Elsie Seetoo berusia 25 tahun ketika dia bergabung dengan Korps Perawat Angkatan Darat AS di Tiongkok untuk membantu pasukan Amerika dalam Perang Dunia II.

September lalu, Seetoo merayakan ulang tahunnya yang ke-100.

Pada akhir Januari, centenarian (orang berusia 100 tahun atau lebih) tersebut adalah salah satu dari lima veteran Perang Dunia II Tionghoa-Amerika yang akan dianugerahi Medali Emas Kongres selama upacara yang diadakan di Departemen Urusan Veteran di Washington D.C pada 29 Januari.

“Pelayanan Anda untuk negara kami … sangat menakjubkan dan luar biasa, dan pemberian kehormatan bagi Anda sekarang melalui Medali Emas Kongres sudah terlambat,” kata Sekretaris Pendidikan Betsy DeVos pada upacara tersebut.

Para tamu kehormatan penerima penghargaan tersebut adalah veteran Tionghoa-Amerika pertama yang secara resmi diakui dengan kehormatan sipil tertinggi Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya untuk menghormati hampir 20.000 warga Tionghoa-Amerika yang bertugas untuk militer AS dalam Perang Dunia II.

Pada bulan Desember, Presiden Donald Trump telah menandatangani Undang-Undang Medali Emas Kongres Veteran Perang Dunia II Tionghoa-Amerika (Chinese-American World War II Veterans Congressional Gold Medal Act) menjadi kepastian hukum, setelah disetujui secara bulat oleh kedua majelis Kongres. Undang-undang ini disahkan sebagai hasil dari kampanye yang dipelopori oleh Proyek Pengakuan Veteran Perang Dunia II Tionghoa-Amerika (Chinese American WWII Veterans Recognition Project), sebuah program dari Aliansi Warga Negara Tionghoa-Amerika Nasional (National Chinese American Citizens Alliance).

UNGKAPAN RASA TERIMA KASIH AMERIKA

Elsie Seetoo peraih penghargaan Medali Emas Kongres untuk veteran perang dunia II tionghoa-amerika
Elsie Seetoo pada upacara Medali Emas Kongres di Washington D.C. pada 29 Januari 2019. (Lynn Lin / The Epoch Times)

Seetoo adalah veteran tertua dan berperingkat tertinggi yang dihormati pada upacara tersebut.

Lahir di California, Seetoo dan keluarganya pindah kembali ke Xinhui di provinsi Guangdong selatan Tiongkok ketika dia masih remaja.

Setelah SMA, Seetoo dilatih untuk menjadi perawat di Hong Kong. Pada tahun 1942, dia berjalan 700 mil (sekitar 1.127 km) dari Hong Kong ke kota Guiyang di barat daya Tiongkok untuk bergabung dengan Korps Bantuan Medis Palang Merah Tionghoa, tempat dia bekerja di ruang operasi sebelum menjadi pelatih medis.

Pada 1944, ia bergabung dengan Korps Perawat Angkatan Darat AS sebagai letnan satu. Dia menjadi anggota Komando Layanan Udara untuk Angkatan Udara ke-14, penerus “Flying Tigers,” yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Claire Chennault. Dia juga ditugaskan di rumah sakit di kota Kunming, Chengdu, dan Shanghai.

Seetoo kembali ke Amerika Serikat setelah perang dan menetap di Washington D.C. setelah dikeluarkan dari Angkatan Darat. Bersama suaminya Joseph Yuen, mereka membesarkan empat anak, tujuh cucu, dan delapan cicit.

James Eng, Harry Jung, Henry Lee, dan Robert Lee juga mendapat kehormatan pada upacara tersebut, dan diakui oleh Wakil Sekretaris Pelaksana Urusan Veteran James Byrne, Sekretaris Pendidikan Betsy DeVos, dan Sekretaris Perhubungan Elaine Chao atas nama Gedung Putih untuk jasa pengabdian mereka.

“Mereka adalah para pengingat semangat juang pahlawan bahwa Asia-Amerika berkontribusi pada setiap bagian dari arus utama Amerika,” kata Sekretaris Perhubungan Elaine Chao.

“Hari ini adalah langkah kecil dalam menunjukkan rasa terima kasih Amerika atas semua yang telah Anda lakukan untuk kami.”

James Eng peraih penghargaan Medali Emas Kongres untuk veteran perang dunia II tionghoa-amerika
Sekretaris Pendidikan Betsy DeVos berbicara pada upacara di sebelah penerima penghargaan James Eng. (Lynn Lin / The Epoch Times)

James Eng, 95 tahun, juga diakui pada upacara tersebut. Dia adalah perwira rendahan di Angkatan Laut AS dan ditempatkan di Stasiun Angkatan Laut San Diego, mengendalikan stasiun radio pangkalan selama perang. Selama tiga dekade berikutnya, Eng melanjutkan pengabdiannya pada pemerintah AS, bekerja untuk organisasi termasuk Angkatan Udara, Angkatan Darat, dan NASA.

“Amerika luar biasa bagi saya,” kata Eng, merujuk pada karir panjangnya dalam bertugas.

KONTRIBUSI TIONGHOA-AMERIKA

Robert M. Lee  peraih penghargaan Medali Emas Kongres untuk veteran perang dunia II tionghoa-amerika
Kehormatan Robert M. Lee berbicara pada upacara tersebut. (Lynn Lin / The Epoch Times)

Hampir satu dari lima orang Tionghoa-Amerika telah mengabdi bertugas dalam Perang Dunia II, meskipun banyak yang menghadapi diskriminasi, sebagian karena Undang-Undang Pengecualian Tionghoa (Chinese Exclusion Act) yang berlaku di wilayah setempat.

Chinese Exclusion Act 1882 melarang imigrasi Tionghoa ke Amerika Serikat dan mencegah warga keturunan Tionghoa yang bukan warga AS untuk diberi kewarganegaraan. Hukum tersebut tidak dicabut sampai terbitnya undang-undang Magnuson Act pada 17 Desemer 1943.

Sekitar 40 persen telah mengabdi tanpa kewarganegaraan, menurut Proyek Pengakuan Veteran.

Hingga Desember lalu, Tionghoa-Amerika adalah satu-satunya kelompok minoritas yang tidak diakui dengan Medali Emas Kongres untuk pengabdian mereka selama Perang Dunia II.

Dari sekitar 18.000 veteran Perang Dunia II Tionghoa-Amerika, hanya sekitar 50 yang masih hidup hari ini, menurut E. Samantha Cheng, Direktur Proyek Proyek Pengakuan Veteran.

Para penerima penghargaan pada upacara tersebut akan menerima keanggotaan Congressional Gold mereka pada bulan Oktober. (ran)

Video pilihan:

Mengapa Para Elit Tiongkok Menyukai Donald Trump?

Share

Video Popular