Seorang mahasiswa pertukaran Tiongkok yang baru-baru ini dijatuhi hukuman karena memotret secara ilegal fasilitas angkatan laut AS di Florida berasal dari sebuah universitas Tiongkok yang memiliki ikatan mendalam dengan militer Tiongkok.

Zhao Qianli, 21 tahun, warga negara Tiongkok dari Provinsi Shanxi, dijatuhi hukuman satu tahun penjara federal setelah mengaku bersalah memotret instalasi pertahanan di US Naval Air Station Key West, menurut siaran pers 5 Februari oleh Departemen Kehakiman AS . Dia juga harus menyelesaikan satu tahun dalam pengawasan setelah dibebaskan.

Zhao ditangkap pada 26 September 2018, setelah masuk tanpa izin di pangkalan Angkatan Laut dan menggunakan ponsel dan kamera digital untuk memotret. Dia diketahui telah memperpanjang masa visanya setelah belajar di program pertukaran pelajar musim panas.

Program tersebut telah berakhir pada bulan September, menurut artikel 5 Februari oleh Miami Herald; kampus AS tempat di mana Zhao belajar tidak diungkapkan.

Setelah menjalani hukumannya, Zhao akan dideportasi. Jika ia diizinkan masuk kembali ke Amerika Serikat oleh pejabat, ia harus melapor ke kantor masa percobaan AS dalam tempo 72 jam dari waktu kedatangan.

Hakim memberikan jangka waktu maksimum satu tahun kepada Zhao, lebih tinggi dari pedoman hukuman dari nol sampai enam bulan untuk pelanggarannya. Kantor pengacara A.S. di Miami telah mengajukan memorandum yang meminta agar Zhao dijatuhi hukuman sembilan bulan, karena perilaku-perilakunya yang tidak lazim dan untuk menggambarkan keseriusan pelanggaran tersebut.

Zhao mengatakan bahwa dia hanyalah seorang turis yang tersesat saat mengunjungi daerah itu. Namun menurut dokumen pengadilan, tidak ada foto dan video yang ditemukan di telepon seluler dan kamera digitalnya dari situs objek wisata di Key West. Hanya ada foto-foto pangkalan Angkatan Laut dan tanah lapang antena di pangkalan tersebut.

Saksi mata mengatakan mereka melihat Zhao berjalan langsung menuju area terlarang tempat antena berada dan memotret, meskipun ada tanda peringatan yang menunjukkan dengan jelas bahwa area tersebut terlarang.

Zhao tidak mengungkapkan banyak rincian ketika ditanya oleh pejabat AS. Mengenai latar belakang pendidikannya di Tiongkok, Zhao menyatakan bahwa ia berada di tahun keempat sarjana musiknya di Universitas Utara Tiongkok (North University of China). Namun, permohonan pengajuan visanya menunjukkan bahwa ia memulai studinya di sana pada tahun 2017, menurut dokumen pengadilan.

Selama interogasi, Zhao mengakui telah menerima pelatihan militer sebagai mahasiswa di Tiongkok, sebuah fakta yang tidak ia ungkapkan pada saat pengajuan visanya.

Para pejabat AS juga menemukan foto-foto di teleponnya tentang orang-orang berseragam, dalam apa yang tampak sebagai pelatihan militer di Tiongkok, serta “dokumentasi kurikulum kursus teknik universitas.” Ketika ditanya, Zhao mengatakan ia tidak ingat bagaimana foto-foto dan dokumen-dokumen itu ada di dalam ponselnya

Para pejabat juga telah menghadapkan bukti dengan sebuah baju polisi dan ikat pinggang yang mengindikasikan bahwa itu milik kementerian pemerintah Tiongkok; keduanya ditemukan di hotel Miami Beach tempat dia tinggal.

Zhao menyatakan bahwa barang-barang itu diberikan kepadanya oleh ayahnya sehingga dia bisa “memiliki pakaian bagus” untuk dipakai saat berada di Amerika Serikat.

HUBUNGAN MILITER TIONGKOK

Universitas Utara Tiongkok, tempat Zhao belajar, memiliki ikatan yang dalam dengan militer Tiongkok, berjalan lebih dari 50 tahun sejak berdirinya rezim Komunis Tiongkok.

Menurut situs web resmi universitas, kampus tersebut didirikan oleh Tentara Rute Kedelapan (Eighth Route Army), sebuah divisi di bawah komando Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama Perang Tiongkok-Jepang Kedua. Kampus itu kemudian berganti nama menjadi Taiyuan Institute of Machinery pada tahun 1958.

Pada tahun 1963, kampus dipindahkan ke administrasi Komite Pertahanan, Teknologi, dan Industri Nasional, sebuah badan pemerintah pusat. Ia menjadi salah satu dari delapan perguruan tinggi yang dianggap sebagai kunci industri pertahanan Tiongkok pada saat itu.

Sejak tahun 2011, pemerintah provinsi Shanxi dan Administrasi Negara untuk Sains, Teknologi, dan Industri untuk Pertahanan Nasional Tiongkok, State Administration for Science, Technology, and Industry for National Defense (SASTIND), telah memiliki administrasi bersama atas kampus tersebut. Yang terakhir adalah agen pemerintah pusat yang bertugas menyusun pedoman dan kebijakan yang memperkuat pasukan militer Tiongkok dengan peralatan yang lebih canggih.

Pada Juni 2015, Universitas Utara menjadi berita utama di media Tiongkok ketika kampus itu menjadi tuan rumah upacara pemindahan hasil penelitiannya ke militer Tiongkok: meriam serba guna 125mm baru dengan kemampuan anti-pesawat dan anti-tank. Kampus ini memimpin pengembangan meriam baru, dengan dukungan lebih dari 10 pusat penelitian teknologi pertahanan Tiongkok, menurut surat kabar corong Partai Komunis Tiongkok, Harian Rakyat (People’s Daily).

Kampus tersebut terus-menerus menikmati hubungan dekat dengan militer. Pada Oktober 2018, presiden kampus, Shen Xingquan, telah menandatangani perjanjian dengan China Aerospace Science and Industry (CASIC) milik pemerintah Tiongkok, terkenal karena mengembangkan rudal-rudal Tiongkok, untuk meningkatkan transfer pengembangan teknologi untuk militer dari dunia akademis, menurut sekolah itu. situs web.

Kampus itu juga telah mengumumkan pada Desember tahun lalu bahwa dua profesor telah dianugerahi total 2,48 miliar yuan (sekitar US$367 juta) dalam pendanaan oleh SASTIND untuk proyek-proyek terkait teknologi pertahanan.

KEBIJAKAN NASIONAL BEIJING

Universitas Utara juga berpartisipasi dalam kebijakan pembangunan dan rekrutmen nasional Beijing saat ini, “Made in China 2025″ dan ” Thousand Talents Plan” (Rencana Seribu Talenta).

Pada 13 Januari 2019, Shen, ketika memberikan pidato di kampus tentang pembentukan asosiasi provinsi bagi para ilmuwan dan pengusaha untuk mendorong pembuatan kecerdasan buatan yang telah ditingkatkan, mengatakan bahwa sangat penting bagi asosiasi tersebut untuk membantu mengimplementasikan kebijakan “Made in China 2025 ”.

Dia mengatakan dia telah membayangkan asosiasi yang memimpin dalam meningkatkan kesempatan yang diperlukan untuk mengubah teknologi yang dipatenkan menjadi produk-produk nyata, sehingga provinsi tersebut “tidak akan ketinggalan dalam kemajuan ‘Made in China 2025.'” Menurut situs web kampus, Shen diangkat menjadi wakil ketua asosiasi.

Kebijakan industri “Made in China 2025” telah diumumkan pada tahun 2015, dengan tujuan demi Tiongkok mencapai swasembada di 10 sektor manufaktur teknologi pada tahun 2025, termasuk teknologi informasi canggih, robot, dan peralatan-peralatan mesin otomatis.

Namun, rencana tersebut telah dikritik oleh pemerintah AS karena merusak kompetisi yang adil di pasar global, dan mendorong melakukan pencurian rahasia-rahasia dagang dan teknologi.

Pada bulan Desember 2008, Beijing telah meluncurkan “Thousand Talents Plan,” sebuah program rekrutmen oleh negara untuk menarik terutama para pebakat sains dan teknologi Tiongkok yang belajar atau tinggal di luar negeri untuk bekerja di Tiongkok. Sejak itu, rencana tersebut telah merekrut lebih dari 7.000 orang untuk pekerjaan di universitas, lembaga penelitian, atau perusahaan-perusahaan milik negara, menurut situs web program tersebut.

Menurut situs resmi Kementerian Pertahanan Nasional Tiongkok, dua anggota staf telah direkrut berdasarkan rencana tersebut untuk Universitas Utara pada Juli 2011.

Dalam sebuah artikel pada bulan April 2015, Shanxi News Net yang dikelola negara Tiongkok melaporkan bahwa Wang Wanjun, seorang profesor di Universitas Utara, telah direkrut melalui program talenta tersebut dari Louisiana State University. Sekembalinya Wang ke Tiongkok, Universitas Utara mendirikan pusat litografi, serta perusahaan litografi, setelah berhasil memperoleh dana 10 juta yuan (sekitar US$1,48 juta) dalam pendanaan. Litografi adalah langkah pembuatan penting dalam produksi chip semikonduktor.

Dalam artikel di Shanxi News, Wang mengatakan alasan dia memutuskan untuk kembali ke Tiongkok adalah karena kampus tersebut memberinya panggung “untuk melayani negaranya dan memulai bisnis.”

Menurut portal berita Tiongkok, Baidu, Wang telah direkrut melalui program talenta pada tahun 2010.

“Rencana Seribu Talenta” sejak itu telah ditandai oleh pejabat AS sebagai sarana untuk mentransfer teknologi dan kekayaan intelektual AS ke Tiongkok. (ran)

Video pilihan:

Diduga Mencuri Rahasia Autopilot Mobil, Seorang Staf Apple Asal Tiongkok Ditangkap

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds