Erabaru.net. Setelah bertahun-tahun kerja keras, perusahaan yang didirikan Liu Hong berkembang pesat. Dia adalah sosok orang yang ambisius. Setelah usahanya berkembang, dia berencana memperluas usahanya di selatan kota. Oleh karena itu, dia membutuhkan mitra yang dapat diandalkan.

Tiba-tiba terbersit dalam benak Liu Hong tentang teman sekampusnya dulu, Ming Tao. Dia adalah manajer divisi di perusahaan terkait di selatan kota.

Liu Hong menelepon Ming Tao dan menjelaskan prihal maksutnya. Setelah mendengar penjelasannya, Ming Tao langsung berkata kepadanya : “Aku pikir perusahaan kami sangat cocok untuk menjadi mitramu.”

Mendengar itu, Liu Hong tampaknya tidak sabar lagi untuk membuat janji ketemu dan survei sejenak ke perusahaan kantor tempat kerja Ming Tao.

Bos perusahaan Ming Tao adalah seorang wanita bernama Wu Mei. Wu Mei membawa Liu Hong mengunjungi perusahaannya dan membuat diskusi terperinci dengan Liu Hong.

Sehari sebelum Liu Hong meninggalkan kota itu, ia mengajak Ming Tao keluar untuk makan bersama.

“Memang benar katamu, perusahaan tempat kerjamu ini sangat cocok sebagai mitra kami” katan Liu Hong pada Mingtao yang terus menganggukkan kepalanya.

“Hei, kau kan tahu dengan karakterku, aku punya prinsip kalau memilih mitra kerjasama, orang itu harus baik dan dapat dipercaya, jujur, dan bertanggung jawab. Coba bocorkan sedikit mengenai bosmu itu, orangnya seperti apa menurutmu?” Tanya Liu Hong bertubi-tubi pada Ming Tao, yang merupakan sahabatnya semasa kuliah.

“Aku juga baru setahun di sini dan tidak banyak yang kutahu mengenai kepribadiannya. Tapi secara keseluruhan, Wu Mei orangnya baik, hanya saja ada satu hal yang agak aneh,”kata Ming Tao.

“Apa?” Sahut Liu Hong terperanjat sambil membelalakkan matanya.

“Pernah dua kali aku tanpa sengaja mendengar percakapannya dengan ibunya di telepon, dia bilang zaman sekarang susah mencari uang, biaya transportasi juga mahal, jadi tidak pulang dulu ke kampung.” Cerita Ming Tao.

“Jelas-jelas dia sangat kaya, tapi mengapa harus berbohong, selain itu, aku juga mendengar Wu Mei sudah lima tahun tidak pernah pulang ke kampung menjenguk ibunya. Sebagai seorang anak kan tidak boleh seperti itu, tapi sepertinya Wu Mei bukan orang seperti itu deh, ” lanjut Ming Tao

“Oh, begitu ya,” sahut Liu Hong sambil menganggukan kepala dan merenung.

Tak lama kemudian, Liu Hong memutuskan untuk mencari tahu mengenai Wu Mei. Setelah mendapatkan alamat tempat tinggal Wu Mei di kampung, Liu Hong pun segera ke sana sendirian.

Dan Liu Hong baru tahu latar belakang mengenai Wu Mei setelah ia bertanya kepada penduduk desa setempat.

Ternyata, saat Wu Mei berusia 14 tahun, orangtuanya meninggal dan sejak itu menjadi yatim piatu. Wu Mei punya teman sekelas bernama Ling Ling. Ibu Ling Ling adalah orang yang ramah dan baik hati, dialah yang dengan susah payah membantu membiayai sekolah Wu Mei. Dan atas perhatiannya itu Wu Mei sangat berterima kasih kepada ibu Ling Ling dan menganggapny seperti ibunya sendiri.

Belakangan, tak lama setelah Wu Mei bekerja, Ling Ling,meninggal karena penyakit yang menderanya, dan itu merupakan pukulan berat bagi ibunya.

Dia mengalami sedikit gangguan mental saking sedihnya, setiap hari menangis sedih meratapi kepergian Ling ling, anak semata wayangnya dan berkali-kali bermaksud mengakhiri hidupnya, namun berhasil dicegah oleh penduduk desa.

Kemudian, suatu hari Wu Mei menelepon ibu mendiang Ling Ling untuk menghiburnya, namun oleh ibunya Ling Ling, dikira itu suara Ling ling, dan seketika tertawa senang.

Wu Mei pun berpikir, jika itu bisa membuat ibu Ling Ling merasa lebih baik, maka tidak ada salahnya terus bersandiwara dan pura-pura menjadi anak perempuannya.

Jadi, sejak itu Wu Mei sering menelepon ibunya mendiang Ling Ling dan setiap bulan mengirim uang.

Tetapi dia sendiri tidak berani pulang, karena takut nanti ibu mendiang Ling Ling melihatnya, maka sandiwaranya akan ketahuan. Karena itulah Wu Mei selalu mencari-cari alasan belum bisa pulang ke kampung untuk menjenguknya.

Semua itu dia lakukan supaya ibu mendiang Ling ling bisa terus hidup di dunia mimpinya seakan Ling Ling, anak perempuannya itu masih hidup.

Setelah memahami kondisi Wu Mei, Liu Hong segera menelepon Wu Mei dan berkata, “Bu direktur, saya sangat berharap dapat bekerja sama dengan Anda. Bisakah kita bertemu untuk membahas prihal terkait lebih lanjut ?”(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds