Li Muyang

Pada 6 Februari Rusia mengumumkan akan menarik diri dari Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty. INF) dalam waktu enam bulan mendatang.

Menteri Pertahanan Rusia Shoygu mengatakan sehari sebelum kemarin bahwa Rusia akan membangun sistem rudal jarak jauh berbasis darat, dan pengembangan rudal dengan jangkauan lebih dari 500 kilometer akan segera dimulai. Ia mengatakan bahwa ini juga disebabkan karena Amerika Serikat menarik diri dari traktat tersebut.

Apakah komunis Tiongkok menjadi sasaran penarikan diri Amerika Serikat dan Rusia ?

Dua hari lalu, Trump dalam pidato kenegaraannya mengatakan bahwa alasan menarik diri dari Traktat INF adalah karena AS tidak ada pilihan lain.

Amerika Serikat mematuhi perjanjian itu, tetapi Rusia telah berulang kali melanggar dan hal itu telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Trump mengatakan bahwa mungkin melalui negosiasi akan tercipta sebuah perjanjian yang berbeda, tetapi itu harus menyertakan komunis Tiongkok dan negara-negara lain. Jika tidak memungkinkan, maka Amerika Serikat akan memasukkan lebih banyak usaha pengembangan daripada negara lain.

Menanggapi masalah kedua negara menarik diri dari traktat, John C. Rood, Wakil Menteri Pertahanan AS mengatakan, penarikan diri Rusia dari traktat tidak akan menambah kekhawatiran baru AS.

Beberapa analis percaya bahwa penarikan diri Amerika Serikat dan Rusia dari traktat meskipun tampaknya seperti perkelahian antara kerang dengan burung snipe, masing-masing ingin memamerkan kekuatan senjata, tetapi sasaran sebenarnya mungkin sama yakni ditujukan kepada komunis Tiongkok.

Seperti diketahui semua orang, Amerika Serikat pada 2 Pebruari mengumumkan bahwa mereka akan menangguhkan kewajibannya yang digariskan dalam Traktat INF dan memulai prosedur penarikan. Pada hari itu juga, Presiden Rusia Vladimir Putin juga melakukan hal yang sama.

Di luar Traktat, Komunis Tiongkok dengan cepat memperbanyak jumlah rudal

Pada hari ketika Amerika Serikat dan Rusia menarik diri dari Traktat INF, Kementerian Luar Negeri Tiongkok langsung mengeluarkan pernyataan penolakannya dengan mengatakan bahwa traktat tersebut sangat penting untuk menjaga perdamaian.

Komunis Tiongkok mengatakan bahwa penarikan AS dan Rusia itu sangat disesalkan, dan mendesak kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah melalui dialog. Namun, komunis Tiongkok menentang gagasan yang akan melibatkannya dalam sebuah perjanjian baru.

Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan AS – Tiongkok (USCC) yang berada di bawah Kongres AS percaya bahwa sikap komunis Tiongkok ini menunjukkan, Beijing mengakui bahwa perjanjian itu memiliki batasan terhadap Amerika Serikat dan Rusia, tetapi tidak membatasi komunis Tiongkok untuk mempromosikan kepentingan sendiri. Salah satu pertimbangan penting di balik niat Amerika Serikat menarik diri dari traktat tersebut adalah alasan mengenai komunis Tiongkok.

Pesawat tempur F-16 AS dan rudal udara-ke-udara jarak menengah AIM-120. (Angkatan Udara AS)

Dalam laporan mereka yang dirilis bulan lalu telah dijelaskan : Perbedaan menonjol dari pembatasan yang diberlakukan terhadap Amerika Serikat dan Rusia adalah karena komunis Tiongkok tidak termasuk dalam traktat, sehingga ia dapat dengan leluasa ‘memperluas gudang rudal’ dengan tujuan untuk memerangi strategi militer AS dan pasukan Sekutu di Asia.

Rebeccah L. Heinrichs, seorang peneliti senior dari Institut Hudson, Amerika Serikat mengatakan kepada VOA bahwa ada banyak jenis rudal, 90% di antaranya kemungkinan telah melanggar ketentuan traktat. Dan karena itu menentang Amerika Serikat menarik diri dari Traktat INF.

“Ini sangat menarik,” Kata Rebeccah. Tidak ada negara selain Amerika Serikat yang terikat oleh perjanjian tersebut. “Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang telah dibatasi”.

Rusia sebelumnya telah mengusulkan untuk menyertakan Tiongkok, Korut, Iran dan lainnya

Rusia juga menyampaikan pandangan yang sama. Setelah Rusia mengumumkan untuk menangguhkan kewajibannya yang digariskan dalam Traktat INF. Media Rusia dan para ahli mengatakan bahwa AS dan Rusia itu sudah ketinggalan zaman.

Perjanjian multilateral baru harus ditandatangani, dan Beijing, yang telah mengambil kesempatan untuk mengembangkan rudal jarak menengah dan pendek, juga harus dimasukkan dalam ruang lingkup pembatasan yang baru itu.

Vladimir Shamanov, ketua Komite Pertahanan Duma Rusia mengatakan bahwa dalam setidaknya 10 tahun terakhir, ia telah membuat rekomendasi : Jika Amerika Serikat juga menganggap pantas untuk menandatangani Traktat INF yang baru, harus memasukkan negara-negara seperti Tiongkok, Korea Utara, Iran, Pakistan, India dan lainnya yang sudah memiliki teknologi rudal yang relevan, ke dalam ruang lingkup pengikatan dan menandatangani traktat secara bersama. Traktat itu bukan lagi bilateral tetapi multilateral.

Mengapa Amerika Serikat dan Rusia menarik diri dari Traktat INF , tetapi ujung tombaknya diarahkan ke komunis Tiongkok ? Deutsche Welle melaporkan bahwa traktat yang ditandatangani 30 tahun lalu antara Amerika Serikat dengan Rusia itu adalah sebuah komitmen untuk menghancurkan semua rudal yang mereka miliki, dan tidak lagi memproduksi atau menguji rudal balistik darat baru dengan jangkauan 500 hingga 5.500 kilometer, yang merupakan kerangka dasar dari keamanan regional.

Namun, komunis Tiongkok yang tidak termasuk dalam perjanjian itu telah mengambil kesempatan untuk mengembangkan senjata semacam itu dalam 30 tahun terakhir ini. Kementerian Pertahanan AS memperkirakan bahwa komunis Tiongkok memiliki sekitar 1.000 hingga 2.000 rudal jarak pendek dengan jangkauan 1.000 kilometer. Semua ini merupakan rudal yang masuk kategori dibatasi oleh Traktat INF.

Ahli militer Rusia menunjukkan bahwa komunis Tiongkok memiliki pengembangan tercepat dalam rudal jarak menengah dan pendek. Jadi membiarkan Beijing tetapi melarang Amerika Serikat dan Rusia mengembangkan rudal adalah tindakan yang tidak adil.

Penarikan AS juga menjadi tekanan bagi Rusia untuk mendesak komunis Tiongkok

Seperti yang diketahui semua orang, Traktat INF ini memiliki satu poin khusus : Sepenuhnya melarang peluncuran rudal. Ini juga menjadi alasan mengapa komunis Tiongkok sangat menentang untuk diikutsertakan dalam traktat yang baru.

Wolfgang Richter dari Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Politik (SWP) mengatakan bahwa komunis Tiongkok menggunakan rudal-rudal untuk memblokir wilayah Laut Timur dan Laut Selatan melawan armada kapal induk AS yang memberikan perlindungan bagi Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Jika komunis Tiongkok bergabung dengan perjanjian itu, berarti mereka harus membatasi sejumlah besar rudal. dan Amerika Serikat tidak perlu menyerahkan apa pun karena ia bergantung pada senjata di laut dan di udara.

Vladimir Mazegov, seorang ahli urusan internasional dari Rusia mengatakan bahwa Moskow sendiri tidak ingin Traktat INF dihapuskan. Karena jika begitu maka rudal NATO yang tersebar di Estonia, Polandia dan tempat-tempat lain dalam 3-4 menit bisa tiba di Moskow.

Vladimir Mazegov menjelaskan bahwa keputusan Trump itu tidak hanya diarahkan kepada Rusia, ia memiliki visi strategis yang luar biasa. Presiden Amerika Serikat yang paling sukses ini memang brilian, dengan menarik diri dari Traktat INF Ia telah mencapai berbagai tujuan pada saat yang bersamaan. Yang paling penting adalah memaksa Moskow mendesak Beijing. Trump tidak hanya memecahkan masalah yang timbul di permukaan, tetapi juga bertujuan mengatur geostrategis. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds