ISTANBUL – Turki meminta Tiongkok untuk menutup kamp-kamp penahanan umat Islam, dengan mengatakan kamp-kamp itu, yang kabarnya menampung jutaan orang etnis Uighur, adalah “penghinaan besar bagi umat manusia.”

Pekan lalu, para aktivis hak-hak asasi manusia mendesak negara-negara Eropa dan Muslim untuk memimpin dalam penyelidikan PBB ke bagian dalam penahanan Tiongkok dan “indoktrinasi paksa” terhadap orang-orang Uighur, yang berbicara bahasa Turki, dan Muslim lainnya di wilayah jauh di barat laut Tiongkok dikenal sebagai Xinjiang.

“Kebijakan asimilasi sistematis terhadap orang-orang Turk Uighur yang dilakukan oleh pihak berwenang Tiongkok adalah penghinaan besar bagi umat manusia,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy dalam sebuah pernyataan pada 9 Februari.

“Bukan lagi rahasia bahwa lebih dari 1 juta tahanan bangsa Turk Uighur yang diberlakukan sewenang-wenang menjadi sasaran penyiksaan dan pencucian otak politik di kamp-kamp penahanan dan penjara-penjara,” kata Aksoy.

Mantan-mantan tahanan telah menceritakan pelanggaran hak asasi manusia di dalam fasilitas-fasilitas tersebut, seperti penyiksaan, narkoba, dan pemerkosaan.

Tanggapan Turki dilakukan setelah kematian dalam tahanan seorang penyair dan musisi Uighur Abdurehim Heyit, yang menurut Aksoy adalah sebuah tragedi yang telah “memperkuat reaksi opini publik Turki terhadap pelanggaran serius hak asasi manusia yang dilakukan di wilayah Xinjiang. Kami berharap tanggapan sah ini diperhitungkan oleh otoritas Tiongkok.”

“Pada kesempatan ini, kami meminta otoritas Tiongkok untuk menghormati prinsip-prinsip hak asasi manusia etnis Turk Uighur dan untuk menutup kamp-kamp penahanannya,” katanya.

Kedutaan besar Tiongkok di Ankara memposting tanggapan panjang di situs webnya yang mengatakan tuduhan Aksoy itu salah dan mendesak pemerintah tersebut untuk mencabutnya.

“Tuduhan-tuduhan bahwa pemerintah Tiongkok berusaha untuk ‘menghilangkan’ etnis, agama, dan identitas budaya Uighur dan Muslim lainnya sama sekali tidak berdasar,” katanya.

Beijing sedang menghadapi tekanan internasional yang terus meningkat karena ia masih terus menggunakan alasan memerangi terorisme dan radikalisasi untuk menganiaya umat Islam Uighur.

Ankara meminta komunitas internasional dan sekretaris jenderal PBB untuk mengambil tindakan.

Baru-baru ini, warga Xinjiang mengatakan kepada media bahwa beberapa pejabat setempat telah mengundang orang-orang Uighur ke jamuan Tahun Baru Imlek di mana daging babi dan alkohol disajikan, dan mengancam akan mengirim para undangan tersebut ke “pusat pendidikan ulang” jika mereka menolak. Mengkonsumsi keduanya sangat dilarang dalam Islam.

Dilxat Raxit, juru bicara World Uighur Congress, sebuah organisasi untuk orang-orang Uighur di pengasingan, baru-baru ini mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa upaya-upaya yang baru terjadi tersebut adalah percobaan terbaru rezim Tiongkok untuk memaksa Uighur menyerahkan budaya dan adat mereka.

“Menurut informasi kami, pemerintah Tiongkok sedang meningkatkan kampanye untuk mengasimilasi orang-orang Uighur ke dalam budaya etnis Han Tiongkok,” katanya. Etnis Han adalah kelompok etnis mayoritas di Tiongkok. (ran)

Video pilihan:

Tiongkok Memoles Kamp Penahanan Uighur, untuk Hindari Inspeksi Internasional

Share

Video Popular