Erabaru.net. Bulan Desember 2018 adalah tahun ke 40  Reformasi Ekonomi Tiongkok (RET). Namun ekonomi Tiongkok saat ini telah memasuki situasi sulit yang memicu diskusi luas tentang efektivitas RET yang dicanangkan Deng Xiaoping pada waktu itu.

Dalam artikel Wang Weiluo, seorang ahli ekologi lingkungan terkenal yang sudah tinggal di Jerman baru-baru ini disebutkan bahwa, esensi dari reformasi tersebut tak lain adalah : Jual hak tanah, meminjam dan cetak uang.

Artikel menyebutkan, hal yang menjadi kebanggaan komunis Tiongkok semata hanyalah mengenai pesatnya pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan setelah RET, yang kemudian  menjadikannya sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, dan bahkan mengaku  kekuatan ekonominya telah melampaui Amerika Serikat yang menempati peringkat pertama di dunia. Namun, orang-orang telah lupa terhadap pemberi potensi pengembangan khusus yang dimiliki komunis Tiongkok pada awal menjalankan reformasi di masa lalu itu :

Pada saat itu, tanah di Tiongkok tidak memiliki nilai dan tidak dapat dibeli ataupun dijual. Dari penjualan hak guna lahan sejak tahun 1989 hingga 2018, pemerintah Tiongkok telah meraup dana sebanyak RMB. 42 triliun. Pemerintah mana di dunia ini yang dapat memiliki sumber daya keuangan sebanyak itu ?

Pada saat itu, Tiongkok tidak memiliki hutang dalam negeri maupun hutang luar negeri. Zhao Ziyang mulai menerbitkan obligasi pemerintah, dan kemudian tidak terkendali, “gali lubang tutup lubang” untuk mengatasi hutang yang jatuh tempo.

Mengutip ucapan Zhu Yunlai, bahwa utang komunis Tiongkok sudah mencapai RMB. 600 triliun. Negara mana di dunia yang dapat mengakumulasi utang setinggi itu dalam waktu 40 tahun ?

Pada saat itu, Tiongkok menerapkan kebijakan moneter yang ketat. Pada akhir tahun 1978, jumlah uang beredar Tiongkok hanya sekitar RMB. 115,91 miliar. Pada akhir tahun 2017, jumlah uang beredar Tiongkok sudah mencapai RMB. 167,70 triliun. Dengan tingkat pertumbuhan peredaran uang tahunan rata-rata yang melebihi 20%, sesungguhnya tidaklah sulit menggunakan tingkat pertumbuhan itu untuk mendorong tingkat pertumbuhan PDB tahunan yang rata-rata 9 %, apalagi pemerintah Tiongkok menggunakan metode produksi untuk menghitung PDB.

BACA JUGA : Akankah Tiongkok Menggerakkan Ekonomi Dunia pada Tahun 2019 ?

Artikel itu menjelaskan bahwa dengan pola menjual hak tanah, meminjam, dan mencetak uang pemerintah komunis telah menciptakan kemakmuran palsu bagi perekonomian Tiongkok. Tetapi masalah ekonomi Tiongkok yang paling fatal adalah efisiensi ekonomi yang rendah, manfaat ekonomi dari banyak perusahaan milik negara bahkan negatif. Hasil akhirnya adalah : yang dimakan adalah jatah makanan untuk yang akan datang, utang biar dipikul Tiongkok, dananya dilarikan ke tempat lain. Dari tahun 1998 hingga 2018, pendapatan dari penjualan hak atas tanah mencapai RMB. 42 triliun, ini adalah uang riil yang digondol oleh para pejabat tinggi komunis Tiongkok untuk didepositokan dalam mata uang asing di AS, Eropa dan tempat lainnya.

BACA JUGA : Ketika Fenomena Krisis Ekonomi Bermunculan, Menunjuk Janji Reformasi Xi Jinping

Fokus penjelasan artikel itu ada pada kebijakan pemerintah Tiongkok soal pertanahan. Artikel tersebut mencantumkan pendapatan pemerintah Tiongkok dari penjualan hak penggunaan lahan dari tahun 1998 hingga 2017, dan proporsinya terhadap PDB pada tahun yang bersangkutan.

Tahun – Dana Penjualan Hak Tanah # – PDB – Rasio Dana#/PDB (dalam RMB. .000.000,-)

1998  –      507,70  –   85.195,50  –  0.60 %

1999  –      514,33  –   90.564,40  –  0.57 %

2000  –      595,58  – 100.280,10  –  0.59 %

2001  –   1.295,89  – 110.863,10  –  1.17 %

2002  –   2.416,79  – 121.717,40  –  1.99 %

2003  –   5.421,31  – 137.422,00  –  3.95 %

2004  –   6.412,18  – 161.840,20  –  3.96 %

2005  –   5.883,82  – 187.318,90  –  3.14 %

2006  –   8.077,64  – 219.438,50  –  3.68 %

2007  – 12.216,72  – 270.232,30  –  4.52 %

2008  – 10.259,80  – 319.515,50  –  3.21 %

2009  – 17.179,53  – 349.081,40  –  4.92 %

2010  – 27.464,48  – 413.030,30  –  6.65 %

2011  – 32.126,08  – 489.300,60  –  6.57 %

2012  – 28.042,28  – 540.367,40  –  5.19 %

2013  – 39.073,00  – 595.244,40  –  6.56 %

2014  – 42.940,30  – 643.974,00  –  6.67 %

2015  – 33.657,73  – 689.052,10  –  4.88 %

2016  – 37.457,00  – 743.585,00  –  5.04 %

2017  – 52.059,00  – 827.122,00  –  6.29 %

Total : 363.601,16

Menurut artikel itu, dana yang diperoleh dari penjualan hak tanah pada tahun 1998 adalah RMB. 507,7 juta, tetapi sampai tahun 2017 angka itu sudah mencapai 52,059 miliar yang naik 102,54 kali lipat. Tingkat pertumbuhan rata-rata tahunannya adalah 27,6 % yang jauh lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan rata-rata PDB selama periode sama yang 12,7 %.

Dana yang diperoleh dari penjualan hak tanah dari tahun 1998 hingga 2000 tidak sampai 0.6 % PDB, tetapi sejak tahun 2010 dana yang diperoleh dari sana telah beberapa kali melampaui 6 % PDB. Contohnya, PDB tahun 2017 Tiongkok adalah 6.9 %, padahal tingkat penjualan hak atas tanah saja sudah mencapai 6.29 %. Jadi, jika komunis Tiongkok tidak memiliki pendapatan dari penjualan hak atas lahan, maka PDB tidak tumbuh.

Artikel itu mengatakan bahwa sebelum RET, tanah di Tiongkok dialokasikan secara gratis melalui ekonomi terencana. Tanah yang dialokasikan secara gratis itu tidak menimbulkan kenaikan satu yuan pun dalam pendapatan nasional.

Namun sekarang begitu menilai keberhasilan yang dicapai RET selama 40 tahun, hal yang paling mudah ditonjolkan ya cuma  tingkat pertumbuhan PDB yang “pesat” itu. Tetapi, dengan mengambil jumlah miliaran hasil penjualan hak atas lahan untuk dibandingkan dengan alokasi tanah gratis yang tidak menghasilkan, itu akan selalu menjadi tak terbatas yang sebetulnya tidak banyak berarti.

BACA JUGA : Terhempasnya Ambisi Internasionalisasi Renminbi di Tengah Dolar AS yang Masih Terus Digdaya

Wang Weiluo dalam artikelnya menekankan, penjualan hak penggunaan lahan telah menjadi sumber dana pertama bagi Tiongkok untuk melangsungkan reformasi ekonomi. Tetapi  mengapa dana itu bisa naik dari RMB. 507,7 juta pada tahun 1998 menjadi RMB. 52,06 miliar pada tahun 2017 ? Hal itu terutama karena pasar tanah adalah pasar yang benar-benar dimonopoli negara. Negara adalah satu-satunya tuan tanah besar dan satu-satunya penyedia. Negara dapat mengontrol jumlah lahan yang disediakan dan mengontrol harga hak penggunaan lahan.

Dasar dari kebijakan pertanahan semua negara di dunia adalah untuk menekan harga tanah sehingga sebagian besar warga negara mampu membeli rumah dan memasuki tingkat proletariat, sehingga memastikan keharmonisan dan stabilitas sosial, membuat rakyat merasa tenteram. Justru komunis Tiongkok melakukan yang sebaliknya, inti dari kebijakan pertanahan mereka adalah menaikkan harga tanah dan menggali lebih banyak uang dari tangan rakyat. Akibatnya, negara kaya dan rakyatnya miskin, harta rakyat dirampas dan rakyat diperbudak pemerintah.

Komunis Tiongkok memanfaatkan dana dari penjualan hak atas lahan yang terus meningkat  bersama dengan harga tanah yang terus naik, dan dengan pendapatan yang stabil dari penjualan hak tanah itu, pemerintah berkesempatan untuk menaikan leverage, melepas pinjaman dan mencetak uang sebanyak-banyaknya.

BACA JUGA : Faktor-faktor Ini Penyebab Kemerosotan Pertumbuhan PDB Tiongkok

Artikel itu mengatakan bahwa apakah itu utang yang jumlahnya selangit atau jumlah uang beredar yang selangit, atau harga real estat yang nge-top di dunia, atau utang yang terkandung dalam nilai real estat, semua itu berasal dari penjualan tanah. Empat puluh tahun yang lalu Tanah yang tidak memiliki nilai yang dipercaya oleh rakyat Tiongkok 40 tahun silam. telah dijadikan alat oleh pemerintah pusat untuk mencetak sejumlah besar uang renminbi.

Nilai tanah milik negara setidaknya dihitung sampai tripel, yakni oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah dan perusahaan atau perorangan. Selain itu, harga tanah di Tiongkok adalah harga yang dinaikkan secara artifisial, yang merupakan harga monopoli absolut karena hanya ada satu pemasok. Begitu harga tanah dikembalikan ke harga normalnya, bangunan di atas tanah  itu pasti akan “tidak bernilai”.

Artikel itu menyimpulkan bahwa menjual hak tanah, meminjam uang dan mencetak uang itulah esensi dari RET, dan itulah rahasia pertumbuhan PDB Tiongkok yang cepat selama 40 tahun terakhir. Model komunis Tiongkok ini tidak mungkin bisa ditiru oleh negara-negara lain di dunia karena negara-negara lain tidak memiliki tanah milik negara sebanyak itu dan yang dapat mereka jual. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular