Erabaru.net. Artikel ini adalah kelanjutan serial bersambung dari buku Tujuan Terakhir Komunisme yang diterbitkan oleh Editorial 9 Komentar Partai Komunis Tiongkok.

Kali ini masih membahas bagian Tiongkok. Tema pembahasan mengenai bab 3 yang berjudul Membantai dengan Menggunakan Kekerasan — Kejahatan Menembus Kubah Semesta (bagian Akhir).

Adapun Bab sebelumnya membahas tentang Membantai dengan Menggunakan Kekerasan — Kejahatan Menembus Kubah Semesta (Awal)

Daftar Isi

Kata Pengantar: Roh Jahat Komunis Membunuh di Sepanjang Jalan

1. Soviet Rusia sebagai Percobaan

2. Komunis Tiongkok Menaiki Panggung

3. Membantai Habis Kaum Elit

1) Pembantaian di Pedesaan dan Perkotaan

2) Menyingkirkan Agama, Memutus Hubungan dengan Kepercayaan Tradisional

3) Reformasi Ideologi, Ateisme Menguasai Sekolah

4) Menganiaya Kaum Intelektual, Memaksa Seluruh Rakyat Mengucapkan Kata Bohong

5) Manusia Menjadi Bukan Manusia

BACA JUGA : Serial Tujuan Terakhir Komunisme : Mengubah Manusia Menjadi “Bukan Manusia”

BACA JUGA : Komunis Membantai dengan Brutal – Kejahatan Menembus Kubah Semesta

Berikut bab 3 yang berjudul Membantai dengan Menggunakan Kekerasan — Kejahatan Menembus Kubah Semesta (bagian Akhir) : 

IV. MERUSAK ALAM

Tuhan tidak hanya telah menciptakan umat manusia, namun juga telah mengatur lingkungan alam bagi kelangsungan hidup umat manusia.

Terutama di Dataran Tengah Shenzhou (nama kuno Tiongkok), kebudayaan tradisional yang maha luas dan mendalam serta kandungan makna yang terhubung dengan Langit, juga terwujud dalam lingkungan alam, inilah perwujudan konkret dari Langit dan manusia menyatu dalam kebudayaan tradisional. Di gunung ternama dan sungai besar sebenarnya terdapat Dewa Gunung dan Dewa Sungai yang menjaga lingkungan alam tempat umat manusia eksis.

Tiongkok sebagai “Negara Pusat” pilihan Tuhan, gunung-gunung dan sungai-sungainya berpengaruh sangat besar dan mendalam terhadap ekosistem seluruh dunia. Di dalam kebudayaan Tiongkok, pengaruh dan peran dari fengshui dari geografi sebenarnya melampaui ruang dimensi yang dapat terlihat oleh mata fisik.

BACA JUGA : Serial Tujuan Terakhir Komunisme : Komunis Menaiki Panggung dan Membantai Kaum Elit

Dilihat dari level tingkat tinggi, dalam sistem sirkulasi air seluruh dunia, Negara Pusat juga merupakan sumber asal dari vena air tawar di seluruh dunia, jika air tawar di sini terkena polusi maka akan menyebar ke persediaan air di seluruh dunia. Itu sebabnya perusakan lingkungan di Tiongkok, dapat mengakibatkan ekosistem di lingkup seluruh dunia menuju keruntuhan. Dengan ini kita tidak sulit untuk memahami mengapa roh jahat komunis menguras isi otaknya, demi mengharuskan dirinya merusak lingkungan alam Tiongkok.

Para Kaisar agung dan Monarki bijak dari berbagai Dinasti di ZhongYuan (Dataran Tengah) dan juga telah menetapkan waktu untuk memberi persembahan kepada Dewata di Langit dan di gunung serta sungai, berterima kasih dengan penuh hormat dan rasa bersyukur, karena sehari-harinya telah menikmati lingkungan alam yang dianugerahkan kepada umat manusia untuk kebutuhan hidup.

Selama ribuan tahun, bangsa Tionghoa yang percaya pada Langit dan menghormati Dewata senantiasa berdampingan harmonis dengan lingkungan alam. Sebaliknya setelah roh jahat komunis merebut kekuasaan, bukan saja menggunakan kekerasan malah ditambah tipuan untuk menyandera manusia di dunia agar tidak percaya dengan konsep Langit dan manusia menyatu, juga merusak lingkungan alam yang dianugerahkan oleh Tuhan, dan mendorong manusia menghujat Langit melawan Bumi, menampilkan sisi jahat dari sifat manusia, demi uang seenaknya merusak lingkungan alam, membuat manusia berubah menjadi arogan dan angkuh, sepenuhnya sudah tidak memiliki hati yang menaruh respek pada lingkungan alam.

BACA JUGA : Serial Tujuan Terakhir Komunisme : Cara-cara Pembantaian Ala Partai Komunis

Orang dulu ketika memerlukan kayu bakar, mendirikan rumah dan membabat hutan, selalu akan melindungi pohon yang masih belum tumbuh dewasa, mutlak tidak akan menebang sembarangan.

Setelah Partai Komunis Tiongkok (PKT) merebut kekuasaan, umumnya mengadopsi metode penebangan yang memusnahkan dan destruktif, demi keuntungan di depan mata tanpa hirau konsekuensi, menghancurkan sumber alam hutan.

Buku Tujuan Terakhir Komunisme (https://www.tiantibooks.org)

Seperti saat penebangan hutan di wilayah Changbaishan (Gunung Changbai atau Baekdu; perbatasan Provinsi Jilin dengan Korea Utara), pohon yang belum dewasa juga sama saja ditebang, meskipun hanya merupakan pohon kecil berukuran satu inci juga tidak luput ditebang dan dipakai sebagai gagang sapu.

Banyak sekali wilayah hutan yang luas, sebidang demi sebidang dihancurkan seperti sedang “digunduli”, tanaman musnah, air mengering tanah tergerus, akibatnya tentu saja adalah berbagai macam bencana alam yang datang silih berganti, atau disebut dengan “hukuman Langit”, sedangkan para ateis hasil didikan PKT tentu tidak akan mengakui hal ini.

Alam semesta, bumi dan seluruh lingkungan umat manusia adalah bersirkulasi. Manusia di tengah siklus reinkarnasi, ketika moralitas tinggi, tidak memiliki karma berat, setelah bereinkarnasi juga tidak seberapa berdampak bagi lingkungan alam. Namun ketika karma orang-orang terakumulasi semakin banyak, juga pada akhirnya akan membawa karma ke dalam lingkungan hidup, memengaruhi segala yang ada di sekitarnya, maka penggurunan merupakan salah satu dari buah kejahatan.

BACA JUGA : Tujuan Terakhir Komunisme : Bagian Tiongkok – Negara yang Menjadi Pusat  Kebudayaan Warisan Dewata (1)

Sejak berdirinya PKT, moralitas orang-orang telah jatuh tergelincir dengan cepat, bergelimang karma, tanpa batas menghambur-hamburkan dan menyia-nyiakan sumber daya alam, merusak lingkungan alam, gunung dan sungai maha luas di Tiongkok menjadi berwajah bopeng, luasan gurun bertambah secara drastis.

Abad ke-20 dari tahun 50-an hingga 70-an, di Tiongkok setiap tahunnya ada lahan seluas 1.560 km persegi ditelan oleh gurun, pada tahun 70-an hingga 80-an, membesar menjadi 2.100 km persegi, pada tahun 90-an, telah mencapai 2.460 km persegi, setibanya di abad ke-21 sudah melampaui 3.000 km persegi.

BACA JUGA : Tujuan Terakhir Komunisme : Bagian Tiongkok – Negara yang Menjadi Pusat Kebudayaan Warisan Dewata (2)

Dalam sejarahnya, Mongolia Dalam pernah memiliki lima Sabana (padang rumput luas) yang dikagumi manusia di dunia, sekarang ini tiga di antaranya pada dasarnya sudah lenyap. Sabana Ulanqab, Sabana Khorchin dan Sabana Ordos, tiga wilayah Sabana yang luas mengalami degenerasi menjadi gurun, hanya memerlukan 20 tahun.

Gurun Pendatang yang dikenal sebagai “Gurun Langit” oleh masyarakat di Kabupaten Huailai provinsi Hebei, sekarang ini hanya berjarak 70 km dari Kota Beijing, Kota Beijing mungkin akan menjadi kota kuno Loulan berikutnya yang lenyap di tengah gurun.

PKT sesuka hati menggunduli hutan, membendung sungai dan mereklamasi lautan, bertarung dengan Langit dan bertarung dengan Bumi, alhasil telah menghancurkan lingkungan yang diciptakan oleh Tuhan sebagai tempat kelangsungan hidup manusia.

Berbagai macam bencana alam semakin lama semakin banyak, sungai – sungai meluap, kabut asap meracuni manusia dan badai pasir bergulung-gulung; kekeringan memutus aliran sungai, polusi industri, vena bumi dan vena air diputus dan cuaca ekstrem sering menyatroni, berulang kali memecahkan rekor; makin banyak penyakit aneh yang merenggut nyawa manusia di dunia, benar-benar dapat dikatakan, membelalakkan mata mengguncang hati.

V. MEMUSNAHKAN KEBUDAYAAN

Dari penggunaan kekerasan untuk membantai kelas elit, penggunaan kekerasan untuk menghancurkan semangat hidup dan lingkungan materi yang menjadi gantungan hidup umat manusia, hingga penggunaan kekerasan untuk memusnahkan kebudayaan tradisional yang merupakan syarat untuk menjadi seorang manusia, semuanya merupakan rencana dan langkah dari pengaturan roh jahat komunis dalam memusnahkan umat manusia.

BACA JUGA : Tujuan Terakhir Komunisme – Konspirasi Iblis Merah Menghancurkan Umat Manusia (Bagian 1)

BACA JUGA : Tujuan Terakhir Komunisme – Konspirasi Iblis Merah Menghancurkan Umat Manusia (Bagian II)

  1. MENGHANCURKAN MEDIA SUBSTANSI

Setelah Revolusi Besar Kebudayaan dimulai, api kejahatan dari gerakan Hancurkan Empat Kuno telah membakar habis bumi pertiwi bangsa Tionghoa. Biara, kuil Tao, patung Buddha dan situs bersejarah, kaligrafi serta barang antik semuanya hancur tanpa sisa.

Paviliun Anggrek yang tertulis dalam Lantingji Xu (Kata Pengantar dari Kumpulan Puisi di Paviliun Anggrek) karya Wang Xizhi (kaligrafer terkenal Dinasti Jin Timur) yang merupakan warisan selama ribuan tahun, tidak hanya telah dihancurkan, bahkan makam Wang Xizhi sendiri telah ikut dihancurkan. Bekas tempat tinggal Wu Cheng’en (penulis novel Perjalanan ke Barat) di Provinsi Anhui telah dihancur-leburkan.

Prasasti batu Zuiwengting Ji (Catatan di Paviliun Pemabuk) yang ditulis sendiri oleh Su Dongpo (penulis dan kaligrafer Dinasti Song Utara) telah dirobohkan oleh “jenderal cilik revolusi”, huruf di atas prasasti batu telah dikelupas……..seluruh intisari kebudayaan bangsa Tionghoa ini merupakan kristalisasi warisan ribuan tahun, begitu dihancurkan tidak akan dapat dikembalikan ke awal lagi.

Kota Beijing dibangun pada zaman Dinasti Yuan Agung, Pendiri Dinasti Yuan, Kubilai Khan memerintahkan Perdana Menteri Liu Bingzhong berdasarkan tata letak Istana Langit (Tian Gong), dibangun dengan mengambil bentuk dari QianKun.

Seluruh Kota Beijing telah menyatukan pemikiran dan kebudayaan dari Konfusius, Tao dan Buddha, nama-nama gerbang kota dari Dadu (nama Beijing zaman Dinasti Yuan) dan aula, semuanya meniru peta Qian Kun dalam Zhouyi (I Ching – Book of Changes), kuil, biara dan aula kuil dibangun dengan mengikuti pengaturan astrologi.

Siheyuan (Bangunan tradisional Tiongkok bergaya halaman tertutup. Tata letaknya, 1 halaman di empat sisinya dikelilingi bangunan, yang biasanya terdiri dari rumah utama, kamar sayap timur-barat dan kamar selatan. Halaman ini dikelilingi oleh empat sisi bangunan) yang terkenal di Beijing, tidak saja unik, tetapi juga berisikan struktur Qian Kun di dalamnya, ada beberapa bangunan utama, megah bagaikan aula kuil. Jalan Berkelok Gang Tersembunyi adalah deskripsi terbaik dari gang kecil di Beijing.

Setelah melewati jalan setapak berkelok dan memasuki Siheyuan, seketika terpapar panorama bagaikan pemandangan di dunia lain. Bangunan yang didirikan dengan demikian detail ini merupakan sebuah pusaka bangunan di dunia manusia yang tak ternilai, dengan menggunakan kepercayaan dari hati orang-orang terhadap Dewata, Buddha dan Tuhan serta pemikiran tradisional Langit dan manusia menyatu dilebur menjadi satu kesatuan dengan lingkungan dan bangunan di sekitar, sungguh merupakan maha karya dunia.

Akan tetapi kebanyakan Siheyuan juga telah dihancurkan di tengah gerakan Hancurkan Empat Kuno saat Revolusi Besar Kebudayaan dan sesudahnya dengan apa yang disebut exploitasi bangunan.

Revolusi kebudayaan Partai Komunis yang memusnahkan budaya Tradisional (Epoch Times with AP Photo, NTDTV screenshot and Jean Vincent/AFP/Getty Images)

Sebelum Revolusi Besar Kebudayaan, Beijing masih memiliki 500 lebih kelenteng kuno, aula kuil dan biara kuno, setelah gerakan Hancurkan Empat Kuno saat Revolusi Besar Kebudayaan, hampir seluruhnya hancur. Semua ini, bukan saja telah menghancurkan tempat berdoa dan xiulian (kultivasi diri) para pengikut mereka serta bangunan kuno dari Langit dan manusia menyatu, lebih-lebih juga ikut merusak kepercayaan lurus dari lubuk hati dan pikiran lurus tradisional dari Langit dan manusia menyatu.

BACA : Tujuan Terakhir Komunisme : Partai Komunis Tiongkok- Sejuta Perubahan Tidak Lepas dari Kejahatannya (Bagian 1)

BACA : Tujuan Terakhir Komunisme : Partai Komunis Tiongkok- Sejuta Perubahan Tidak Lepas dari Kejahatannya (Bagian 2)

Mungkin saja orang-orang tidak setuju dengan pendapat ini, merasa tidak ada sangkut pautnya dengan saya, sebenarnya roh jahat komunis menyusup ke semua celah, dari memusnahkan tubuh fisik hingga polusi ideologi, terus sampai perusakan lingkungan dan tempat xiulian agama ortodoks, ia telah memutus kebudayaan, moralitas dan kepercayaan bangsa Tionghoa hasil warisan selama ribuan tahun yang berkesinambungan.

  1. MERUSAK PILAR MORALITAS

Lima ribu kata dalam Dao De Jing yang ditinggalkan oleh Laozi, adalah kitab klasik xiulian dari aliran Tao, dan Laozi diyakini sebagai pendiri aliran Tao. Akan tetapi disaat Revolusi Kebudayaan, Laozi dikritik sebagai munafik, dan prinsip dalam Dao De Jing disebut sebagai takhayul feodal.

Kongzi (Konfusius) berkeliling ke banyak negara, untuk mengkhotbahkan “Ren (kasih) – Yi (keadilan) – Li (tatakrama) – Zhi (kebijaksanaan) – Xin (kejujuran)” dan jalan di dalam buku Zhong Yong (doktrin Konfusius tentang Jalan Tengah Emas), serta merevisi Enam Kitab yang menjadi standar bagi kaisar terdahulu dalam memimpin negara dan menangani masalah dan yang menjadi standar berperilaku sebagai manusia dunia, karena hal inilah oleh generasi selanjutnya disebut dengan “Kongzi Guru Purba Nabi Agung”.

Saat Revolusi Kebudayaan, Kongzi dikritik, disebut dengan Kong Lao Er (sebutan di zaman Revolusi Kebudayaan yang bernada melecehkan) Ren – Yi – Li – Zhi – Xin – ajaran Zhong Yong dan lainnya digantikan dengan pemikiran kekerasan, perjuangan kelas dan pemberontakan.

Konfusius pernah bertanya kepada Lao Zi, penulis ‘Tao Te Ching,’ tentang etika pada jaman dinasti-dinasti kerajaan. (Gambar: pixabay / CC0 1.0)

Pada tahun 1966, Kang Sheng (anggota politbiro saat Revolusi Kebudayaan) menyuruh Tan Huolan pemimpin kelompok pemberontak Beijing dengan mengatasnamakan Kelompok Revolusi Kebudayaan Sentral, memimpin Garda Merah ke Qufu (kampung halaman Konfusius), “Memberontak terhadap ajaran aliran Kongzi”, merusak tanpa ampun, membakar habis buku/kitab kuno, menghancurkan hampir seribu monument batu dari berbagai zaman termasuk nisan makam Kongzi, menghancur-leburkan kuil Konfusius, merusak rumah kediaman Konfusius dan Taman Makam keluarga Konfusius. Hal semakin menggeramkan adalah, mereka bahkan meratakan kuburan Konfusius, membongkar makam keturunan Kongzi lainnya, setelah jasad-jasadnya dilecehkan selama beberapa hari, kemudian dibakar.

Ini sudah bukan lagi hal sederhana merusak buku kuno dan cagar budaya, karena dalam buku-buku kuno dan benda-benda budaya ini termuat kebudayaan bangsa Tionghoa dan nilai-nilai tradisional yang mendalam.

Jika ada sedikit saja rasa hormat terhadap kebudayaan tradisional, perusakan seperti ini tidak akan pernah terjadi. Perusakan seperti ini sedemikian bengis dan menyeluruh, tepatnya adalah karena PKT secara mendalam telah menanamkan kebencian terhadap kebudayaan tradisional ke dalam hati para “Garda Merah”.

Di zaman Tiongkok kuno pernah terjadi insiden pemusnahan agama Buddha “Tiga Wu Satu Zong” (Empat peristiwa penganiayaan agama Buddha; yang dilakukan semasa 4 dinasti: Tiga kaisar dengan nama gelar tengahnya Wu dan 1 kaisar dengan nama gelar belakangnya Zong).

Setiap kaisar yang memusnahkan agama Buddha, entah mati karena dibunuh atau karena penyakit ganas, para pengikut Tuhan semuanya tahu bahwa itu adalah ganjaran atas perbuatan memusnahkan agama Buddha.

Shi Zong dari Dinasti Zhou akhir, yang juga bernama Chai Rong, pernah mengayunkan sendiri kapak besar ke perut patung Guanyin (Bodhisattva Avalokitesvara) di kuil Maha Belas Kasih, pada akhirnya diri sendiri meninggal dengan luka bernanah di dada. Para pemuda yang terhasut oleh PKT untuk menghancurkan Buddha dan menghancurkan Tao itu, jika tidak bertobat menebus dosa, bayangkan bakal mengalami peristiwa tragis seperti apakah?

Di tengah gerak maju angin topan Hancurkan Empat Kuno ini, tidak tahu betapa banyak manusia yang telah berbuat dosa dan akan turun ke neraka, justru inilah hasil akhir yang dikehendaki oleh PKT. (SUN/WHS/asr)

Bersambung

Share

Video Popular