Li Muyang

Perdana Menteri Malaysia Mahathir bin Mohamad merupakan pemimpin tertua di dunia saat ini. Kemampuan bekerja dari pria berusia 93 tahun ini masih membuat banyak orang mengangkat jempol.

Setelah kunjungannya ke Tiongkok tahun lalu sambil membawa retur proyek OBOR (One Belt One Road) kepada Beijing, Terdengar lagi kabar yang beredar pada 26 Januari bahwa Malaysia akan membatalkan Rencana Sambungan Kereta Api Pantai Timur yang pelaksanaannya dilakukan oleh kelompok usaha Komunikasi Konstruksi Tiongkok (China Communications Construction Group).

Malaysia menolak proyek yang ditawarkan OBOR Tiongkok

Menteri Urusan Ekonomi Malaysia Mohamed Azmin bin Ali mengatakan kepada media bahwa hasil rapat kabinet telah memutuskan untuk mengakhiri rencana pembangunan konstruksi perkeretaapian pantai timur. Para anggota kabinet berpikir bahwa proyek senilai USD. 20 miliar atau Rp 281 Triliun itu terlalu mahal.

Jika proyek ini tetap dilaksanakan, maka Malaysia setiap tahunnya harus mengeluarkan RM 500 juta (sekitar USD. 121 juta) sebagai angsuran pembayaran hutang yang jelas akan membuat Malaysia tidak mampu terbebani.

‘Tamparan’ keras Malaysia telah menimbulkan frustasi bagi inisiatif OBOR Tiongkok. Namun sejauh ini, Tiongkok belum merespons. Dunia luar telah memperhatikan bahwa komunis Tiongkok saat ini sedang merendahkan profile OBOR mereka. Pada saat yang sama, cara tidak sehat komunis Tiongkok untuk menggolkan proyek OBOR di Malaysia sudah mulai terkuak.

Seperti yang diketahui bersama bahwa orang yang menandatangani perjanjian kerja sama proyek OBOR di Malaysia adalah perdana menteri Malaysia sebelumnya yakni Najib Razak. Wall Street Journal baru-baru ini mengungkapkan isi beberapa negosiasi rahasia antara komunis Tiongkok dengan pemerintah Najib.

BACA JUGA : Komunis Tertampar, Mahathir Tolak Proyek Obor Tiongkok di Malaysia

Menurut risalah rapat, pada tahun 2016 pejabat senior komunis Tiongkok mengusulkan kepada Malaysia menggunakan Inisiatif OBOR untuk membantu membayar hutang 1MDB. Pihak Tiongkok bersedia membantu Malaysia untuk memonitor, menyelidiki dan menemukan identitas wartawan WSJ di Hongkong yang membocorkan skandal yang melibatkan 1MDB itu. Komunis Tiongkok berjanji menggunakan pengaruhnya untuk mencoba membuat Amerika Serikat dan negara-negara lain mengabaikan penyelidikan mengenai dugaan pelanggaran Najib.

Sebagai gantinya, pemerintah Najib menyetujui proyek-proyek utama dari OBOR, adalah proyek pembangunan jalur kereta api dan pipa gas bernilai puluhan miliar dolar yang akan dibiayai oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Pejabat Malaysia telah mengusulkan kepada pihak Tiongkok untuk menaikkan biaya proyek sehingga perusahaan Tiongkok dapat memperoleh keuntungan lebih tinggi dari harga pasar. Menurut perkiraan oleh konsultan Malaysia, biaya proyek tersebut seharusnya berkisar USD. 7,25 miliar, tetapi biaya kontrak pemerintah Najib dengan Tiongkok menjadi setinggi USD. 16 miliar.

Dengan kata lain, antar pemerintahan Tiongkok dengan Najib saling mengambil keuntungan,  perjanjian kotor itu pun ditandatangani. Komunis Tiongkok yang telah memenangkan proyek OBOR di Malaysia terpicu untuk terus memperluas ambisinya di proyek OBOR. Najib dan kroni-kroninya mungkin terhindar dari penyelidikan AS dengan bantuan komunis Tiongkok, dan sementara skandalnya tidak terbongkar.

Namun, tindakan ilegal Najib menimbulkan kemarahan rakyat Malaysia sehingga  menggulingkannya lewat pemilu. Setelah Mahathir kembali diangkat menjadi perdana menteri, ia menghentikan proyek infrastruktur OBOR. dan Najib sedang menghadapi  penyelidikan dan penuntutan terhadap korupsi yang ia lakukan.

BACA JUGA : One Belt One Road “di-Retur”, Mengapa Beijing Pura-Pura Tenang?

Mahathir saat itu masih berharap untuk bernegosiasi lagi dengan Tiongkok untuk menemukan cara pengurangan biaya. Tetapi pada akhirnya ia putuskan untuk menarik diri karena  biayanya masih terlalu tinggi.

Pembatalan proyek OBOR oleh Malaysia bagaikan tamparan yang dilayangkan kepada komunis Tiongkok. Namun sejauh ini, komunis Tiongkok masih belum memberikan tanggapan.

Tak Biasa, komunis Tiongkok meminta maaf, Wang Qishan menghindar

The New York Times mengatakan bahwa komunis Tiongkok sedang merendahkan profile OBOR karena perang dagang dengan Amerika Serikat.

Sinyal terakhir adalah di luar dugaan tak satu pun dari sejumlah pejabat senior komunis Tiongkok yang menghadiri Forum Davos di Swiss, termasuk Wakil Kepala Negara Wang Qishan, tidak berpartisipasi dalam pembahasan tentang kegiatan operasi dari inisiatif OBOR.

Seperti yang kita semua tahu, pada 22 Januari lalu, Forum Davos mengadakan sub-forum yang membahas soal investasi komunis Tiongkok melalui inisiatif OBOR yang berjumlah triliunan dolar.

Bagi komunis Tiongkok, seminar yang diselenggarakan oleh media resmi PKT seharusnya dijadikan peluang untuk mempromosikan citra inisiatif tersebut langsung kepada sejumlah pemimpin negara berkembang dan para pengambil keputusan perusahaan raksasa.

Namun, kali ini jelas berbeda, komunis Tiongkok hanya mengirim perwakilan kamar dagang dan presiden perusahaan milik negara untuk berpartisipasi dalam forum itu.

Memang agak mengejutkan, karena pejabat komunis Tiongkok cenderung menghindari forum yang diselenggarakan oleh mereka yang sering mengkritik Tiongkok, jarang berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh internal Partai Komunis Tiongkok.

Hal yang lebih mengejutkan adalah bahwa Xu Niansha, ketua perusahaan milik negara, Poly Group tiba-tiba menyatakan permohonan maaf karena tidak ada banyak data statistik tentang kegiatan OBOR. Dia hanya menggambarkan secara umum bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang cepat dalam beberapa dekade terakhir dapat mempromosikan pembangunan ekonomi di tempat lain. “Melalui kerja sama hasilnya akan lebih baik” itu saja.

BACA JUGA : Media Asing : Proyek OBOR Memantulkan Bayangan Runtuhnya Uni Soviet

Seperti semua orang tahu, baik pejabat komunis Tiongkok, eksekutif perusahaan, mereka sering menggunakan sekeranjang angka untuk dibahas dalam pidato atau diskusi mereka. Hal seperti permintaan maaf Xu Niansha itu sangat jarang terjadi, tulis New York Times dalam laporannya.

Selain itu, moderator berulang kali mengisyaratkan bahwa beberapa orang di Tiongkok merasakan kritik terhadap proyek OBOR dari masyarakat internasional. “Mari kita berbicara tentang angka, bicara tentang studi kasus, bicara tentang kisah nyata, tetapi bukan hanya rumor.” Meskipun demikian, Xu Niansha dan Wang Yongqing, wakil ketua Federasi Perindustrian dan Perdagangan Tiongkok terus menghindari pembicaraan tentang rincian dari inisiatif OBOR.

Proyek-proyek OBOR Turun 20.4 % YoY

Menurut informasi dari Kementerian Perdagangan Tiongkok, penandatanganan perjanjian baru proyek OBOR tahun lalu telah mengalami penurunan sebesar 20.4 % dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

The New York Times mengutip berita dari Kementerian Perdagangan Tiongkok menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok sedang melambat, sehingga perlu mempertimbangkan kembali biaya pengeluarannya di luar negeri, dan juga mempertimbangkan perasaan masyarakat internasional terhadap OBOR.

BACA JUGA : Hasil Survei Menunjukkan Negara-negara Asia Tenggara Harus Waspada dengan Proyek OBOR Tiongkok

Komentator Lan Shu mengatakan bahwa ekonomi Tiongkok telah dirusak sampai akarnya oleh PKT yang sewaktu-waktu bisa mati. Mereka mempromosikan inisiatif OBOR yang sebenarnya berkepentingan untuk mengekspor kelebihan kapasitas produksi, untuk meredakan krisis ekonomi, dan menciptakan perangkap utang bagi negara-negara berkembang.

Lan Shu menjelaskan bahwa hegemonisme ekonomi yang diterapkan komunis Tiongkok ini sangat merusak pola dunia, dan negara-negara bebas Barat telah melihatnya dengan sangat jelas. Secara khusus, Amerika Serikat telah menggolongkan komunis Tiongkok sebagai pesaing strategis, dan mengajak negara kebebasan bersatu untuk mengepungnya.

Dilihat dari maksudnya merendahkan profile, dapat diduga bahwa komunis Tiongkok sudah serba salah. Jika semua negara di dunia menangkap ambisi PKT dan menolak OBOR, itulah saatnya kehancuran mereka. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular