Havana – Rakyat Kuba turun ke jalan-jalan di Ibukota Havana. Mereka memprotes konstitusi baru rezim komunis pada 23 Februari 2019. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya memperkirakan bahwa perubahan di Venezuela akan memiliki efek riak di Kuba dan Nikaragua.

Dalam rekaman video yang dibagikan di akun pribadi reporter Telemundo Eduardo Rodríguez, kerumunan orang Kuba terlihat berjalan dan berteriak di jalanan yang cerah di Havana. Miami Herald melaporkan pada hari berikutnya bahwa sebuah gerakan yang menentang konstitusi baru rezim komunis mengadakan protes di Havana. Tidak jelas apakah protes dalam video itu sama dengan yang dirujuk dalam laporan Herald.

Trump mengatakan dalam sebuah pidato kepada komunitas Venezuela di Miami pada 18 Februari bahwa perubahan di Venezuela akan menyebar ke Kuba dan Nikaragua. Itu adalah bagian dari proses membersihkan sosialisme dan komunisme dari Amerika Selatan.

Protes publik sangat jarang terjadi di bawah kediktatoran komunis Kuba. Akan tetapi referendum tentang konstitusi baru rezim telah menarik perlawanan dari gerakan oposisi vokal. Konstitusi baru menyatakan, “Partai komunis adalah direktur masyarakat Kuba selamanya.” Konstitusi juga menegaskan bahwa, “Sosialisme (sebagai sistem negara) tidak dapat diubah.”

Sekitar 81 persen dari 8,7 juta pemilih telah memberikan suara untuk lima poin perubahan, pada 24 Februari 2019, satu jam sebelum pemilihan ditutup, menurut komisi pemilihan nasional. Hasil awal menunjukkan bahwa referendum berhasil.

Menurut laporan dari oposisi, beberapa sukarelawan yang pergi menonton penghitungan suara di TPS telah ditangkap. Rekaman video yang beredar luas di media sosial juga menunjukkan bahwa seorang lelaki memberikan beberapa suara. Beberapa foto yang diposting di Twitter menunjukkan poster besar yang mempromosikan suara, “ya” pilihan rezim, terpampang di dalam TPS.

Senator AS, Marco Rubio (Republikan/Florida), Dalam pesan Twitter, menyebut pemilihan itu sebagai lelucon dan penipuan oleh partai komunis. Sementara penasihat keamanan nasional Trump, John Bolton, menyuarakan dukungan bagi mereka yang menentang rezim komunis.

“Referendum konstitusional Kuba hari ini adalah taktik lain dari rezim Kuba untuk menutupi penindasan dan tirani,” tulis Bolton di Twitter. “Amerika Serikat mendukung seruan rakyat Kuba untuk kebebasan dan demokrasi.”

Referendum konstitusi adalah pembaruan pertama untuk pemerintahan Kuba sejak tahun 1976. Upaya untuk memperkuat komunisme sebagai ideologi permanen untuk Kuba. Dokumen referendum mencakup referensi untuk pengakuan kepemilikan pribadi, investasi asing, usaha kecil, internet, hak untuk perwakilan hukum setelah ditangkap, dan habeas corpus.

Konstitusi baru juga akan merestrukturisasi pemerintahan, menambahkan perdana menteri dan menetapkan batas masa jabatan bagi presiden, di antara perubahan lainnya. Rezim komunis mengatur ribuan pertemuan lokal untuk memperdebatkan rancangan konstitusi baru tahun lalu. Walau demikian, rancangan asli pertama kali hampir identik dengan dokumen yang diajukan untuk referendum 24 Februari 2019.

Diktator komunis Kuba, Miguel Díaz-Canel memberikan suara dalam referendum untuk menyetujui reformasi konstitusi di Havana, Kuba, 24 Februari 2019. (Foto : Ramon Espinosa/Reuters/The Epoch Times)

Konstitusi saat ini disetujui pada tahun 1976 dengan 97,7 persen dari 5,6 juta pemilih terdaftar yang mendukung, dan hanya 54.000 suara yang menolak. Sebagian besar analis memperkirakan versi baru akan melewati margin yang lebih rendah di antara 8 juta pemilih terdaftar.

Dengan cara yang tidak biasa, rezim komunis berusaha keras untuk mempromosikan referendum dan menyerukan untuk memilih ‘ya!’ Pemerintah telah menggambarkan suara ‘ya’ (mendukung referendum) sebagai patriotik, sementara lawan paling gencar pada ‘konstitusi baru’ mengatakan suara ‘tidak’ (menolak referendum) adalah sebuah langkah menuju berakhirnya dekade pemerintahan Komunis.

Dan dengan masyarakat sipil yang semakin berani dan lebih banyak orang Kuba daripada sebelumnya yang terhubung ke internet, debat publik menjadi lebih aktif daripada di masa lalu. Tagar seperti #YoVotoSi (saya pilih ya) dan #YoVotoNo (saya pilih tidak) bersaing untuk mendapatkan tempat di Twitter.

“Kita hanya dapat mengatasi tirani jika setiap orang yang menginginkan Kuba yang bebas dan demokratis memberikan dukungan penuh. Saya memilih tidak,” tulis Jose Daniel Ferrer, pemimpin Uni Patriotik Kuba.

Sejumlah anggota partai Uni Patriotik Kuba telah menderita penahanan sementara dan penggerebekan di rumah mereka menjelang referendum.

Rezim komunis telah menggunakan monopolinya pada media tradisional dan ruang publik untuk mendesak persetujuan dan menyensor ‘sudut pandang’ dan pendapat yang berlawanan. Pihak oposisi menggunakan media sosial dan taktik dari pintu ke pintu untuk menyerukan kepada orang-orang untuk memilih ‘tidak’ atau ‘abstain’ pada hari referendum.

Diktator komunis Kuba, Miguel Díaz-Canel mengatakan pemungutan suara berlangsung ketika peristiwa di Venezuela menunjukkan ‘ancaman imperialis’ yang dihadapi kawasan itu, sebuah rujukan yang mengarah kepada Amerika Serikat. Trump mengakui Juan Guaido dari Venezuela sebagai pemimpin yang sah setelah Majelis Nasional Venezuela yang terpilih menyatakan bahwa diktator sosialis Nicolás Maduro menjadi presiden tidak sah. (IVAN PENTCHOUKOV dan Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular