Paris – Polisi Prancis kini harus berjuang untuk membendung arus imigran gelap yang melintasi gunung-gunung yang tertutup salju, di kota Basque Country, Bayonne, di kaki pegunungan Pyrenees. Pegunungan bersalju itu menghubungkan perbatasan antara Prancis dan Spanyol.

Spanyol menjadi titik masuk utama bagi orang Afrika yang melarikan diri dari perang dan kemiskinan. Terutama setelah pemerintah populis mengambil alih kekuasaan di Italia awal tahun lalu, dan sebagian besar negara Eropa lain menutup pelabuhan bagi para migran.

Lebih dari 58.000 imigran gelap diperkirakan mendarat di Spanyol dengan kapal pada tahun 2018, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi. Jumlah itu hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya, dan melampaui rekor untuk pertama kalinya, dalam hal jumlah imigran yang melewati Afrika Utara ke Italia.

Banyak imigran gelap yang terus bergerak menuju ke utara, dan melintasi perbatasan Prancis. Mereka diselundupkan dengan disembunyikan dalam truk, mengendarai bus, atau bahkan berjalan kaki. Mereka melintasi pegunungan yang memiliki puncak tertinggi 11.000 kaki. Pada musim dingin seperti saat ini, suhu kawasan itu sering-kali berada di bawah nol derajat.

“Rekan-rekan saya bekerja secara profesional. Akan tetapi, mereka menjadi sedih ketika mereka melakukan pencarian, membawa migran kembali ke perbatasan. Namun, mereka (para imigran) akan masuk kembali. Ini seperti mengosongkan lautan dengan sendok teh,” kata Patrice Peyruqueou, seorang petugas polisi di wilayah Pyrenees-Atlantiques, di barat daya Prancis.

Kurangnya sumber daya berarti polisi tidak dapat memantau semua titik lintas batas setiap saat, Peyruqueou menambahkan.

Uni Eropa telah berjuang untuk menyelesaikan ketegangan di antara negara-negara anggota atas kebijakan migrasi. Bahkan ketika jumlah keseluruhan yang datang dari Afrika dan Timur Tengah telah menurun tajam.

Ketika Spanyol menjadi titik fokus masalah pengungsi, Bayonne, yang berada 25 mil di utara perbatasan, kini sedang bergulat dengan situasi kemanusiaan yang membebani keuangan kota. Walikota Jean-Rene Etchegaray pun harus berselisih dengan perwakilan lokal dari kementerian dalam negeri Prancis.

Pada Tahun Baru, Etchegaray meminta dana kepada kantor kementerian dalam negeri setempat untuk membantu membiayai jalannya pusat penerimaan imigran yang dijuluki ‘La Pausa’. Ada sekitar 150 migran pada setiap waktu, dapat beristirahat selama tiga hari, yang membutuhkan bantuan makanan dan pakaian.

Tetapi pejabat lokal kementerian dalam negeri saat itu, Gilbert Payet, menolak memberikan dukungan untuk pusat itu. Dia beralasan hal itu justru membantu mendorong dan meningkatkan pergerakan para migran prancis di seluruh Prancis.

Etchegaray pun tertegun. “Ini masalah kemanusiaan,” kata sang Walikota kepada stasiun radio lokal. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular