Erabaru.net- Dua kasus tindakan kriminal masing-masing terjadi di Amerika Serikat dan Australianyang dilakukan oleh 2 orang asal Tiongkok yang sama-sama pernah mengenyam pendidikan di akademi militer yakni North University of China, Shanxi. Dicurigai sebagai pelaku kegiatan mata-mata oleh kedua negara dan universitas tersebut diduga sebagai sekolah spionase milik komunis Tiongkok.

Mantan personel intelijen angkatan laut daratan Tiongkok mengatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok meluncurkan program spionase di negara asing dengan sebutan “Burung Layang-layang” yang pelakunya adalah siswa dari universitas tersebut yang berada di luar negeri.

Mahasiswa Tiongkok mengaku bersalah di pengadilan telah memotret fasilitas militer AS

Zhao Ganli, mahasiswa berusia 20 tahun dari North University of China di Provinsi Shanxi telah dijatuhi hukuman 1 tahun penjara oleh pengadilan AS karena memotret fasilitas militer AS pada 5 Februari.

Pada September tahun lalu, Zhao Ganli memasuki Stasiun Udara Angkatan Laut di Key West, Florida tanpa izin untuk mengambil foto. Ia kemudian ditangkap. Penyelidik menemukan di kamera dan telepon genggamnya bahwa ia memotret secara ilegal foto dan video dari beberapa fasilitas di area terbatas yang menjadi pangkalan militer AS.

Zhao Ganli mengaku datang sebagai turis dan memasuki daerah terlarang itu karena tersesat. Namun, Biro Investigasi Federal AS menemukan bahwa Zhao Ganli memasuki daerah terlarang melalui jalan pantai, memutar lewati daerah yang tidak berpagar keamanan di stasiun pangkalan militer itu, dan mengabaikan papan bertulisan peringatan : “Zona terbatas militer, Dilarang Masuk yang berada di tempat ia lalui.”

Zhao Ganli masuk ke Amerika Serikat tahun lalu dengan visa resmi untuk mengikuti kursus pertukaran mahasiswa musim panas yang jatuh waktu bulan September. Namun, saat ia ditangkap, visanya telah kadaluwarsa.

Media AS ‘The Washington Free Beacon’ melaporkan bahwa para penyelidik AS menemukan bahwa Zhao Ganli tetap berhubungan dengan personel intelijen Tiongkok di Amerika Serikat sebelum ia memasuki pangkalan militer AS. Zhao Ganli mengakui bahwa ia adalah putra dari seorang perwira militer senior Tiongkok dan ibunya juga anggota dari pemerintah Tiongkok.

Dokumen pengadilan juga menunjukkan bahwa latar belakang profesionalnya di bidang musik berbeda dengan faktanya. Zhao juga mengaku pernah mengikuti pelatihan militer, tetapi ia tidak mengungkapkan dalam aplikasi permohonan visa AS bahwa ia pernah melayanan militer Tiongkok sesuai dengan persyaratan visa. Zhao Ganli juga diduga melakukan penipuan usia karena ia tampaknya lebih tua dari foto yang terlampir dalam visa.

Laporan ini juga memberikan perhatian khusus kepada North University of China di Propinsi Shanxi itu. Akademi militer ini adalah institusi rahasia kelas dua nasional. Terletak di sebuah gunung di wilayah Taiyuan, Provinsi Shanxi. Ia berafiliasi dengan Komisi Iptek dan Industri untuk Pertahanan Nasional, yang sebelumnya dikenal sebagai Sekolah Industri Taihang yang didirikan oleh Tentara Rute Kedelapan dari Partai Komunis Tiongkok pada tahun 1941.

Warga asal Tiongkok mengaku bersalah mencuri rahasia dagang milik Australia

Tindakan kriminal di Australia juga melibatkan warga asal Tiongkok. Zheng Yi, warga asal Tiongkok berusia 28 tahun dituduh mencuri rahasia dagang saat bekerja di perusahaan manajemen keuangan internasional AMP yang berpusat di Australia. Ia mengaku bersalah di pengadilan Sydney pada 7 Pebruari. Pengadilan baru akan memutus kasus ini bulan depan.

Zheng Li ditangkap polisi Australia sebelum ia naik pesawat meninggalkan Australia pada bulan Januari tahun ini. Menurut penyelidikan, Zheng Yi mengunduh 23 dokumen dari 20 pelanggan yang berbeda dari sistem komputer AMP, termasuk identitas pribadi seperti paspor dan SIM, dan mengirimkannya ke akun email pribadinya Oktober lalu. Polisi menerima laporan tentang pelanggaran keamanan dari jaringan AMP pada bulan Desember tahun lalu kemudian melakukan penyelidikan.

Kedua pelaku kriminal berasal dari North University of China, Shanxi

Qin Peng, seorang komentator ekonomi yang berbasis di Amerika Serikat melalui media sosial mengungkapkan : Zheng Yi juga mahasiswa lulusan North University of China, Shanxi. Kebetulan luar biasa dari latar belakang kedua pelaku spionase yang tertangkap di luar negeri ini membuat sejumlah netizen tertarik terhadap universitas yang kurang dikenal di Tiongkok itu.

Yao Cheng, mantan letnan kolonel Komando Angkatan Laut Tiongkok yang saat ini tinggal di Amerika Serikat mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa, tidak diragukan lagi apa yang dilakukan Zhao Ganli itu adalah kegiatan spionase. “Mengambil foto tentu berkaitan dengan tugas, jika tidak siapa yang berani ambil risiko begitu besar untuk memotret dalam pangkalan militer AS ?”

Yao Cheng mengatakan bahwa setelah dilakukan pengurangan dan penyesuaian terhadap fasilitas militer komunis Tiongkok pada tahun 1992, banyak sekolah mata-mata yang terdaftar “diubah” menjadi perguruan tinggi di suatu daerah. Kemampuan mereka diperkuat dari tahun ke tahun, terutama yang berkaitan dengan pencurian teknologi militer. Di masa lalu, ia sendiri pun pernah dididik di sebuah perguruan tinggi rahasia di Chongqing.

Yao Cheng mengatakan : “Badan intelijen komunis Tiongkok dibagi menjadi enam blok utama yang pusat pimpinannya adalah Kementerian Penghubung Internasional PKT. Ada dua pusat komando, satu adalah Lembaga Intelijen, kemudian Kantor Keamanan Nasional dan Kantor Keamanan Publik. Instansi yang paling menarik adalah Komisi Pendidikan Negara, khususnya mahasiswa “pilihan” biasanya ke luar negeri dengan membawa tugas.”

Yao Cheng juga mengekspos soal kegiatan “Burung layang-layang” PKT yang mengirim beberapa mahasiswa ke luar negeri untuk melakukan kegiatan mata-mata. Orang-orang ini tidak memiliki file dalam sistem intelijen. Mereka bisa terbang ke mana saja seperti burung layang-layang, membawa pulang tugas yang sudah diselesaikan untuk disetorkan kepada orang khusus yang ditunjuk. Cukup aman bukan ?!

Spionase yang tertangkap di luar negeri langsung “dibuang” komunis Tiongkok

Yao Cheng juga mengingatkan para pelaku spionase untuk komunis Tiongkok di luar negeri, terutama siswa internasional muda, bahwa mereka akan dibuang oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) begitu mereka tertangkap dan dihukum negara-negara Barat.

“Saya adalah contoh kasus pelaku yang dibuang” kata Yao Cheng yang pada tahun 1998 dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Angkatan Laut Tiongkok selama 7 tahun karena secara ilegal memberikan rahasia negara kepada orang asing.

Chen Yonglin, mantan atase politik di Konsulat Jenderal Tiongkok untuk Sydney di waktu lalu telah berulang kali mengungkap kepada media tentang penetrasi dan ekspansi strategis PKT. Dia juga mempertanyakan apakah North University of China adalah akademi spionase karena 2 kasus kegiatan mata-mata yang tertangkap asing itu adalah siswa mereka.

Chen Yonglin mengatakan bahwa PKT telah menebar jaringan cukup luas ke luar negeri, “Telah  mencuri terlalu banyak teknologi tinggi dari Barat, terutama teknologi militer”, katanya.

Chen Yonglin berpidato di depan orang banyak saat rapat umum pada 26 Juni 2005 di Sydney, Australia. Rapat umum itu diselenggarakan untuk menuntut agar para pembelot dari Tiongkok, Chen Yonglin dan Hao Fengjun diberikan suaka oleh pemerintah Australia. (Mark Kolbe / Getty Images)

Pada Oktober tahun lalu, Lembaga Kebijakan Strategis Australia merilis sebuah laporan yang berjudul “Picking flowers, making Honey” (Memetik bunga untuk membuat madu), isinya mengkritik militer Tiongkok yang sejak lama mengirim mahasiswa untuk mencuri teknologi militer negara Barat.

Laporan itu mengungkapkan bahwa dari 2.500 ekspatriat yang dikirim oleh militer komunis Tiongkok ke Australia, 17 dari 300 orang yang bekerja di bidang teknologi tinggi diketahui telah menyembunyikan identitas militer mereka.

Situs web resmi North University of China, Shanxi memiliki hubungan dengan situs-situs web dari Biro Iptek Pertahanan Nasional, Jaringan Informasi Senjata dan Peralatan Militer, Grup Industri Senjata, dan Grup Peralatan Senjata.

Beberapa tahun yang lalu, Institut Bahasa Asing Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok di kota Luoyang, Provinsi Henan disinyalir adalah lembaga pembinaan mata-mata untuk komunis Tiongkok.

Pada tahun 2017, lembaga intelijen Selandia Baru meluncurkan investigasi kepada Yang Jian, seorang anggota kongres Selandia Baru yang memiliki latar belakang militer Tiongkok. Dia sengaja menyembunyikan informasi bahwa ia pernah dididik selama 3 tahun di institut Bahasa Asing tersebut.

Beberapa komentator percaya bahwa kedua kasus mata-mata telah terungkap, yang membuat orang curiga bahwa North University of China dan Institut Bahasa Asing Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok di Luoyang itu merupakan sekolah yang mencetak mata-mata komunis Tiongkok. (Sin/asr)

Share

Video Popular