Dukungan Beijing untuk rezim Venezuela di bawah Nicolás Maduro telah diperluas dengan menyensor posting-posting media sosial netizen Tiongkok yang mengkritiknya.

Pada 29 Januari, Zhao Weidong dari Provinsi Shaanxi, Tiongkok utara dipanggil polisi setempat dan dikenakan denda administrasi 500 yuan (US$74) karena me-retweet sebuah posting akun Twitter yang berbasis di AS @brother_chui, menurut laporan 11 Februari oleh Radio Free Asia (RFA).

“Bagaimana Venezuela berubah dari yang semula negara demokrasi terkaya di dunia menjadi negara sosialis totaliter?” tweet asli muncul pada 20 Januari. Zhao me-retweet posting tersebut dari akun Twitter-nya, @ctm10001.

Twitter telah diblokir di dalam Tiongkok tetapi banyak orang Tiongkok menggunakan perangkat lunak seperti VPN untuk menerobos firewall Tiongkok.

Pemerintah Maduro memiliki ikatan kuat dengan Tiongkok, terbukti dalam komentar yang dibuat oleh Delcy Rodríguez, wakil presiden Venezuela, saat menghadiri resepsi Tahun Baru Imlek yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Tiongkok di Caracas pada bulan Januari.

“Venezuela memiliki semua minyak yang dibutuhkan Tiongkok,” katanya.

Tweet @brother_chui membidik kebijakan-kebijakan Maduro, menyebutkan bahwa setelah mengambil alih kekuasaan, Maduro telah mengubah konstitusi, memenjarakan para pembangkang, menekan media, dan menerapkan sistem-sistem pengawasan massal Tiongkok.

Sebagai contoh, pada bulan November tahun lalu, Reuters melaporkan bahwa raksasa teknologi Tiongkok, ZTE, adalah arsitek utama di balik peluncuran program kartu ID pintar baru-baru ini di Venezuela, yang mengirimkan informasi tentang para pemegang kartu ke server pemerintah. Kartu ID atau identitas ini terkait dengan banyak program sosial pemerintah yang diandalkan Venezuela. Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mengkritik sistem kartu ID tersebut karena kemampuan-kemampuan memantaunya yang luas.

Polisi setempat menetapkan retweet Zhao sebagai “informasi palsu,” menurut salinan dokumen polisi yang dilihat oleh RFA.

Wu Bin, seorang aktivis kebebasan berbicara online Tiongkok yang juga menggunakan nama panggilan, Xiucai Jianghu, mengatakan kepada RFA bahwa dia harus menghapus tweetnya berkaitan dengan denda Zhao, setelah dia sendiri dikunjungi oleh polisi keamanan negara Tiongkok.

“Itu menggelikan; sekarang Anda tidak hanya didenda karena mengkritik [pemerintah] kita sendiri, Anda juga bisa didenda karena mengkritik negara asing,” kata Wu kepada RFA. Dia menambahkan bahwa “tidak ada kebebasan berekspresi di negara ini, maupun rasa aman.”

Seorang pengguna Twitter dengan nama keluarga Wang mengatakan kepada RFA bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah menyensor berita-berita perkembangan di Venezuela setelah pemimpin oposisi Juan Guaido mulai menerima pengakuan internasional sebagai presiden sementara untuk negara Amerika Selatan tersebut.

Tweet Wang menjelaskan bahwa PKT tidak ingin gerakan perlawanan memengaruhi orang-orang Tiongkok untuk memulai gerakan politik.

He Jiangbing, seorang ekonom Tiongkok dan komentator media sosial, juga mengatakan kepada RFA, “Mereka masih berusaha mencegah revolusi warna lainnya,” merujuk pada gerakan politik di Eropa Timur pada tahun 1980-an dan 1990-an yang telah menggulingkan rezim otoriter.

Beijing memiliki reaksi serupa ketika Revolusi Melati, sebuah pemberontakan rakyat di Tunisia melawan korupsi dan penindasan politik di bawah kepemimpinan mantan presiden Zine El Abidine Ben Ali, pecah antara Desember 2010 dan Januari 2011. Rezim Tiongkok menyensor kata “melati” di internet dan melarang penjualan bunga di beberapa pasar di Beijing.

Sejak November tahun lalu, otoritas Tiongkok telah menargetkan para pengguna Twitter di Tiongkok. Pembangkang di beberapa kota dan provinsi Tiongkok, termasuk Beijing, Shandong, dan Guangdong, semuanya baru-baru ini menemukan akun-akun Twitter mereka telah ditutup secara paksa oleh otoritas Tiongkok.

Pembangkangan dan pengacara hak asasi manusia Tiongkok, Chen Yunke, dan pembangkang Ye Jinghuan melihat akun Twitter mereka telah diretas oleh otoritas Tiongkok, yang membuat bukti palsu dengan konten “terlarang” untuk memberatkan mereka. (ran)

Video pilihan:

Sosialisme Membuat Venezuela Terpuruk, dari Negara Kaya Menjadi Miskin

Share

Video Popular