Erabaru.net. Ruang gawat darurat yang mencekam satu jam lalu kini menjadi senyap dalam keheningan. Pasien di sana, kalau bukan dirawat di ruangan khusus, pasti dimasukkan ke kamar pasien menunggu pemeriksan, melepaskan perawatan atau sudah pindah ke dunia lain.

Tahun itu, aku menimbang-nimbang dengan penuh semangat awal mula karier medisku. Sambil memegang stetoskop bekas yang telah dipakai direktur rumah sakit sebelumnya dan terlihat telah menguning tapi masih layak dipakai. Itu adalah awal karierku di dunia medis, dan belum pernah merasakan sakit atau pun kesedihan.

Saat itu aku sendirian menangani 16 pasien dan mencatat catatan medis setinggi gunung.

Tiba-tiba seorang wanita dengan tergesa-gesa berjalan ke bangsal departemen onkologi dengan penuh harap sekaligus putus asa.

“Masih ada kamar kosong?” Tanya wanita itu dengan suara serak. Pakaiannya juga tampak diselimuti butiran salju yang belum meleleh, dan dari pandangan matanya terbaca sebuah kesedihan.

Pasien itu adalah suaminya, kanker paru-paru stadium akhir yang menderanya itu sedang membawanya untuk meninggalkan dunia yang bergelombang ini.

Saya melihat dia menyerahkan catatan medis, dan diam-diam dalam hatiku telah menjatuhkan vonis mati kepadanya melihat catantan medisnya seperti berikut ini : “Tumor intrakranial metastasis, metastasis di hati, metastasis tulang belakang, efusi pleura (penumpukan cairan di antara jaringan yang melapisi paru-paru dan dada), asites, Hipoalbuminemia, anemia akut, hipokalemia , hiponatremia ……. “.

Pada saat itu, tidak ada yang peduli tentang pentingnya perawatan si pasien, karena dokter tidak dapat merasakan penderitaan dan ketakutan pasien yang sekarat, selain itu kamar pasien akan selalu memberikan prioritas kepada pasien yang memiliki harapan untuk sembuh.

“Masih ada satu kamar pasien, tetapi telah dipesan untuk seorang pasien.” Direktur rumah sakit akhirnya menolaknya dengan perasaan serba salah.

Pada saat direktur menolaknya, aku melihat seraut keputusasaan dari wajahnya.

Aku segera berbalik dan terus menulis catatan medis karena aku belum belajar cara menolak seseorang tanpa melukai perasaan.

Tiupan angin diiringi butiran salju meresap masuk ke jendela yang tak pernah ditutup rapat, membuat kertas catatan yang aku letakkan di atas meja melayang perlahan.

Dari jendela kamar, aku melihat wanita itu masih terus berdiri di depan kantor direktur, seperti patung di tengah alun-alun kota yang tidak pernah berubah selama bertahun-tahun.

Keteguhannya melelehkan hati direktur rumah sakit, sekaligus memberi secercah harapan untuk dirinya.

Direktur memindahkan kamar pasien yang telah dipesan sebelumnya ke kamar tambahan di koridor, dan memberikan kamar itu kepada pasien yang telah vonis mati itu.

Ada yang bilang : “Direktur selalu menerima semua jenis pasien. Pasien yang dinyatakan sekarat itu sudah dalam tahap akhir dan tidak memiliki nilai pengobatan lagi”

Bagaimana memastikan martabat hidup itu seseorang sebenarnya ?

Bagaimana seharusnya simpati dokter itu tercerminkan ?

Yang kita hadapi adalah sesosok orang yang utuh, bukan setumpuk nama penyakit yang sederhana.

Dan yang kita obati adalah keseluruhan individu, bukan disfungsi satu organ saja.

Contohnya , suami wanita itu , pria 59 tahun itu di didiagnosis menderita kanker paru-paru selama 10 bulan.

Karena kanker paru-parunya sudah memasuki stadium lanjut, dan gangguan pada sejumlah besar fungsi organ di seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada rumah sakit yang mau menerimanya.

aku tidak mau membicarakan alasannya, karena itu akan membuat Anda merasa bahwa dunia ini terlalu kejam.

Apa maksudnya tidak ada nilai pengobatan lagi ?

Apakah nilai pengobatan yang dimaksud itu mengacu pada pasien yang masih bisa diobati atau disembuhkan, apa tidak terlalu picik jika demikian halnya ?

Apakah dengan meringankan penderitaan pasien yang sekarat itu tidak dapat mencerminkan nilai pengobatan terkait?

Selain alasan yang terdengar rasional, dan bisa menduga akibat dari kematian pasien yang akan segera terjadi itu, mereka (dokter) juga tidak berdaya pada kenyataan itu, karena mereka mempertimbangkan apakah akan ada perselisihan (tuntutan keluarga pasien), dan bukan bagaimana pasien itu bisa pergi dengan tenang.

Pada hari itu, sambil menetesakan air mata dia berdiri di depanku dan direktur : “Saya tahu hidupnya hanya tinggal beberapa hari, tetapi saya tidak bisa melihatnya meninggal begitu saja di depan mataku. Itu terlalu kejam baginya, dan juga terlalu kejam buatku,” katanya.

Setelah mendapat persetujuannya, direktur memberinya surat rawat inap. Terus terang aku sangat terkejut saat pertama kali melihat pasien itu.

Bagaimana tidak, pasien yang kurus kering dan dalam kondisi cachexia/kaheksia itu masih bisa memaksakan diri untuk tersenyum lemah dan berbicara, bukan depresi berat seperti yang aku bayangkan.

Dia (pasien) adalah seorang profesor di sebuah lembaga penelitian universitas setempat dan selalu menjaga martabat dan sikap sebagai seorang intelektual senior.

Kalimat pertama yang dia katakan kepadaku adalah: “Anak muda, saya tahu hidup saya tidak lama lagi. Jika ada sesuatu yang ingin dikatakan, katakan saja terus terang padaku.”

Saat pertama kali melakukan parasentesis (penusukan – pengambilan cairan) padanya, mungkin dia bisa melihat kegugupanku dan menghiburku. “Jika kamu tidak bisa melakukannya dengan baik pada orang yang setengah mati seperti saya, lalu bagaimana nanti di masa depan ? Tidak apa-apa, kamu tusuk saja!” katanya dengan tenang

Sat itu, aku yang sangat bangga pada diri sendiri itu merasa dia meremehkan aku.

Bertahun-tahun kemudian, kalimat ini terus terngiang di telingaku, dan membuat aku sangat tersentuh.

Akhirnya, suatu hari, setelah koma singkat, dia berkata dengan penuh harap padaku dengan nada terputus-putus: “Tiga hari lagi ulang tahun saya yang ke- 60 tahun, tolong bantu saya agar bisa bertahan sampai pada hari itu!”.

Aku yang berjiwa muda tidak menyimpan kata-katanya dalam hati, karena kondisinya telah sepenuhnya terpisah dari kontrol, dan bisa pergi selamanya kapan saja.

Aku bahkan berpikir dalam hati,: “Jika aku memberi tahu dia dan keluarganya bahwa dia masih bisa bertahan selama beberapa hari ke depan, apakah ini akan menjadi masalah nantinya ?”

Tentu saja, saat itu aku belum tahu: di luar sains, masih ada yang namanya hati/perasaan manusia.

Aku menyesali kebisuanku pada saat itu, aku menyesal karena tidak menghiburnya dengan kebohongan.

Di luar kamar pasien, sambil menyiapkan kain kafan, istrinya berkata dengan nada datar padaku : “Anak perempuan saya bilang mau memberi ayahnya kejutan saat ulang tahunnya yang ke-60 tahun nanti, padahal tidak ada kejutan apa pun, saya hanya tidak ingin dia tertidur.”

Sore hari itu, akhirnya dia pergi juga, pergi sambil membawa penyesalan.

Hingga bertahun-tahun kemudian, aku baru mengerti kata-katanya yang memotivasiku.

Dan sampai sekarang, aku masih menyesal tidak memberinya jawaban yang pasti, meski jika itu hanya kebohongan.

Kadang-kadang, aku bahkan berpikir dia (pasien) seperti sebilah pisau tajam yang menusuk di ulu hati, membuat pilu dan tidak bisa bernapas.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular