oleh Lin Yan-Epochtimes.com

Hasil penelitian terbaru JP Morgan Chase menyebutkan bahwa perusahaan BUMN zombie Tiongkok menimbulkan ancaman besar bagi perekonomian negara tersebut, dan yang sedang  menyeret turun pertumbuhan ekonominya.

Kekhawatiran terbesar tentang stabilitas keuangan dan pembangunan yang berkelanjutan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi Tiongkok adalah masalah utang mereka yang terus membengkak, terutama obligasi korporasi. Demikian disebutkan dalam sebuah laporan yang dirilis perusahaan investasi JP Morgan baru-baru ini.

Obligasi korporasi Tiongkok merupakan yang tertinggi di dunia, menduduki 162 % dari produk domestik bruto (PDB) Tiongkok, sedangkan obligasi korporasi merupakan bagian terbesar dari perusahaan milik negara yang juga dikenal sebagai perusahaan zombie. Arti dari perusahaan Zombie adalah mengacu pada perusahaan yang hidup segan mati pun tak mau. Perusahaan ini hanya bertahan hidup dengan menggantungkan subsidi pemerintah atau pinjaman bank.

Laporan JP Morgan memperingatkan bahwa ekonomi Tiongkok mungkin dipaksa untuk mengadopsi kebijakan suku bunga nol demi menangani risiko utama dalam perekonomian Tiongkok, yakni sejumlah perusahaan BUMN Zombie.

BACA JUGA : Ketika Fenomena Krisis Ekonomi Bermunculan, Menunjuk Janji Reformasi Xi Jinping

Tim dari ekonom Zhu Haibin, Kepala Ekonom JP Morgan Tiongkok mengatakan bahwa, untuk menangani masalah utang komunis Tiongkok diperlukan reformasi kebijakan yang serius dan jangka panjang terlebih dahulu.

Saat ini, pelambatan ekonomi Tiongkok telah tampak, bersama dengan itu muncul juga potensi  krisis lainnya – termasuk kinerja buruk Indeks Pembelian Manajer (PMI), penurunan ekspor, tenaga kerja yang menua, lonjakan utang rumah tangga dan lainnya.

Karena komunis Tiongkok mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan mengabaikan  upayanya untuk memperkuat kemampuan korporasi yang lemah dalam pembayaran hutangnya, JP Morgan memperkirakan bahwa potensi pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan menurun dari sekarang yang 6.5 % menjadi 5.5 % antara tahun 2021~2025, dan menurun lagi menjadi 4.5 % antara tahun 2026~2030.

Mereka juga mengatakan bahwa dalam masa proses transisi perlambatan pertumbuhan ekonomi mungkin akan muncul situasi tidak stabil, perlu menyeimbangkan reformasi. Dan, akan membentuk kembali peran Tiongkok dalam ekonomi global.

Perang dagang AS – Tiongkok telah menjadi berita utama sepanjang tahun 2018, dan topik ini masih akan berlanjut pada tahun 2019, tetapi banyak ekonom telah mengangkat kekhawatiran tersebut : Masalah bagi Tiongkok sebenarnya bukanlah perang dagang AS – Tiongkok, tetapi masalah ekonomi Tiongkok yang sudah rapuh itu akan menjadi lebih parah pada tahun 2019.

Menurut prakiraan Bank for International Settlements, hingga akhir tahun 2019 ini, rasio utang Tiongkok terhadap PDB mereka dapat mencapai 275 %, naik dari 261 % pada tahun 2018.

BACA JUGA : Analisis Kepanikan Pejabat Komunis Tiongkok : Ketidakstabilan Politik?

Pada saat yang sama, tingkat leverage yang tinggi telah menjadi hambatan utama bagi komunis Tiongkok untuk melakukan reformasi. Begitu kehilangan dukungan pemerintah  dan memecahkan gelembung, maka risiko ketidakstabilan dalam sektor moneter akan meningkat. Namun, dengan tanpa memecahkan gelembung, ekonomi tidak akan berkembang dengan baik.

Jurnalis keuangan The Epoch Times He Jian pernah menyampaikan dalam tulisannya bahwa 2 situasi yakni menjamin pertumbuhan atau menurunkan tingkat beban (leverage) sudah menjadi pilihan yang dilematis bagi komunis Tiongkok. Jika tidak menurunkan leverage ekonomi Tiongkok akan runtuh di masa depan. Tetapi jika tidak menjamin pertumbuhan, Bagaimana saat ini bisa dilewati?

Dari situasi sekarang terlihat bahwa komunis Tiongkok semakin tidak percaya diri dapat secara lancar melakukan deleveraging untuk beralih ke model pasar terbuka.

BACA JUGA :Terhempasnya Ambisi Internasionalisasi Renminbi di Tengah Dolar AS yang Masih Terus Digdaya

Pada bulan Desember tahun lalu, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada penutupan Kongres Kerja Ekonomi oleh Komite Sentral PKT disebutkan bahwa, kegiatan ekonomi saat ini menunjukkan situasi stabil tetapi bisa berubah, ada rasa kekhawatiran dalam perubahan, situasi eksternal pun cukup kompleks dan menantang, ekonomi kita menghadapi tekanan ke bawah.

Pada 21 Januari lalu, Xi Jinping dalam pidato pembukaan seminar yang mengkaji pentingnya untuk memahami dan mematuhi garis bawah pemikiran, fokus pada pencegahan dan penanganan risiko besar yang dihadapi pemerintah menegaskan kepada pejabat tingkat propinsi untuk meningkatkan kemampuan dalam pencegahan dan pengendalian risiko utama, mempertahankan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan serta menjaga stabilitas sosial.

Dunia luar percaya bahwa ditinjau dari tema seminar di atas telah menunjukkan keprihatinan para pemimpin Tiongkok tingkat tinggi tentang penurunan ekonomi pada tahun 2019 ini. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular