Erabaru.net. Seseorang yang tahu “Bersyukur tidak akan serakah” bisa mendapatkan kebahagiaan yang langgeng.

Kisah berikut adalah bukti dari kebenaran ini.

Di pinggir laut, ada seorang pria muda mengambil sebuah perahu bocor yang ditinggalkan pemiliknya. Dia menambal setiap sudut perahu yang bocor itu, hingga bisa digunakan untuk berlayar dan menangkap ikan di laut.

Setiap hari dia ke laut dengan perahunya sambil bersenandung ria. Meskipun tidak berhasil mendapatkan ikan, setiap kali turun dari perahunya yang kosongnya, dia selalu berbaring sejenak di pantai, tetap sambil bernyanyi dengan ceria, dan sangat bahagia.

Setiap hari, mereka selalu dapat mendengar senandung ceria anak muda yang miskin itu. (Foto: Internet)

Sementara di pinggir pantai itu, ada sepasang suami istri yang berprofesi sebagai nelayan tinggal di sebuah rumah besar di sana. Setiap pagi ke laut menangkap ikan dan pulang malam.

Sesampainya di rumah, mereka pun buru-buru menghitung berapa pendapatan yang akan mereka peroleh hari itu, mereka selalu khawatir dengan harga ikan yang tidak menentu, sehingga tidak tampak ada kebahagiaan sedetik pun di benaknya.

Suami istri itu sangat iri setiap mendengar senandung ceria nelayan muda itu. “Mengapa dia begitu bahagia, sementara aku yang punya banyak ikan ini sedikit pun tidak merasa bahagia, padahal dia tidak mendapatkan seekor ikan pun, tapi kenapa bisa begitu bahagia?” Gumam si nelayan itu.

“Aku punya cara untuk mengujinya, apa benar Tuhan selalu berpihak kepadanya?” kata si nelayan.

Ketika pria muda itu sedang bersistirahat, nelayan itu diam-diam menyelinap ke perahu pria muda itu dan menaruh seekor emas yang cukup besar.

Keesokan paginya, ketika nelayan muda itu ke perahunya, dia melihat emas yang berkilauan. Nelayan muda tampak sangat senang.

Dia berpikir emas itu bisa membantunya mengganti perahu yang rusak, sehingga bisa menggunakan perahu baru, kemudian membeli perahu yang lebih besar dan mempekerjakan beberapa nelayan menangkap ikan untuknya.

Lalu, dari perahu konvensional membeli kapal ikan yang besar, semakin lama semakin besar, kemudian menjadi saudagar ikan terbesar dan terkaya di daerah itu, gumamnya berkhayal.

Malam itu, nelayan muda itu merenung sepanjang malam, tidak bernyanyi lagi seperti dulu. Sejak malam itu, nelayan itu pun mulai merisaukan sesuatu, tidak bisa lagi bernyanyi.

Dia menjual perahu usangnya, kemudian menggunakan emas itu, dan meminjam uang lagi, lalu membeli sebuah kapal besar.

Tanpa disadari, dia meninggalkan banyak hutang, hidup di bawah tekanan setiap hari. Dan jelas dia tidak bisa bahagia lagi seperti dulu lagi.

Suatu hari, istri penjual ikan bertanya kepada suaminya,: “Cara apa yang kamu pakai, sehingga membuat nelayan muda itu menjadi seperti kita, tidak tahu apa itu kebahagiaan!”

Saminya berkata :”Aku hanya membiarkan dia memiliki lebih banyak dari yang dia butuhkan. Kalau nafsu keserakahan sudah menguasai pikiran seseorang, maka dia akan menjadi rakus dan tamak, dan jelas tidak akan merasa bahagia lagi karena keserakahannya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih.”

Bertahun-tahun kemudian, nelayan muda itu menjadi penjual ikan, tinggal di sebuah vila mewah di tepi pantai, Setiap hari selalu sibuk menghitung uang, dan mengerutkan kening sepanjang hari. Dia selalu memandangi laut dan cuaca setiap hari, mengkhawatirkan naik turunnya harga ikan. Sekarang banyak hal yang selalu membuatnya risau dan tidak bisa tenang sedetik pun dan jelas tidak bisa merasa bahagia.

Suatu hari, angin topan dahsyat menyebabkan beberapa perahu nelayan menabrak batu karang, menyebabkan kerugian besar. Nelayan muda iu semakin risau dan dari wajahnya tampak cemas, dia berjalan di pantai dan bertemu seorang gelandangan yang sedang bernyanyi di pantai.

Dan seketika mengingatkannya pada hari-hari yang pernah dilaluinya dengan suasana damai dan tenang tanpa beban ketika itu.

Dia bertanya pada gelandangan itu : “Kamu tidak punya apa-apa, tapi kenapa bisa begitu bahagia?”

“Siapa bilang saya tidak punya apa-apa? Saya punya pantai, sinar mentari, kesehatan, cukup makan, dan saya sangat bahagia,” kata gelandangan itu dengan wajah ceria.

Nelayan itu memandangi gelandangan yang tampak bahagia itu. Dia juga dulunya adalah orang yang sangat bahagia, tetapi dia tidak pernah bisa kembali lagi seperti di masa lalu. Sejak tergoda emas itu, dia tidak lagi bisa merasa puas meski sudah kaya.

Sejak itu, ia mengukir kata “kepuasan” (bersyukur atas segala sesuatu yang dimiliki) di setiap kapalnya. Dia sadar bahwa satu-satunya obat untuk melawan tekanan/beban pikiran adalah harus bisa merasa “puas”dengan segala sesuatu yang telah dimiliki.

(Foto: Pexels/Pexels License)

Satu-satunya cara untuk membantu Anda mengatasi penderitaan adalah harus bisa puas diri/tidak serakah dan menghargai segala sesuatu yang dimiliki.

Keinginan manusia itu tidak pernah terpuaskan. Seseorang yang tidak pernah bisa merasa “puas” pasti akan membuatnya risau/banyak beban pikiran. Hanya dengan menyingkirkan nafsu keserakahan, Anda baru bisa merasakan kedamaian hati dan ketenangan pikiran.

Segala nestapa di dunia ini bersumber dari orang-orang yang selalu tidak pernah bisa merasa puas dengan segala sesuatu yang ada, mereka selalu ingin mengejar hal-hal yang lebih tinggi, lebih indah, dan lebih banyak lagi.

Kita datang ke dunia ini, selalu sibuk setiap hari, tidak lebih hanya untuk kebahagiaan batin. Dan jika kita selalu larut dengan segala sesuatu di luar tubuh, mencari kebahagiaan semu seumur hidup, maka kita akan selalu mengeluh dan batin tertekan.

Kalau direnugkan, tekanan-tekanan ini bukan karena orang lain, sebaliknya justru dari diri kita sendiri. Seumur hidup itu tidaklah panjang, tidak banyak hari-hari bahagia yang bisa dilewati sampai tiba saatnya.

Keserakahan manusia tidak akan pernah terpuaskan, ibarat “ular yang serakah sampai-sampai ingin menelan seekor gajah”, meskipun tahu tidak bisa ditelan, tetapi tidak mau menyerah, hingga akhirnya menyiksa diri sendiri.

Punya ribuan rumah mewah, sementara untuk tidur hanya perlu satu tempat tidur ; Punya selaksa hektar ladang, padahal kita hanya makan tiga kali sehari.

Air mengalir deras, tidak ada siapa pun yang bisa meraup semuanya, dan tidak akan pernah habis, Anda hanya perlu mengambil yang bisa digunakan untuk mencukupi sesuai kebutuhan.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular