- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Wahai Para Isteri, Perlakukanlah Suamimu dengan Baik, Banyak yang Tanpa Sadar Meneteskan Air Mata Setelah Membaca Artikel ini, Suara Hati Para Suami yang Tak Pernah Terucapkan!

Erabaru.net. Jika kamu telah menikah dan seorang suami harap sampaikan ini pada isterimu, mungkin setelah itu akan memberi efek yang mendalam!

Jika kamu seorang isteri, maka simaklah baik-baik artikel ini, karena kamu akan lebih mendalam mencintai suamimu.

Jika kamu masih lajang, tidak peduli laki-laki atau perempuan, maka simpanlah artikel ini, karena ada banyak arti sebenarnya tentang kehidupan dalam artikel ini!

Ada sebuah fenomena di antara orang-orang usia paruh baya.

Laki-laki jauh lebih cepat meninggal daripada wanita.

Ketika memasuki usia tua, tidak peduli berapa pun usia dan kondisi fisiknya, kamu tidak akan merasa kesepian dan nestapa asal selalu ditemani suami.

[1]
Ilustrasi. Sumber pixabay.com

Banyak orang menganggap bahwa laki-laki lebih kuat daripada wanita, terutama dari sisi fisik.

Namun, mengapa banyak lansia, si suami cenderung lebih pendek umur daripada wanita?

Sebenarnya, lelaki tidaklah sekuat seperti yang dibayangkan kaum wanita.

Mereka juga manusia, bisa merasakan sedih, frustasi, depresi, tekanan, dan beban hidup, hanya saja mereka memendam semua itu di dalam hati.

Mengapa kaum pria cenderung lebih banyak yang menenggak minuman keras atau merokok?

Ini karena wanita cenderung lebih baik dalam menangani stres, seperti curhat pada orang tua, saudara, teman baik, menangis dan lain-lain.

Dalam norma sosial, wanita sepertinya lebih diperbolehkan untuk menunjukkan sisi lemahnya ketimbang pria.

Wanita menangis itu wajar dan harus diberi perhatian, tetapi pria tidak boleh dengan gampangnya meneteskan air mata.

Apalagi setelah berkeluarga, tekanan pria menjadi semakin besar.

Sebagai kepala keluarga, ia harus selalu tampil sebagai sosok suami sekaligus ayah yang kuat di depan istri dan anak-anaknya.

Wanita apabila sudah menikah tetap bisa mencurahkan isi hatinya kepada suami, orang tua atau teman-teman baiknya.

Emosinya jadi lebih mudah tersalurkan, sehingga membuat wanita lebih panjang umur daripada pria.

Lalu, bagaimana caranya agar suami juga bisa panjang umur?

Apa ada cara yang bisa meringankan beban/stres yang ia pikul?

Ada!

[2]
Ilustrasi. (Sumber: static.pexels.com)

Pertama, sebisa mungkin ciptakanlah lingkungan keluarga yang hangat, sehingga ketika suami pulang bekerja, ia bisa melepas lelah dan beristirahat dengan nyaman.

Janganlah bertengkar mulut hanya karena masalah pekerjaan rumah tangga. Asal ada pembagian kerja yang baik, tidak akan jadi masalah.

Kedua, ketika suami menemui kesulitan (suasana hati buruk) di luar sana, meskipun pulang ia tidak berkata apa-apa, sebagai istri cobalah memberinya perhatian.

Misalnya membuat masakan kesukaannya, hibur dia dengan cerita lucu, alihkan suasana hatinya yang buruk atau setidaknya jangan memasang muka cemberut.

Setelah ia merasa lebih baik, kalian bisa berdiskusi apa masalahnya dan mencari solusinya.

Sekalipun ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya atau tidak ingin mengungkit masalah yang ia hadapi, tetaplah berusaha untuk menghiburnya sampai ia mau berbicara.

Setidaknya, sebagai istri seharusnya membantu meringankan beban suami.

Perhatian dan kelembutan istri adalah obat terbaik bagi suami.

Jika suami berbuat salah, jangan gunakan emosi atau nada ketus karena hanya akan berujung pada pertengkaran.

Hal yang bisa kamu lakukan adalah bersabar dan memaafkannya, demi menjaga perasaan juga keharmonisan keluarga.

Boleh dikata, persoalan yang paling bikin pusing pasti tidak lepas soal uang dan pekerjaan.

Kalau tidak, mungkin konflik dengan teman, atau orang lain dan semacamnya.

Kalau yang kamu inginkan adalah hidup bahagia bersama suami sampai tua, maka yang paling penting sebenarnya bukanlah seberapa kaya atau berkuasanya suamimu.

Tapi yang terpenting adalah kesehatan. Kesehatan merupakan kesuksesan yang paling penting.

Rezeki bisa dicari, tetapi tubuh yang sehat tidak bisa dibeli dengan harta segunung.

[3]
Ilustrasi. Sumber vividsaaga.com

Ketiga, bujuklah suami untuk tidak merokok atau minum minuman keras.

Sadarkan ia akan pentingnya kesehatan. Bila ia tidak memikirkan dirinya sendiri, setidaknya pikirkanlah keluarga, kamu juga anak-anak.

Bila tidak ingin lebih cepat berpisah dengan keluarga, dan menambah beban hidup, maka berhentilah merokok..

Keempat, jika kamu terpaksa harus tinggal bersama mertua, usahakan agar hubungan kamu dengan mertua bisa harmonis dan rukun, karena kalau terjadi pertengkaran, yang paling menderita adalah suami kamu.

Karena ia pasti akan dilema, dan serba salah berada di tengah-tengah.

Di satu sisi istrinya, di sisi lain orang tuanya, ia tidak tahu harus membela siapa karena kedua itu adalah sosok orang yang penting baginya.

Ia pasti sangat tertekan karena hal itu.

Jika kamu bisa melakukan 4 poin di atas, maka yang berikut ini akan terasa lebih mudah.

Jika kamu mencintai suamimu, maka jangan biarkan ia makan goreng-gorengan. Masaklah sayuran berkuah atau semacamnya.

Dengan mengonsumsi makanan yang sehat, kamu akan menyadari kalau dulunya sang suami yang sering ketiduran, mengantuk, lesu, tiba-tiba menjadi lebih berenergi dan bersemangat!

Ajaklah suami berolahraga bersama, seperti marathon, jalan santai, bersepeda dan sebagainya.

Kamu juga bisa sesekali mengajaknya bepergian, kemana saja terserah.

Dari hal-hal kecil seperti ini, suami kamu akan sadar bahwa kamu benar-benar tulus menyayanginya.

Ia pun akan lebih memperhatikan kesehatannya dan lebih giat lagi untuk membuatmu bahagia!

Ia akan sangat berterima kasih padamu karena kamu tidak menambah atau menciptakan beban untuknya, sebaliknya justeru membantu mengurangi bebannya.

[4]
Ilustrasi. Sumber: toptrendingtopics.files.wordpress.com

Sebagai isteri juga harus sadar bahwa yang bisa menemani kamu sampai akhir kehidupan bukanlah orang tua ataupun anak-anak, tapi pasangan.

Ia yang akan mendampingi kita (wanita) seumur hidup, sampai rambut berubah menjadi putih, wajah keriput, jalan tertatih-tatih dan tangan gemetar.

Ketika kita hidup sampai umur 70, 80, 90 tahun masih tetap ada pasangan yang menemani, tentunya kita tidak akan merasa kesepian.

Anak kita pun mungkin sudah berkeluarga, punya kehidupannya sendiri, tidak mungkin bisa selalu tinggal di sisi kita.

Saat itulah kita semua akan sadar, bahwa seberapa banyak harta maupun kesuksesan tidak bisa menggantikan seorang suami yang tulus mencintai kita dan menemani kita sampai akhir hayat.

Ketika seseorang menyimpan begitu banyak beban, suatu hari pasti akan meledak juga.

Hari demi hari jangan lupakan juga kesehatan sendiri.

Kesehatan dan kebahagiaan suami-istri adalah kunci dari panjang umur dan keharmonisan berkeluarga. (jhony/rp)

Sumber: woo22.com

Video Rekomendasi: