuri dua barel es krim dari freezer rumah sakit. Dialah yang membantu Taylor kembali ke sosoknya seperti di masa lalu.

Tampak dalam gambar Dabielle berusaha membantu kekasihnya untuk tetap optimis dan semangat seperti dulu.

Ketika melihat pria yang tak bertangan dan kaki itu digendong kekasihnya, orang-orang pun tercengang dan tersentuh oleh ketegaran dua sejoli itu.

Meski kehilangan tangan dan kakinya, dia dan kekasihnya tetap bisa mengabadikan foto mesra mereka dan masih bisa tersenyum ceria.

Dalam proses rehabilitasi di rumah sakit, Danielle selalu dengan setia menemani Taylor . Menurut cerita teman-teman Taylor, matanya seketika bersinar ketika melihat kehadiran Danielle di rumah sakit, dia sangat mengagumi wanita cantik yang selalu setia menemaninya itu.

Saat sebelum mengenakan lengan palsu, Danielle tanpa banyak bicara langsung menggendong Taylor saat dia ingin keluar jalan-jalan.

Tampak dalam gambar Danielle membantunya latihan pemulihan.

Gambar bawah ini menunjukkan saat Taylor mengenakan prostetik (alat bantu anggota badan), Danielle akan membantu Taylor untuk sekadar jalan-jalan. Hal-hal sederhana akan terasa penuh dengan kebahagiaan saat dilakukan dengan tulus.

Itu bukan lagi cinta di antara dua kekasih, tetapi mempersembahkan cerita mereka untuk kehidupan yang lebih baik pada orang-orang di sekitar mereka.

Terima kasih atas kemunculan mereka, membuat sisi gelap dunia ini sedikit berkurang dan lebih banyak harapan.

Di bawah bantuan kekasihnya, Taylor berusaha keras melatih fisiknya, dan hidup seperti orang normal setelah memakai anggota badan palsu.

Keduanya akhirnya menapak ke karpet pernikahan dan mendapat pemberkatan do’a dari kerabat handai tolan dan teman-teman.

Foto terakhir diabadikan pada momen Matahari terbenam. Taylor digendongDanielle berdiri di pasir putih. Hidup mereka tidak pernah kehilangan harapan.

“Taylor masih Taylor yang dulu yang kita kenal dan cintai. Proses pemulihannya akan berlangsung lama dan sulit, tetapi itu jelas bukan masalah bagi Taylor yang tegar dan memiliki tekat yang kuat. Dan kita pasti akan menjadi lebih baik dan baik lagi” kata Danielle.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular