Produksi obat-obatan baru adalah proses yang panjang dan kompleks, menyerukan uji coba pada hewan, dan kemudian uji coba pada manusia secara sukarela, menurut BPOM Amerika Serikat, U.S. Food and Drug Administration.

Pasien yang memiliki kondisi atau penyakit yang sudah ada dapat menjadi sukarelawan untuk obat baru dan eksperimental. Kelompok pasien yang berbeda ini akan menjalani uji coba obat selama beberapa bulan hingga beberapa tahun, tergantung pada tahapannya. Proses ini digunakan untuk menguji kemanjuran obat, kemungkinan efek samping, dan keamanan secara umum.

Dengan demikian, istilah “obat” umumnya akan membuat orang berpikir tentang zat yang akan membuat kesehatan menjadi baik, atau setidaknya kenyamanan bagi orang yang menerimanya. Namun, sejumlah dokter di Tiongkok telah merusak definisi kata penyembuhan tersebut, dan mengubah “obat” menjadi ekstrem berlawanan.

MERACUNI

Falun Gong, sebuah latihan meditasi tradisional Tiongkok yang damai, dianiaya secara brutal oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Di daratan Tiongkok, seorang praktisi Falun Gong telah mewawancarai seorang dokter medis tradisional Tiongkok tentang pengujian medis. Baik pewawancara maupun nama dokter dihilangkan demi keselamatan mereka.

Ketika ditanya apakah PKT menggunakan orang-orang sebagai subjek uji, dokter dengan tenang menjawab “ini biasa.”

Dokter tersebut memberi contoh bagaimana obat digunakan sebagai racun di Tiongkok. “Jika ada seseorang yang tidak hanya menawarkan suap kepada pejabat yang korup tetapi juga kebetulan berada di rumah sakit, pejabat itu, demi membungkam mereka, akan meminta rumah sakit untuk memberikan suntikan pada mereka,” kata dokter tersebut. “Suntikan itu dapat menyebabkan penyakit jantung, penyakit otak, atau gejala-gejala lainnya.”

“Semua gejala ini dapat disebabkan melalui obat,” kata dokter. “Ketika beberapa produsen obat akan menguji obat-obatan, gejala-gejala itu akan dirangsang agar timbul oleh obat-obatan itu, dan kemudian efektivitas obat baru dapat dilihat.”

Pelanggaran-pelanggaran medis terkenal ada di satu kota tertentu di Provinsi Shandong. Di Kota Jining, para tahanan nurani disuntik paksa dengan obat-obatan yang tidak dikenal. Menurut laporan-laporan tentang Jining, industri medis itu sendiri saja bernilai lebih dari US$14 miliar per tahun.

Banyak bisnis medis dan farmasi tidak hanya dari Tiongkok, tetapi juga dari dunia di bagian lain, memiliki pabrik dan laboratorium di Jining. Banyak iklan-iklan rekrutmen pekerjaan di kota tersebut membutuhkan administrator pengujian obat klinis.

PENGUJIAN BERACUN

Minghui.org, situs web berbasis di A.S. yang berfungsi sebagai pusat informasi tentang penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok, telah melaporkan banyak insiden yang melibatkan praktisi Falun Gong telah disuntik paksa dengan obat-obatan yang tidak dikenal.

Mantan pemimpin Tiongkok Jiang Zemin, yang memprakarsai penganiayaan pada tahun 1999, telah mengatakan sehubungan dengan penindasan terhadap Falun Gong, “[kita] harus menggunakan metode perlakuan secara medis.” Jiang juga mengatakan bahwa obat-obatan dan eksperimen klinis harus digunakan.

Di banyak rumah sakit di Provinsi Shandong, orang-orang yang ditangkap secara paksa telah diberikan suntikan-suntikan. Usia berkisar antara 22 hingga 50 tahun, dengan sebagian besar korban berusia antara 37 dan 44 tahun. Ada yang lemah, ada yang kehilangan akal, dan ada yang mati mendadak.

“Dari semua contoh-contoh ini, orang dapat melihat bukti eksperimen medis,” kata orang yang melakukan wawancara tersebut. Setiap praktisi Falun Gong yang ditangkap dan dikirim secara sewenang-wenang ke rumah sakit jiwa akan memiliki “riwayat penyakit mental keluarga” yang tertulis di catatan mereka.

Di bawah ini adalah beberapa contoh kejahatan yang tak terhitung jumlahnya yang dilakukan terhadap orang-orang di daratan Tiongkok karena mempertahankan iman kepercayaan mereka.

PARA KORBAN

Su Gang adalah seorang pria berusia 32 tahun dari daerah sekitar Jining. Dia bekerja sebagai insinyur komputer. Dia ditangkap dan dikirim ke rumah sakit jiwa pada 23 Mei 2000. Dia secara paksa diberikan suntikan yang merusak saraf di tulang belakangnya.

Setelah sembilan hari menerima suntikan-suntikan, ia dibebaskan pada ayahnya. Ayahnya berkata bahwa Su memiliki pandangan yang tidak bernyawa di matanya, dan tidak ada ekspresi di wajahnya. Perlahan Su memberi reaksi pada ayahnya, sementara tubuhnya kaku dan keras, dan lemah pada saat yang sama.

Su meninggal dalam waktu satu bulan setelah dibebaskan.

Seorang pria bernama Yu Fenglai bekerja sebagai seorang perwira di pasukan polisi bersenjata. Dia dibawa ke kamp kerja paksa, dan dipaksa menelan obat yang tidak dikenal. Yu juga tidak diizinkan tidur.

“Setelah lama, berhari-hari, telah merampas tidur saya, bersama dengan efek obat itu, kemampuan saya untuk bertahan perlahan-lahan hancur,” kata Yu. “Saya perlahan kehilangan diri saya.”

Yu berkata menjelang akhir, dia tidak bisa membedakan apa pun dan berada dalam kondisi vegetatif (keadaan seperti koma ditandai dengan mata terbuka dan penampilan terjaga), tidak mampu mengendalikan tubuhnya.

Seorang wanita bernama Xu Guiqin ditangkap pada usia 38 tahun dan dikirim ke kamp kerja paksa wanita.

Sebelum Xu dibebaskan, ia menerima empat suntikan yang menargetkan tulang belakang. Wajahnya menjadi bengkak, lidahnya kaku, tubuhnya mati rasa, dan dia menderita kehilangan ingatan yang parah.

Ketika dia dibebaskan dari kamp dan dikirim pulang, dia perlahan mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Xu meninggal sembilan hari kemudian.

Wanita lain bernama Liu Zhimay adalah seorang mahasiswa di perguruan tinggi paling bergengsi Tiongkok. Dia ditangkap menjelang akhir tahun 2002.

Dia diberi tiga suntikan setiap hari. Pada tahun 2003, tahanan lain mengatakan dia menjadi tidak normal, dan mereka bisa mendengar teriakannya di seluruh penjara. “Aku tidak punya penyakit, jangan beri aku suntikan, jangan beri aku obat!” teriak Liu.

Liu dibebaskan pada 13 November 2008. Selama dua hari pertama ketika dia di rumah, dia tampak baik-baik saja. Pada hari ketiga, masalah mental mulai muncul.

Liu tidak bisa duduk diam, dia akan berbicara yang sulit dipahami, dia tidak akan tidur di malam hari, dan mulai kehilangan ingatannya. Dia juga minum banyak air, dan sama sekali tidak sadar telah mengompol, berbaring di atasnya.

Setelah beberapa tahun, Liu meninggal dunia.

Lu Meihua ditangkap pada 11 September 1999. Dia disuruh menelan pil secara paksa, dan dipegangi oleh lima hingga enam orang dan diberi suntikan-suntikan.

Setelah menerima suntikan, kakinya bergerak tak terkendali, bahkan ketika dia berbaring dan mencoba tidur. Dia menjadi lelah dan tidak dapat melakukan apapun.

Postur tubuhnya berubah bentuk, dimana kedua tangan dan kepalanya muntir (memutar) ke salah satu sisi tubuhnya, tidak bisa duduk atau berdiri dengan cara normal. (ran)

Video pilihan:

FDA: Obat-obat Tiongkok Mengandung Unsur Kanker, Ditarik Dari Peredaran

Share

Video Popular