Erabaru.net. Seorang bocah laki-laki berusia 3 tahun dari bagian Timur Laut Provinsi Fujian diketahui telah dijual seharga 120.000 yuan (sekitar Rp 248 juta) oleh kedua orangtuanya tahun lalu, kini telah dikembalikan di bawah perawatan kakeknya.

(Foto: Weibo)

Menurut laporan Beijing Youth Daily , seorang petugas polisi dari Kota Jinjian baru-baru ini mengembalikan anak itu setelah bocah itu ditemukan bersama pasangan yang membelinya pada bulan Januari lalu.

Anak laki-laki tersebut sebelumnya telah dijaga oleh kakek-neneknya dari bapaknya sejak anak itu erumur delapan bulan. Sampai ibu dan ayahnya datang berkunjung seperti biasa, lalu membawanya.

Pada bulan Desember, kakek pergi mengunjungi putranya yang bersalah atas tuduhan terkait narkoba di penjara. Di sana, dia mengetahui tentang cucunya yang telah dijual.

Polisi telah memastikan keberadaan bocah itu dan orangtua angkatnya pada Januari. Hasil tes DNA mengkonfirmasi bahwa ada hubungan ilmiah antara anak dengan kakek tersebut.

“Bagaimana mereka bisa begitu kejam? Saya dan istri saya masih bisa merawat jika mereka tidak bisa. Teganya mereka menjual darah mereka sendiri? ” Kakek ini sangat kecewa dengan tindakan anak dan menantunya.

Setelah polisi menanyai orangtua pasangan itu, mereka mendapati bahwa pria dan istrinya telah setuju untuk menjual putra mereka kepada pasangan di sebuah taman di Jinjiang pada 17 Januari. Orangtua dari anak itu yang telah berpisah, kemudian membagi hasil dari penjualan untuk mereka berdua, masing-masing menghasilkan 60.000 yuan (sekitar Rp 124 juta ).

“Pada kunjungan terakhir pasangan itu, mereka mengatakan bahwa mereka berhak menentukan hidup anak mereka sendiri. Sebelumnya, mereka sering membawa anak mereka keluar dan akan membawa mereka kembali di malam hari ,” kisah kakek itu.

Orangtua bocah itu kini menghadapi dakwaan kriminal, sementara pembelinya telah ditahan oleh polisi.

Kisah ini bukan cerita yang pertama kali dilaporkan di daerah Jinjian karena pada bulan Agustus, seorang ibu telah menjual bayinya yang berusia 7 bulan dan anak keduanya dengan harga 50.000 yuan (sekitar Rp103 juta). Alasannya adalah dia terlalu lelah untuk membesarkan dua anak, Sanqin Daily melaporkan.

Insiden baru-baru ini telah menarik perhatian publik sehubungan dengan masalah perdagangan anak dan sindikat adopsi anak secara ilegal. Ternyata itu sangat mengganggu karena banyak yang menyatakan pendapatnya agar pelaku dijatuhi hukuman berat.

“Apa yang akan dilakukan orangtua setelah dibebaskan? Apakah tindakan memberikan hak asuh kepada kakek-nenek itu tindakan yang baik? ” Tanya seorang pengguna Weibo.

Di bawah hukum Tiongkok, untuk pelanggaran yang melibatkan perdagangan wanita dan anak-anak biasanya akan dipenjara selama 5-10 tahun. Dalam kasus lain, pengadilan juga menjatuhkan hukuman mati.

Sebagai catatan, Tiongkok adalah negara terbesar kedua di dunia dengan masalah perdagangan anak, di mana pelaku biasanya bersalah karena terlibat dengan adopsi ilegal.

Namun, tidak ada catatan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah, tetapi Kementerian Keamanan Publik mengatakan 538 anak dilaporkan hilang tahun lalu. Angka tersebut mencapai rekor tertinggi pada tahun 1990, sebanyak 34 000 orang, berdasarkan analisis data yang dilakukan oleh kementerian bersangkutan.(yant)

Sumber: Erabaru.my

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular