Erabaru.net. Orang-orang yang bekerja di pabrik tahu persis, bahwa saat baru masuk kerja dia harus mencari pembimbing senior yang berpengalaman dan trampil. Dengan begitu, keterampilan akan meningkat lebih cepat.

Orang yang bekerja di pabrik adalah orang-orang yang perlu uang untuk menghidupi keluarganya. Pendidikan mereka juga tidak terlalu tinggi, sehingga hanya bisa menguras keringat untuk mendapatkan uang.

Tempat kerja saat ini selalu populer dengan kalimat seperti ini, mereka yang lahir di atas tahun 90-an adalah tuan besar, tahun 80-an adalah anak, dan tahun 70-an adalah cucu.

Karena mereka yang lahir tahun 80-an dan 70-an memikul tanggung jawab menafkahi keluarga, sehingga banyak perusahaan memandang sebelah mata pada karyawan-karyawan senior seperti ini.

Jika melanggar peraturan, pimpinan selalu memotong upah karyawam senior ini, sementara pada karyawan baru ditolerir, sehingga membuat karyawan yang lahir tahun 80-an dan 70-an menjadi tertekan.

Pada kesempatan ini, redaksi akan berbagi sebuah kisah tentang seorang karyawan yang lahir tahun 80-an. Berikut mari simak sejenak.

Lin adalah master di pabrik molding/pencetakan. Ia dalah lulusan teknik mesin dari sebuah universitas, jadi ia sangat paham dengan pengetahuan profesional terkait mesin.

Setelah lulus, ia magang di pabrik pencetakan, ia juga pernah magang di pabrik molding sebelumnya, dan selama lima tahun ia di pabrik itu dari magang hingga mahir dan menjadi master kemudian berhenti.

Lin telah bekerja di pabrik pencetakan itu selama hampir 6 tahun. Saat itu hanya ada sekitar 20 karyawan profesional di pabrik, sekarang telah bertambah beberapa kali lipat.

Sejak itu, Lin yang dulunya karyawan magang sekarang telah menjadi karyawan senior. saat ini. Orang-orang di pabrik umumnya mengenal Lin, dan hubungan dengan mereka juga cukup baik.

Pekerjaan Lin sehari-hari sekarang juga sangat santai. Selain membimbing karyawan magang, selebihnya ia santai sambil minum kopi dan berselancar di ponsel. Singkatnya Lin tidak perlu kerja apa-apa kecuali ada masalah dengan mesin yang tak bisa ditangani para juniornya, jadi boleh dikata Lin adalah karyawan paling santai di pabrik.

Namun, bosnya mulai jengah melihatnya terlalu santai, dulu dia berpikir karena kurangnya tenaga kerja di pabrik, apalagi tak seorang pun yang mampu menggantikan posisi Lin, tapi sekarang para juniornya pada dasarnya sudah menguasai pekerjaannya, jadi sang bos mulai berpikir Lin seperti pensiunan di pabrik, sehingga sikapnya tidak sebaik dulu lagi.

Beberapa kali Lin kepergok bos sedang asyik bermain ponsel, dan sebagai sanksinya gajinya dipotong. Lin merasa bos-nya memang sengaja menargetkan dirinya. Sebelumnya gajinya tidak dipotong saat main ponsel di kantor. Namun, ia juga tidak berdaya, lagipula ia digaji bosnya.

Jika melampiaskan emosi dengan mengundurkan diri, ia harus mencari pekerjaan baru, dan entah berapa gajinya. Sementara angsuran mobil barang dan rumah ditambah biaya pengeluaran sehari-hari membuatnya napasnya sesak terengah-engah, jadi ia ikuti saja aturan bosnya.

Beberapa waktu yang lalu, bosnya berbicara di pabrik, ia menekankan bahwa pabrik tidak memelihara orang yang santai. Di sini bukan tempat untuk menikmati masa tua. Jika waktu kerja tidak ada kerjaan lebih baik pulang tidur saja.

Lin tahu bosnya sedang menyindir dirinya, dan sadar di balik maksud ucapan bosnya itu adalah mendepaknya dari pabrik. Jadi dia mulai mencari lowongan kerja di pabrik pencetakan lain, dan akhirnya dia menemukan pabrik yang bagus, gajinya juga jauh lebih tinggi daripada di pabriknya sekarang, hanya saja tempatnya lumayan jauh dari rumahnya.

Berkat keahliannya, hari-hari yang dilalui Lin di pabrik barunya itu lumayan nyaman, selain memeriksa sejenak perangkat mesin setiap hari, biasanya juga tidak terlalu sibuk.

Sementara bos barunya juga sering ke divisi Lin untuk sekadar mengobrol, dan dia tidak berpikir Lin seperti parasit yang hanya numpang hidup.

Tiga bulan kemudian, mantan bosnya menelepon Lin dan mengatakan bahwa peralatan di pabrik rusak. Tidak ada yang bisa memperbaikinya. Dia meminta Lin ke pabrik sebentar dan akan membayar ongkos servicenya.

Dalam hati Lin tertawa dan mencibir bukankah pabrik tidak membutuhkan orang yang santai, jadi, dia menolaknya dengan alasan cukup sibuk setiap hari, “Lain kali ya pak kalau sempat,” katanya, kemudian menutup ponselnya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular