London – Ibu dari seorang korban serangan teror Manchester Arena mengatakan khawatir akan kemungkinan kembalinya calon pengantin ISIS di Suriah, Shamima Begum ke Inggris. Anaknya menjadi salah satu dari 22 penggemar yang tewas dalam serangan teroris mematikan pada konser Ariana Grande.

Charlotte Campbell, yang putrinya yang berusia 15 tahun, Olivia, termasuk di antara para korban bom bunuh diri tahun 2017 di konser Ariana Grande, dikutip oleh The Sun. “Saya tidak tahan membayangkan dia diizinkan kembali. Itu membuat saya sakit. Dia berisiko tinggi,” ujar Charlotte.
 
Cambell membuat komentar setelah Begum mengatakan dalam sebuah wawancara baru-baru ini, bahwa pemboman konser Ariane Grande adalah ‘semacam pembalasan’ untuk serangan udara terhadap ISIS di Suriah.

Begum, yang berbicara dengan koresponden BBC Timur Tengah, Quentin Sommerville, mengatakan komentarnya tentang serangan Manchester Arena. “Saya merasa salah bahwa orang-orang tak berdosa terbunuh. Tetapi ini hal dua arah, sungguh. Sama seperti wanita dan anak-anak di Baghuz yang dibunuh saat ini secara tidak adil oleh pemboman (oleh sekutu).”

“Dan ini semacam pembalasan. Pembenaran mereka adalah pembalasan, jadi saya pikir, ok, itu pembenaran yang adil,” sambung istri milisi ISIS itu.

Korban bom bunuh diri Phil Dick mengatakan kepada The Sun bahwa dia mendapati komentar Begum sangat mengejutkan. “Ini menunjukkan kebobrokan pendukung IS dan mengapa (sebaiknya) tidak ada yang boleh diizinkan kembali ke negara ini.”

Begum yang berusia 19 tahun meninggalkan London empat tahun lalu dengan dua teman sekolahnya. Mereka kabur dari rumah untuk bergabung dengan ISIS.

Salah satu temannya, Kadiza Sultana dilaporkan tewas dalam serangan udara pada tahun 2016. Begum mengatakan dia tidak tahu apa yang terjadi pada seorang temannya yang lain, Amira Abase.
 
Begum ditemukan di sebuah kamp pengungsi Suriah oleh surat kabar The Times, minggu lalu. Dia dilaporkan meninggalkan Baghuz, benteng terakhir ISIS di Suriah.

Begum, yang dalam wawancara dengan The Times mengatakan dia ‘tidak menyesal’ bergabung dengan ISIS, melahirkan bayi selama akhir pekan dan berulang kali memohon agar diizinkan kembali ke Inggris. Permintaan yang memicu debat nasional tentang mengembalikan simpatisan ISIS asal Inggris.

Begum, yang pada 17 Februari berbicara kepada reporter Sky News, John Sparks, mengatakan, “Banyak orang seharusnya memiliki simpati terhadapnya, dan mendesak keluarganya untuk terus berusaha mendapatkan saya kembali (ke Inggris).”

Dia mengatakan kepada The Times sebelumnya bahwa selama waktunya bersama ISIS, dua anaknya yang lain meninggal. Dia menegaskan ingin kembali ke Inggris karena dia takut, anak ketiganya yang akan dilahirkan juga akan meninggal seperti dua anaknya yang lain.

“Itulah sebabnya saya benar-benar ingin kembali ke Inggris karena saya tahu itu akan diatasi. Setidaknya secara kesehatan,” kata Begum kepada Times.

“Saya tidak tahu apa yang akan saya hadapi ketika saya pergi,” katanya kepada Sky News, “Dan saya hanya berharap bahwa mungkin demi saya dan anak saya, mereka membiarkan saya kembali. Saya tidak bisa tinggal di kamp ini selamanya,” tambahnya.

Menanggapi saran sebelumnya bahwa dia mungkin menimbulkan ancaman keamanan dan kembalinya dia harus diblokir, Begum mengatakan kepada Sky News bahwa dia hanya seorang ibu rumah tangga. Dia menegaskan bahwa otoritas Inggris tidak memiliki bukti bahwa dia dapat dan pernah melakukan sesuatu yang berbahaya.

“Ketika saya pergi ke Suriah saya hanya seorang ibu rumah tangga selama empat tahun penuh. Tinggal di rumah, merawat anak-anak saya. Saya tidak pernah melakukan sesuatu yang berbahaya. Saya tidak pernah membuat propaganda. Saya tidak pernah mendorong orang untuk datang ke Suriah,” kilahnya.

Tetapi wawancara yang lebih baru dengan BBC mengungkapkan bahwa Begum telah ditampilkan dalam video propaganda ISIS dan dengan demikian, menurut Sommerville, “Dia membantu musuh Inggris.”

“Saya memang mendengar banyak orang didorong untuk mengejarnya,” kata Begum, “tetapi saya bukan orang yang menempatkan diri saya di berita.”

Dia menambahkan, “Perihal (tampil) poster gadis itu bukan pilihan saya.”

“Saya benar-benar mendukung beberapa nilai Inggris,” katanya kepada BBC dan menambahkan bahwa, “Saya bersedia untuk kembali ke Inggris dan menetap kembali dan merehabilitasi dan hal-hal (seperti) itu.”

Alex Younger, kepala dinas intelijen Inggris MI6, memperingatkan bahwa calon yang kembali, seperti Begum, “Berpotensi sangat berbahaya. Karena berada di posisi semacam itu, orang-orang seperti dia kemungkinan telah memperoleh ‘keterampilan’ tertentu, atau koneksi.”

Menteri Dalam Negeri, Sajid Javid mengatakan dia tidak akan ragu untuk memblokir kembalinya Begum, atau pendukung ISIS lainnya. Dia menambahkan bahwa mereka yang berhasil kembali ke Inggris harus siap untuk diselidiki dan berpotensi ‘diseret ke meja hijau’.

“Kita harus ingat bahwa mereka yang meninggalkan Inggris untuk bergabung dengan Daesh, penuh kebencian terhadap negara kita,” katanya, menurut Sky News. “Pesan saya jelas, jika Anda telah mendukung organisasi teroris di luar negeri, saya tidak akan ragu untuk mencegah (mencekal) Anda kembali.”

Menteri Keamanan Inggris, Ben Wallace dikutip oleh The Telegraph mengatakan, “Pesannya adalah untuk semua orang di luar sana. Jika Anda berada di luar sana menentang saran kantor asing untuk pergi dan terlibat dalam dukungan atau kegiatan terorisme, Anda harus siap untuk, jika Anda kembali, diinterogasi, diselidiki, dan berpotensi dituntut karena melakukan kejahatan terorisme.” (TOM OZIMEK/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular