Yan Dan

Tahun baru Imlek baru saja dimulai, salah satu media corong Partai komunis Tiongkok (PKT) tiba-tiba menerbitkan artikel yang secara serius menjelaskan asal usul sebutan “Spring Festival” (Tahun Baru Imlek di Tiongkok dinamakan: festival musim semi atau Chun Jie, baca chuen cié, Red.). Yang tidak dimengerti adalah, akibat propaganda dan ‘arahan’ PKT, istilah “Chun Jie” ini sudah disebut selama 70 tahun, mengapa baru sekarang berusaha menjelaskannya pada rakyat dengan mengutip berbagai kitab?

Judul artikel itu bersifat pertanyaan: Tahun Baru Imlek Jelas-Jelas Belum Memasuki Musim Semi, Mengapa Disebut “Festival Musim Semi”? Dalam menanggapi hal ini, terlebih dulu penulis perlu menunjukkan kesalahan penggunaan “kalender lunar (Imlek)”.

Sesungguhnya sistem penanggalan tradisional Tiongkok sama sekali bukan disebut “Nung Li (kalender agrikultur)”, bukan pula disebut “Imlek” atau almanak lunar/bulan, melainkan seharusnya disebut “Penanggalan Kaisar (皇曆)” atau disebut juga “Huang Li (Kalender Kuning黃曆)”.

Sistem ini terkait dengan sejarah dari dinasti ke dinasti sistem penanggalan yang dititahkan oleh sang kaisar juga terkait dengan asal usul almanak Tiongkok yang pertama diciptakan oleh Kaisar Xuanyuan Huangdi (2711 SM – 2598 SM). Karena sistem penanggalan tradisional Tiongkok yang sejati adalah semacam almanak gabungan Yin dan Yang dengan ‘sistem bulan Yin dan sistem tahun Yang’, maka dari itu jika disebut “Yin Li” atau istilah umumnya Imlek adalah ucapan atau sebutan yang keliru.

Sementara istilah “Nung Li” atau penanggalan agrikultur hanya sebatas untuk keperluan jadwal pertanian saja, oleh karenanya kekeliruan tersebut sangat menciutkan lingkup penggunaannya oleh keturunan Tionghoa dari zaman kuno hingga zaman kini.

Perlu diketahui, selama beberapa ribu tahun Tiongkok adalah suatu bangsa yang sangat mengedepankan tradisi, respek terhadap alam semesta, Dewata dan juga leluhur.

BACA JUGA : Tujuan Terakhir Komunisme – Konspirasi Iblis Merah Menghancurkan Umat Manusia (Bagian 1)

BACA JUGA : Tujuan Terakhir Komunisme – Konspirasi Iblis Merah Menghancurkan Umat Manusia (Bagian II)

Bagi orang Tiongkok, Xuanyuan Huangdi selain merupakan leluhur pertama bangsa Tionghoa, juga merupakan dewa yang bermoral suci dan bijaksana. Maka dengan sendirinya “Huang Li” ini pun diasimilasikan di dalam kehidupan dan berbagai acara doa – persembahan serta dalam tradisi tahunan masyarakat.

Menurut catatan sejarah, tahun baru tradisi Tiongkok dimulai dari tanggal 8 bulan 12 (bukan kalender Masehi), dan berakhir di tanggal 15 bulan 1, selama periode itu disebut “Tahun Baru Huang Li”, rakyat menyebutnya ‘melewati tahun’. Penjelasan kata ‘tahun’ (年 dibaca Nièn, Red.) adalah ‘masaknya tanaman pangan’, yang juga bermakna masyarakat kuno setelah panen raya saat melewati tahun, harus berterima kasih atas perlindungan para Dewa dan berdoa bagi berkah di tahun yang akan datang. Oleh karena itu berbagai perayaan, ritual dan kegiatan selama periode tahun baru ini selalu seputar pada topik ini.

Sebagai contoh, bulan 12 tanggal 8 juga disebut “La Ba”, yang merupakan ‘hari di mana Shakyamuni mencapai pencerahan ke tingkat Buddha, di tengah masyarakat dan vihara pada hari itu akan memasak bubur La Ba, dan mendoakan di tahun mendatang penuh berkah dan panen raya; kemudian menyusul bulan 12 tanggal 23 ‘melewati tahun kecil’, hari itu adalah hari dimana Dewa Dapur naik ke langit, gambar Dewa Dapur biasanya ditempel sampai malam tahun baru.  

‘Malam tahun baru (除夕: Chu Xi, baca chu si, di tahun 2019 ini jatuh pada malam tanggal 4 Februari. Red.) adalah puncak perayaan tahun baru, inilah hari ‘berdoa pada Dewata dan leluhur’; selain itu juga memajang altar, menempel gambar Dewa Pintu, menjemput Dewa Rejeki, Dewa Harta, Dewa Kemuliaan, Dewa Kebahagiaan, Dewa Umur, mengundang Dewa Dapur, menempel pantun di kedua sisi pintu, membakar mercon dan berbagai tradisi Tiongkok lainnya dalam menghormati para dewa”. (disadur dari buku ‘Disintegrasi Budaya Partai’)

Bisa dilihat, bagi orang Tiongkok zaman dahulu, “Tahun Baru Huang Li” memiliki makna yang sangat luas dan pengaruh yang mendalam. Namun, PKT yang menganut paham materialis dan atheis, dengan sendirinya tidak akan bisa menerima kebudayaan tradisional dan kepercayaan terhadap Dewata atau Tuhan. Walaupun semua tradisi itu memiliki makna, norma dan intisari yang telah eksis selama ribuan tahun, PKT yang dirasuki ‘roh sesat’ dan berani ‘menentang langit dan bumi’ tetap berniat melenyapkannya.

BACA : Tujuan Terakhir Komunisme : Partai Komunis Tiongkok- Sejuta Perubahan Tidak Lepas dari Kejahatannya (Bagian 1)

BACA : Tujuan Terakhir Komunisme : Partai Komunis Tiongkok- Sejuta Perubahan Tidak Lepas dari Kejahatannya (Bagian 2)

Mengutip buku “Disintegrasi Budaya Partai”, “Sejak PKT mulai berkuasa PKT di tahun 1949, mereka mulai beranggapan ‘Huang Li’ adalah proses pemerintahan yang mewakili masyarakat tradisional, dan di dalamnya banyak konten yang terkait dengan ilmu prediksi, peramalan, Fengshui dan lain-lain, oleh karena itu ‘Huang Li’ kemudian dihapuskan; pada 27 September 1949, dalam perundingan mengenai pemerintahan pasca direbutnya kekuasaan oleh PKT, sebutan ‘bulan 1 tanggal 1’ itu pun diubah menjadi istilah ‘festival musim semi’ (chun jie)”.

Karena PKT telah mengubah istilah ‘bulan 1 tanggal 1’ menjadi istilah ‘chun jie’, mengapa harus menunggu sekarang setelah 70 tahun baru memberikan penjelasan pada rakyat? Apalagi, yang disebut sebagai ‘festival musim semi’ (chun jie) oleh rakyat jelas tidak hanya pada satu hari yakni ‘bulan 1 tanggal 1’ saja.

PKT seharusnya menjelaskan, mengapa istilah tradisional ‘Tahun Baru Huang Li’ diubah menjadi ‘Chun Jie’? Namun, yang tidak pernah dijelaskan secara benar 70 tahun silam, apakah bisa dijelaskan sekarang? PKT yang mengandalkan kekerasan dan kebohongan untuk menipu rakyat Tiongkok selama puluhan tahun, apakah sekarang memutuskan bertobat dan berkata jujur? Namun PKT yang sudah sejak lama diketahui boroknya, sekarang yang paling ditakutinya adalah pergolakan masyarakat.

PKT yang sekarang sudah tidak seperti dulu, begitu mendengar ada yang meragukannya, akan ketakutan dan buru-buru membela diri. Namum pembelaan diri pada dasarnya tak berguna, karena PKT tidak akan pernah mengakui dirinya sebagai pelaku utama perusak tradisi dan moralitas.

Dalam artikel yang dipublikasikan media massa pemerintah ternyata hanya menyebutkan asal muasal ‘Chun Jie’ (festival musim semi) saja, namun tidak dijelaskan mengapa mengubah istilah ‘Tahun Baru Huang Li’ dengan istilah ‘Chun Jie’.

Artikel tersebut juga mengutip sepenggal dari “Maksud Penetapan Empat Musim” yang dibuat oleh Menteri Dalam Negeri dari pemerintahan Beiyang Nasionalis yang menyebutkan “Penetapan Empat Hari Raya dalam Satu Tahun”: Yuan Dan (tanggal 1 bulan 1 Imlek) sebagai Hari Raya Festival Musim Semi, Hari Duan Wu sebagai Hari Raya Festival Musim Panas, Hari Zhong Qiu sebagai Hari Raya Festival Musim Gugur, dan Hari Dong Zhi sebagai Hari Raya Festival Musim Dingin”, untuk membenarkan asal usul “Yuan Dan penanggalan petani” diubah menjadi istilah “festival musim semi”. Namun masalahnya adalah, satu hari ini saja yang dijadikan sebagai hari menyambut ‘Tahun Baru Imlek’ dan tidak dikatakan bahwa ini adalah hari “Tahun Baru Huang Li” (yang berlangsung 22 hari hingga tibanya tahun baru. Red.)

Seluruh bangsa Tiongkok kala itu (pada masa Pemerintahan Beiyang 1913-1928 berlanjut hingga 1949) tidak mengatakan akan menghapus “Huang Li”, terlebih lagi tidak mendistorsi, tidak menetralisir, tidak melenyapkan makna dan intisari dari tahun baru tradisional ini. Dan tradisi menghormati para dewa dan mengenang leluhur, hingga kini masih beredar luas di negara Asia yang kental akan pengaruh kebudayaan tradisional Tionghoa seperti Hongkong, Taiwan dan lain-lain.

Sejak dulu hingga sekarang, tidak ada satupun dinasti yang seperti Dinasti Merah PKT ini, yang melakukan aksi anarkis di seantero negeri untuk menghancurkan beragam peninggalan tradisional termasuk situs bersejarah, kitab kuno dan tradisi.

PKT membenci tradisi bukankah karena peradaban tradisional mengajarkan moralitas pada umat manusia, sehingga membuat PKT yang berusaha merusak moral dan mengacaukan masyarakat itu menjadi ketakutan?

PKT yang bertujuan menghancurkan umat manusia tahu, jika masyarakat dunia menjaga moralitas, maka PKT tidak akan ada kesempatan beraksi. Hanya dengan menghancurkan seluruh ingatan tradisi dan moralitas, segala materinya, bahkan sampai satu kata, sebutan, istilah, tujuan sesat PKT ini bisa tercapai.

Akan tetapi tujuan PKT menentang langit dan menganiaya agama tidak akan tercapai. PKT yang sesat tidak akan mampu mengalahkan kebenaran, pada akhirnya akan menuai azab dan menuai balasan setimpal dari Langit. (SUD/WHS/asr)

Share
Tag: Kategori: Budaya BUDAYA TIMUR

Video Popular