Erabaru.net. Wang adalah pria dari Shanghai yang sangat pelit. Dia tidak akan pernah mau mentraktir makan siapa pun. Dia sendiri juga enggan makan di restoran. Dia paling suka numpang alias makan gratis dari orang lain.

Suatu hari, rekan kerjanya, yakni Zhang akan merayakan ulang tahunnya. Dia berkata kepada Wang : “Hari ini adalah hari ulangku. Nanti malam kita ke restoran Jinling untuk berkumpul dan makan bersama. Saya yang traktir kalian makan.”

Bukan main sennagnya Wang mendengar akan ditraktir makan. Apalagi itu adalah restoran yang selalu ingin dikunjunginya, tetapi dia sendiri jelas tidak mau merogoh dompetnya makan disana. Wang tersenyum senang, kali ini dia bisa makan sepuasnya di sana.

Wang berkata pada Zhang: “Karena waktunya sangat mendesak, jadi saya tidak sempat membeli kado ulang tahunmu.”

”Ah hadiah apa-an, tidak perlu beli apa pun ? Kau ke sana saja aku sudah senang,” kata Zhang

“Siapa lagi yang diajak ke sana?” Tanya Wang

”Ada Xiao chen dan Xiao ping, rekan sekantor kita juga. Kita semua kan sahabat baik, jadi sesekali kumpul dan makan bersama kan bagus juga,” jawab Zhang.

Mendengar orang yang ke sana adalah rekan-rekan kerja yang dikenalnya, Wang dengan cepat berkata : “Kalau begitu biar aku saja yang memberitahu Xiao Chen dan Xiao Ping, mereka pasti bukan main senangnya mendengar akan makan di tempat yang mewah itu.”

Malamnya seusai pulang kerja, keempat orang rekan sekantor itu ke restoran Jinling, Wang terlihat tersenyum ceria melihat tampat yang mewah itu..

Pelayan menyambut kedatangan mereka sambil tersenyum dan memberikan daftar menu. Wang melihat-lihat daftar menu itu sambil berdecak kagum, restoran kelas atas memang beda, katanya dalam hati.

Wang berkata kepada Xiao Ping: “Hei, ada udang goreng tepung tuh, memang mantap resto ini, menunya sesuai selera.”

Xiao Ping menggelengkan kepalanya dan berkata: “Bang, jangan memesan hidangan mahal seperti itu, hidangan biasa saja.”

Wang segera menyahutnya : “Dasar kamunya yang tidak tahu, kalau di restoran berkelas seperti ini kita justru harus memesan hidangan kelas atas, ngapain juga ke sini kalau hanya memesan menu hidangan seperti masakan di rumah”

Sementara Zhang dengan santai berkata pada Wang, untuk memilih saja sesuka mereka.

Dan Wang pun tanpa sungkan-sungkan lagi langsung memesan seporsi udang goreng tepung, kemudian seporsi besar kepiting, dan beberapa hidangan asing, mejanya pun seketika penuh dengan menu pesanannya
.
Xiao Chen dan Xiao Ping pun melongo diam tak bersuara, sementara Zhang tampak tenang.

Setelah hidangan pesanannya siap, Wang pun langsung melahapnya dengan rakus, seporsi besar kepiting hampir semuanya dilahapnya sendiri. Sedangkan Xiao Chen dan Xiao Zhang melihat hidangan yang mewah itu tidak seberani Wang yang mengambil hidangan di sana sini, dan cara makan mereka pun tampak santun.

Setelah hampir melahap habis seisi hidangan, Zhang yang menenggak sedikit minuman keras tampaknya tidak kuat minum lagi, kemudian berdiri dan berkata pada Wang mau ke toilet.

Xiao Chen membantu memapah Zhang berjalan ke toilet. Zhang berjalan terseok-seok seperti orang mabuk menuju ke pintu keluar, kemudian langsung pulih, Xiao Chen baru mengerti apa maksud Zhang pura-pura mabuk.

Namun, Xiao Chen berkata pada Zhang: “Bang, apa gak keterlaluan?”

“Tidak apa-apa, orang seperti Wang sudah sering makan gratis seperti ini sama kita, jadi tidak apa-apa sesekali kita kerjain dia, “ kata Zhang.

Xiao Chen khawatir jika dia pergi, Xiao Ping masih di dalam, Wang pasti akan membiarkan Xiao Ping membayarnya.

Xiao Chen khawatit bagaimana dengan Xiao Ping kalau mereka langsung pergi begitu saja, Wang pasti akan menyuruhnya yang bayar.

Xiao Chen lalu mengirim SMS ke Xiao Ping, menyuruhnya pergi dulu. Setelah menerima SMS itu, Xiao Ping berkata tergagap-gagap pada Wang mau ke toilet sebentar.

Melihat mereka semua ke toilet, Wang pun semakin lahap sendirian menikmati makanannya.

Xiao ping secara diam-diam berjalan ke pintu keluar.

Setelah menikmati sendiri semua hidangan di atas meja, akhirnya kenyang juga dia, dia meraba-raba perutnya yang bundar kekenyangan dan menunggu beberapa rekannya kembali untuk membayar.

Namun, setelah cukup lama menunggu tak tampak seorang pun bayangan rekannya, sementara pelayan resto berjalan ke mejanya dan dengan santun bertanya pada Wang apakah mau membayar.

Wang tertegun, dan langsung berkata bukan dia yang membayar, tapi temannya yang akan membayar semua tagihan itu.

Pelayan itu tersenyum dan berkata bahwa teman-temannya sudah pergi. Maaf, pak mau bayar tunai atau kartu kredit ?

Wang termangu di tempat dengan mata melotot dan dengan terbata-bata bertanya pada pelayan total tagihannya ?

Pelayan melihat billing tertera sebesar 5.800 yuan (Sekitar Rp 12 juta).

Bukan main marahnya Wang melihat total tagihannya. Dia pun bermaksud tidak mau membayar tagihan itu, pelayan terpaksa memanggil manajer dan security restoran. Akhirnya mau tidak mau Wang harus membayar total tagihan itu dengan kartu kreditnya sambil menyumpah serapah rekannya, Zhang.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular