Rezim Tiongkok secara tidak langsung mempertanyakan ketegasan tentang tenggat waktu 1 Maret untuk Beijing dan Washington dalam mencapai kesepakatan perdagangan, ketika babak baru pembicaraan perdagangan antara kedua negara tersebut dimulai.

Pada 10 Februari, beberapa outlet media yang dikelola pemerintah menerbitkan kembali sebuah opini yang mengatakan bahwa tenggat waktu 1 Maret adalah “topik opini publik yang dibuat oleh pihak AS,” dan bahwa itu bisa diundur ke tanggal sesudahnya, seperti 1 Mei.

Artikel opini itu sendiri, bukan pernyataan resmi oleh rezim Tiongkok, pertama kali dipublikasikan di akun media sosial bernama “Taoran Notes” pada aplikasi pengiriman pesan populer WeChat pada 10 Februari. Taoran Notes dioperasikan oleh surat kabar yang dikelola pemerintah, Economic Daily. Artikel tersebut kemudian diposting kembali oleh sejumlah outlet media yang dikelola pemerintah termasuk People’s Daily dan Beijing Daily, yang memberikan isyarat dukungan resmi untuk posisi ini.

Kedua negara saat ini sedang mencoba untuk menegosiasikan kesepakatan perdagangan sebelum 1 Maret, ketika tarif-tarif AS untuk impor Tiongkok senilai US$200 miliar dijadwalkan meningkat menjadi 25 persen dari 10 persen saat ini.

Batas waktu tersebut telah dinegosiasikan antara Presiden Donald Trump dengan pemimpin Tiongkok Xi Jinping setelah menyetujui perdamaian sementara gencatan tarif selama 90 hari saat pertemuan di sela-sela KTT G-20 di Argentina pada 1 Desember.

“Semua orang fokus pada apakah Tiongkok dan Amerika Serikat dapat mencapai kesepakatan atau pemahaman tentang perdagangan menjelang 1 Maret,” bunyi artikel opini tersebut.

“Tetapi pada kenyataannya, pada pertanyaan ini, orang mungkin telah jatuh ke dalam perangkap ‘pengaturan agenda’ oleh Amerika Serikat,” lanjut artikel tersebut. “Gagasan tenggat waktu 1 Maret sebenarnya adalah alat yang digunakan untuk melanjutkan pembicaraan perdagangan Tiongkok-AS.”

Artikel itu masih terus mengecilkan arti penting tenggat waktu tersebut: “Jika pembicaraan berjalan baik, tetapi kesepakatan tidak dapat dicapai pada 1 Maret karena masalah teknis, maka seharusnya tidak ada masalah untuk ditunda selama dua bulan lagi, Umpamanya, seharusnya akan menjadi baik untuk diperpanjang hingga 1 Mei,” bunyi artikel.

Kutipan tersebut beredar di media sosial Tiongkok tepat sebelum kedua negara dijadwalkan untuk melanjutkan pembicaraan perdagangan di Beijing.

Diskusi tingkat kerja antara pejabat-pejabat perdagangan Tiongkok dengan AS dimulai 11 Februari, dengan pihak AS dipimpin oleh wakil perwakilan perdagangan Jeffrey Gerrish.

Diskusi-diskusi tingkat tinggi telah dijadwalkan akhir pekan ini, di mana perwakilan perdagangan AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin akan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He.

Kedua belah pihak membuat gerakan optimis masuk ke putaran pembicaraan terbaru ini.

Konselor senior Gedung Putih Kellyanne Conway, dalam wawancara dengan Fox News pada 11 Februari, menyatakan keyakinannya bahwa kedua negara semakin dekat dengan perjanjian perdagangan. Sisi Tiongkok juga berharap “untuk melihat hasil yang baik,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying pada konferensi pers di Beijing pada hari yang sama.

Rezim Tiongkok telah berusaha mengecilkan makna batas waktu 1 Maret sejak pertemuan puncak G-20.

Segera setelah KTT, pernyataan-pernyataan resmi dan laporan-laporan dari media pemerintah Tiongkok tidak merujuk pada batas waktu 90 hari untuk negosiasi-negosiasi. Namun, beberapa outlet telah mulai mengarahkan perhatian tentang tenggat waktu tersebut sesudahnya.

Sebaliknya, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan pada 1 Desember yang mengatakan Trump dan Xi telah sepakat untuk mencapai kesepakatan “dalam 90 hari ke depan,” mencatat secara eksplisit bahwa kenaikan tarif AS untuk impor Tiongkok akan mulai berlaku “jika sampai akhir dari periode waktu ini, para pihak tidak dapat mencapai kesepakatan.”

Lighthizer mengklarifikasi pada bulan Desember bahwa 1 Maret adalah “saat terakhir yang sulit.” (ran)

Video pilihan:

Dilema Tiongkok Hadapi Dialog Dagang Amerika Serikat

Share

Video Popular