Visiontimes.com

Erabaru.net. Ada banyak ungkapan bijak dari zaman dahulu kala. Salah satunya adalah: “Ketika menjalankan usahanya, seseorang harus mematuhi prinsip-prinsip surgawi.”

Ungkapan bijak lainnya adalah: “Untuk memperluas bidang kekayaan seseorang, seseorang harus bertindak sesuai dengan hati nuraninya.”

Istilah Ini menyiratkan bahwa orang harus mengikuti prinsip-prinsip surgawi untuk mencapai usahanya secara efektif. Langkah ini memungkinkan meningkatnya keberuntungan. Orang pun harus meningkatkan taraf hati mereka.

Orang-orang zaman dahulu percaya bahwa mereka dapat mengumpulkan kebajikan dengan melindungi kehidupan mereka dan memastikan tidak terlibat hubungan seksual terlarang.

Raja Wenchang (文昌 王) adalah dewa Tao yang dikenal di Barat sebagai Dewa Kebudayaan dan Sastra Tiongkok. Dalam kitab karyanya, dia berkata: “Mengikuti pikiran nafsu birahi adalah tindakan orang yang tidak lurus. Nafsu birahi merusak karakter welas asih, integritas moral, dan reputasi seseorang. Nafsu birahi melanggar prinsip-prinsip surgawi dan orang itu harus dihukum. Surga sering menghukum dengan cepat kepada orang-orang itu. Jika seseorang tidak takut pembalasan dan tidak menahan diri dan memperbaiki tindakan jahat, mereka akan menderita kemalangan yang berkelanjutan. Hanya mereka yang memiliki tubuh murni dan kebajikan baik yang menjaga tubuh mereka seperti batu giok yang berharga dapat menerima nasib baik Surga. “

Menurut Raja Wenchang: “Hanya mereka yang murni dan kebajikan baik yang menjaga tubuh mereka seperti batu giok yang berharga dapat menerima nasib baik Surga.” (Gambar: Valerie Everett via flickr CC BY-SA 2.0)

Sejak zaman dahulu kala, mereka yang dapat menyangkal nafsu birahi telah menerima nasib mujur. Namun, mereka yang mengumbar nafsu birahi dan menikmati kesenangan indra akan mengalami petaka dan musibah secara teratur. Masalah ini cukup untuk merusak ketentraman serta masa depan seseorang. Sekali Anda memiliki pikiran nafsu birahi, bahkan jika itu tidak dilakukan, itu sudah terbilang sebuah dosa.

BACA JUGA : Mengapa Suasana Hati Dapat Merusak Tubuh Anda?

Bagi mereka yang berbuat memenuhi hawa nafsu birahinya, tidak hanya mengalami bencana, tetapi akan membawa petaka kepada keturunan mereka. Dengan melakukan perbuatan tak senonoh itu, beberapa orang dengan cepat kehilangan nasib baik mereka, keluarga beberapa orang tercerai berai. Bahkan, ada orang yang kehilangan nyawa mereka.

Ketika seseorang seharusnya memiliki kekayaan, jabatan, dan kehormatan, tetapi karena tindakan tak senonoh itu, mereka menjadi melarat selama sisa hidup mereka.

Lebih miris lagi, jika seseorang akan memiliki umur panjang dan nasib baik seluas samudera, tetapi karena melakukan tindakan tak terpuji itu, mereka akan mengalami kemalangan dan ajal menjemputnya di masa mudanya.

Jika seseorang melewati batas ini, mereka sejatinya telah merusak integritas mereka dan mengkhianati prinsip-prinsip Surgawi. Karena tidak ada tempat bagi orang semacam itu di Surga atau di Bumi, bagaimana mungkin  tidak menganggap persoalan ini sangat serius?

BACA JUGA : Belenggu Nafsu Manusia

Sejumlah literatur zaman dulu berisi banyak contoh yang menunjukkan proses anugerah atau balasan sehubungan dengan perbuatan ini. Di bawah ini adalah salah satu contohnya.

Pada masa Dinasti Song Utara, Lin Maoxian dari Xinzhou, Provinsi Jiangxi, Tiongkok, adalah orang yang terpelajar. Dia berasal dari keluarga sangat miskin, ia lebih memilih fokus pada studinya dan tidak menyiakan waktunya.

Lin Maoxian adalah orang terpelajar dari keluarga yang sangat miskin yang fokus pada studinya. (Gambar: Screenshot / Youtube Sound of Hope)

Suatu hari, ia menerima penghargaan dari desa. Ia memiliki tetangga seorang saudagar. Si saudagar ini memiliki seorang istri. Tapi istrinya tidak menyukai suaminya karena tidak berpendidikan. Istri saudagar itu pun secara diam-diam mengagumi reputasi akademik Lin Maoxian.

Setelah meraih penghargaan, wanita ini menjadi tergila-gila dengan Lin Maoxian dan suatu malam ia pergi ke rumahnya. Lin Maoxian berbicara kepadanya dengan tegas: “Ada perbedaan antara pria dan wanita, dan perilaku ini tidak sesuai dengan aturan etiket Surgawi. Surga, Bumi, baik dan jahat ada di sekitar kita, seolah-olah kita berada di hutan. Bagaimana Anda dapat merusak perilaku moral saya? “Wanita itu merasa malu setelah mendengar ini dan meninggalkan rumahnya.”

Pada tahun kedua, Lin Maoxian lulus ujian kekaisaran tertinggi. Karena dia sangat berbakat dengan prestasi luar biasa, dia ditempatkan di posisi penting di istana kekaisaran. Dia menjadi menteri keformalan di ibukota dan memiliki peringkat tertinggi kedua. Belakangan, keempat putranya juga lulus ujian kekaisaran tertinggi. Mereka dihormati dengan pujian dan gelar “Keluarga lulusan kekaisaran” atau “Keluarga bangsawan terhormat.”

Kitab Zhōngyōng atau sebuah teks Konfusianisme yang terkenal, dimulai dengan mengatakan bahwa salah satu karakter bangsawan perlu mendisiplinkan diri mereka sendiri bahkan secara pribadi. Ketika berbicara dengan orang yang mana moralnya rendah, mereka dikatakan tidak takut apa pun. Kedisiplinan membutuhkan rasa hormat dan ketakutan. Seseorang harus menghormati etiket sosial atau takut akan konsekuensinya, seperti yang ditunjukkan oleh kedisiplinan diri Lin Maoxian yang teguh.

Orang-orang kuno menghormati Surga dan Ilahi. Salah satu karakter yang mulia, bahkan di ruangan gelap, menyadari bahwa langit sedang mengamati, dan tidak berani menuruti nafsu birahi. Mereka dapat menahan diri, menumbuhkan belas kasih, dan mengumpulkan keberuntungan, dan akan diberkati oleh Surga dan dikagumi oleh manusia dan dewata.

Mereka yang bermoral rendah tidak percaya pada pembalasan karma; mereka akan celaka. Moralitas mereka yang rendah membuat diri mereka percaya bahwa tidak ada yang akan tahu jika mereka menyembunyikan tindakan buruk mereka.

Mereka tidak menyadari bahwa meskipun pikiran dan tindakan mereka dapat disembunyikan dari orang lainnya. Akan tetapi mereka tidak dapat menyembunyikannya dari sorotan Ilahi. Akibatnya, mereka akan dikenai karma besar dan mendatangkan amarah dari surga. (asr)

Share

Video Popular