Aktivis Uighur di luar negeri baru-baru ini meluncurkan kampanye ‘Me too Uyghur’ (Saya juga orang Uighur) lewat media sosial.

Banyak warga Uighur mulai menanggapinya dan menyerukan pihak berwenang Tiongkok untuk mengumumkan keberadaan kerabat mereka yang hilang dan yang ditempatkan dalam “kamp pendidikan ulang.”

Menurut laporan Radio Free Asia (RFA) pada 12 Februari, Asosiasi Bantuan Uighur (Uyghur Aid) meluncurkan kampanye ‘Me too Uyghur’ di media sosial Facebook dan Twitter pada 11 Februari, meminta Uighur luar negeri untuk memaparkan melalui rekaman video atau foto-foto para kerabat yang hilang atau disandera pihak berwenang Tiongkok. Uighur di perantauan diminta menuntut pihak berwenang Tiongkok untuk mengumumkan kondisi para tahanan.

Ketua Asosiasi Bantuan Uighur, Halmurat Harri mengatakan bahwa setelah menonton video “Kebangkitan” dari musisi Uighur Abdurehim Heyit yang dirilis oleh pihak berwenang Tiongkok pada 10 Februari, muncul ide untuk meluncurkan kampanye ini.

Halmurat Harri berharap bahwa gerakan ini akan memberikan tekanan kepada otoritas Beijing untuk membebaskan semua tahanan yang relevan. “Kita semua adalah manusia, kita semua memiliki hak asasi manusia, kita memiliki hak untuk menghubungi keluarga kita, dan kita memiliki hak untuk bersatu kembali dengan keluarga kita.”

Halmurat Harri mengatakan, ia adalah penduduk asli Turpan di Xinjiang yang meninggalkan rumah untuk bersekolah di luar pada tahun 2003. Ia tiba di Finlandia sepuluh tahun yang lalu, saat ini sudah berprofesi sebagai dokter dan praktek di Finlandia. Ibu dan ayahnya dibawa ke “kamp pendidikan ulang” masing-masing pada bulan April 2017 dan Januari 2018. Setelah itu kontak terhadap mereka terputus. Mereka baru dibebaskan sebelum Natal tahun lalu dan sampai saat ini masih dalam tahanan rumah. Harri mengatakan bahwa setelah orang rumahnya ditangkap, ia memutuskan untuk menjadi aktivis.

Setelah berita tentang kematian musisi Uighur Abdurehim Heyit dalam “kamp pendidikan ulang” komunis Tiongkok tersebar, pemerintah Turki untuk pertama kalinya mengutuk keras penahanan ilegal jutaan warga Uighur oleh otoritas Tiongkok dan menuntut pihak berwenang menutup “kamp pendidikan ulang”. Turki menyerukan PBB untuk mengambil tindakan mengakhiri tragedi kemanusiaan ini sesegera mungkin.

Malam hari berikutnya, media corong Partai Komunis Tiongkok (PKT) menerbitkan sebuah video di Twitter yang menunjukkan seorang pria mengaku sebagai Heyit. Pria itu pun mengatakan bahwa dirinya sehat-sehat saja.

Pada hari yang sama, Kedutaan Besar Tiongkok di Turki mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa Heyit yang mantan aktor dari rombongan seni Xinjiang ditangkap karena melakukan tindakan yang membahayakan keamanan negara. Kedutaan itu pun mengklaim Heyit sekarang berada dalam kondisi sehat tidak sebagaimana isu yang beredar bahwa ia sudah meninggal dunia.

Namun, organisasi hak asasi manusia internasional dan warga Uighur menyatakan keraguan tentang keaslian video itu.

Menurut laporan, kampanye ‘Me too Uyghur’ telah menerima tanggapan dari masyarakat luas, ratusan orang telah memposting video atau foto di Twitter atau Facebook. Banyak dari mereka memegang foto kerabat yang hilang dan label bertuliskan ‘Me too Uyghur’ dan menuntut pihak berwenang untuk mengungkapkan keberadaan keluarga-keluarga mereka ini.

Di antara mereka, Arslan Hidayat, seorang warga Uighur di Turki, mengatakan dalam sebuah video yang diposting di Facebook pada 11 Februari mengatakan bahwa ia adalah menantu dari komedian terkenal Uighur yang bernama Adil Mijit, ayah mertuanya telah hilang pada 2 November 2018 dan hingga kini belum ada beritanya.

Ia mengatakan bahwa jika pihak berwenang memiliki keberanian, tolong publikasikan video tentang kondisi ayah mertua saya dan jutaan tahanan etnis Uighur lainnya. Arslan juga berharap warganet dari semua negara dapat meneruskan kampanye ini dan membiarkan komunitas internasional mengetahui lebih banyak tentang petaka yang sedang dihadapi warga Uighur di Xinjiang.

Patrick Poon, seorang peneliti Tiongkok di Amnesty International mengatakan kepada DW bahwa kampanye itu adalah gerakan spontan yang sangat kuat bagi komunitas Uighur. Patrick percaya bahwa karena kampanye ini dapat ditanggapi oleh sebagian besar orang Uighur hanya dalam satu hari, berarti banyak orang Uighur sudah mulai dapat mengatasi rasa ketakutan mereka dan bersedia untuk berbicara secara terbuka tentang nasib kerabat mereka yang ditahan oleh otoritas komunis Tiongkok.

Ia menekankan : “Mereka dapat secara terbuka membagi pengalaman kehilangan kontak dengan sanak keluarganya, untuk menandingi apa yang pemerintah Tiongkok canangkan sebagai “pelatihan kejuruan” bagi warga Uighur. Jika lebih banyak warga Uighur secara terbuka mendukung orang yang mereka cintai, pihak berwenang Tiongkok pasti akan merasa lebih tertekan. Dan ini juga akan mendorong negara lain untuk membantu menekan Tiongkok.”  (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular