Erabaru.net. Masyarakat Jepang percaya bahwa kemunculan ikan laut dalam ‘oarfish’ telah memperkirakan gempa Bumi yang kuat di dasar laut dengan magnitudo 9,0 pada tahun 2011 yang membawa tsunami besar melanda pantai di timur laut PPulau Honshu, Jepang.

Baru-baru ini, beberapa netizen di media sosial menyatakan kegundahannya dan kekhawatiran bahwa Jepang sekali lagi akan dilanda tsunami besar ketika beberapa ikan laut dalam yang ditemukan oleh nelayan terperangkap dan ditemukan mati di jaring mereka.

(Foto: South China Morning Post)

South China Morning Post melaporkan pada 28 Januari lalu ikan laut dalam ‘ oarfish’ sepanjang 4 meter ditemukan mati dan tersangkut di sebuah jaring di Pelabuhan Imizu yang terletak di Prefektur Toyama, Jepang.

Sembilan hari sebelumnya, dua spesies spesies air laut dalam yang menyerupai belut laut ditemukan terdampar di Pantai Toyama.

Pada 2015, beberapa ekor spesies ‘oarfish’ juga telah ditemukan, tetapi kali ini yang ditemukan lebih sering dan lebih banyak.

Ilustrasi. (Foto: mnn.com)

Ikan laut dalam ‘oarfish’ atau dalam bahasa Jepang, “ryugu no tukai” sering dikaitkan dengan ‘pertanda buruk’ menurut kepercayaan masyarakat tradisional Jepang menandakan akan terjadi satu bencana yang mengerikan.

Menurut laporan The Japan News, berdasarkan kepercayaan nenek moyang kuno, memberi nama ikan tersebut “ryugu no tukai” yang berarti “pembawa berita atau berita dari istana raja naga.”

Teori ikan laut dalam muncul di permukaan laut atau terdampar di pantai yang selalu menandakan terrjadi gempa Bumi yang kuat di dasar laut. Penemuan oarfish baru-baru ini dan tiba-tiba telah menyebabkan banyak netizen merasa khawatir bahwa fenomena ini menandakan bahwa gempa Bumi besar dan tsunami akan terjadi.

Ilustrasi (Foto: Mainichi Shimbun / ABC News)

Reputasi ‘oarfish’ sebagai pertanda buruk akan terjadi bencana telah mulai menyebar pada tahun 2010. Pada tahun itu, setidaknya 10 ikan laut dalam telah ditemukan terdampar di pantai Jepang utara.

Selanjutnya, pada bulan Maret 2011, gempa Bumi dahsyat dengan magnitudo 9,0 telah melanda Jepang yang telah membawa tsunami besar yang menelan 19.000 korban jiawa dan menyebabkan kebocoran pembangkit nuklir Fukushima.

Namun, para ilmuwan telah menolak pandangan dan kekhawatiran ini dan hanya menganggapnya sebagai mitos. Seorang profesor dari Universitas Kagoshima, Hiroyuki Motomura dalam pernyataannya kepada South China Morning Post mengatakan dia percaya ikan laut dalam yang mati dan terdampar mungkin telah sakit dan akhirnya mati.

(Foto: The Japan News)

Hiroyuki menjelaskan,: “Saya telah mengumpulkan sekitar 20 spesimen spesies ikan ini dan ia bukan spesies yang unik lagi jarang ditemukan. Namun, saya percaya ikan ini cenderung muncul di permukaan ketika kondisi fisik mereka menjadi lemah, dan akan mengapung di permukaan laut dengan mengikuti arus. Itulah sebabnya kita sering dapat melihat bahwa ikan ini telah mati ketika ditemukan. “

Dia menambahkan,: “Laporan yang relevan tentang aktivitas seismik telah berlangsung selama bertahun-tahun, tetapi tidak ada bukti ilmiah tentang relevansinya dengan gempa Bumi dan tsunami, jadi saya pikir orang tidak perlu khawatir tentang hal itu.”(yant)

Sumber: Erabaru.my

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular