OTTAWA — Keyakinan Kanada yang sangat romantis bahwa rezim komunis yang berkuasa di Tiongkok dapat direformasi belum berhasil dengan baik. Itu salah satu dari banyak asas yang dipelajari seseorang dari buku Jonathan Manthorpe “Claws of the Panda: Beijing’s Campaign of Influence and Intimidation in China.”

Pada peluncuran buku nasionalnya yang dipandu oleh think tank kebijakan publik Macdonald-Laurier Institute pada 26 Februari, jurnalis berusia 40 tahun itu menjelaskan bahwa orang Kanada; para politisi, pengusaha, dan warga biasa, perlu memahami bahwa aturan hukum tidak berlaku berlaku di Tiongkok; supremasi hukum merupakan ancaman bagi negara satu partai tersebut.

“Kanada tidak akan pernah mengubah Tiongkok,” tulis Manthorpe. Agenda progresif Perdana Menteri Justin Trudeau termasuk kesetaraan gender dan reformasi lingkungan berjalan seperti sebuah kegagalan total dalam kunjungannya pada November 2017.

Kanada akan terus melibatkan Tiongkok, tetapi ia bisa ditekan dengan kejam jika tidak memperbaiki pendekatannya, kata Manthorpe. Keyakinan yang dapat menimbulkan kesulitan bahwa Kanada dapat mengubah Tiongkok dengan nilai-nilai Kanada tersebut tetap tertanam kuat bahkan sampai hari ini.

HUBUNGAN KANADA-TIONGKOK

Kanada menjadi salah satu negara barat pertama yang menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok komunis ketika mantan Perdana Menteri Pierre Trudeau mengunjungi pada tahun 1970. Putranya telah mempertahankan hubungan itu, menyebut salah satu pendukung paling vokal untuk rezim tersebut, Peter Harder, mantan presiden Dewan Bisnis Kanada Tiongkok (Canada China Business Council), sebagai perwakilan pemerintah di Senat.

Beberapa dekade kemudian, kekhawatiran pencurian kekayaan intelektual telah mengganggu hubungan-hubungan akademik dan bisnis Kanada dengan Tiongkok.

Revolusi teknologi Tiongkok sangat bergantung pada perolehan teknologi asing. Kematian Nortel secara kasar telah terjadi bertepatan dengan pendakian Huawei. Brian Shields, seorang mantan penasihat keamanan senior di Nortel, sebelumnya mengatakan kepada NTD Television bahwa peretasan yang canggih dan gigih dari para aktor negara Tiongkok adalah faktor utama dalam kejatuhan Nortel.

Nortel Networks Corporation (Nortel), yang sebelumnya dikenal sebagai Northern Electric dan Northern Telecom, adalah produsen peralatan telekomunikasi dan jaringan data multinasional yang berkantor pusat di Mississauga, Ontario, Kanada.

Manthorpe meragukan Kanada dapat memiliki lebih dari sekadar hubungan perdagangan WTO dengan Tiongkok. Ketika inisiatif-inisiatif baru diajukan, ia berharap pertanyaan pertama yang akan diajukan orang-orang Kanada adalah: “Apa manfaatnya bagi Kanada dan orang-orang Kanada dapatkah kita mengantisipasi kesepakatan itu secara terang-terangan dan realistis?”

Ada sangat sedikit titik temu, tentang diplomasi global, nilai-nilai sipil, perjanjian keamanan timbal balik, antara Kanada dengan Tiongkok dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya seperti Jepang dan Korea Selatan.

“Hubungan kita dengan RRT [Republik Rakyat Tiongkok] hanya didasarkan pada perdagangan semata-mata sehingga ketika ada masalah, kita tidak memiliki penyangga lain dalam hubungan-hubungan tersebut,” katanya.

Beijing telah menawarkan sebagai bujukan akses ke pasar Tiongkok besar-besaran pada perusahaan-perusahaan Kanada yang berhasrat besar selama beberapa dekade namun Manthorpe telah menunjukkan itu bukan pasar 1,3 miliar. Ia sebenarnya adalah pasar yang jauh lebih kecil kurang dari 50 juta, satu contoh tentang bagaimana pebisnis berjuang keras untuk memahami politik dan budaya Tiongkok.

TANTANGAN HUAWEI

Manthorpe mengatakan, penangkapan CFO Huawei baru-baru ini dan penahanan dua warga Kanada di Beijing berikutnya dan menjatuhkan hukuman satu dari tiga hingga mati “telah mengungkapkan ketidakcocokan mendasar dari nilai-nilai kita.” Ini adalah saat yang kritis bagi hubungan Tiongkok-Kanada.

Kanada memiliki keputusan untuk mempertimbangkan Huawei dan pembangunan infrastruktur 5G. Namun, terkait dengan sekutu Kanada di jaringan Five Eyes, “ini adalah momen yang cukup penting dalam sejarah intelijen bersama,” kata Manthorpe.

Five Eyes adalah aliansi kerja sama multilateral dalam bidang intelijen antara Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Jika Kanada sependapat dengan Inggris bahwa risiko Huawei dapat dikendalikan, berbeda dengan Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru, maka itu bisa berarti akhir dari Five Eyes, kata Manthorpe. Amerika Serikat dapat berhenti berbagi informasi sensitif dengan Kanada.

“Akankah para politisi memutuskan bahwa menjaga Five Eyes lebih penting daripada mendapatkan sakelar murah dari Huawei?” tanyanya.

‘DEMONSTRASI KECEMASAN’

Beijing berusaha menciptakan legitimasi politik dengan tetap mempertahankan penampilan solid sebuah negara otoriter. Tetapi negara-negara seperti itu tidak sekokoh yang terlihat, kata Manthorpe.

“Mereka rapuh, Anda tidak pernah tahu kapan satu ketukan di tempat yang tepat akan membuat mereka roboh,” kata Manthorpe.

Dengan dorongan anti korupsi Presiden Tiongkok Xi Jinping, sejumlah besar modal telah mengalir keluar dari Tiongkok. Kanada adalah salah satu tempat yang dihuni. Manthorpe mengatakan Kanada harus memeriksa mengapa itu terjadi.

“Kita sedang mengimpor korupsi,” katanya. Kanada tidak memiliki daftar yang tersedia secara umum tentang para pemilik manfaat (pemilik sebenarnya) dari properti-properti dan perusahaan-perusahaan.

KAMPANYE INTIMIDASI

Buku tersebut mengidentifikasi lima “kelompok beracun” yang Partai Komunis Tiongkok (PKT) bertujuan untuk meneror dan membungkam: Tibet, Uighur dari daerah otonom Xinjiang, Taiwan, pemrotes demokrasi, dan praktisi Falun Gong, sebuah disiplin meditasi.

Teror datang dalam bentuk panggilan-panggilan telepon yang mengganggu, propaganda kebencian, pemantauan, intimidasi, dan gangguan terhadap orang-orang Kanada yang mengunjungi Tiongkok yang berkaitan dengan kelompok-kelompok ini.

Anastasia Lin, yang berbicara pada peluncuran buku Manthorpe, adalah korban pelecehan ini. Dia lahir di Tiongkok dan tinggal di sana selama 13 tahun sebelum datang ke Kanada. Setelah emigrasi, dia menyadari bahwa dia telah diindoktrinasi sepanjang hidupnya.

“Saya dibesarkan di negara kediktatoran, nilai-nilai kita, jiwa manusia yang sejati telah dihancurkan,” katanya.

Lin terpilih sebagai Miss World Canada pada tahun 2015 dan mengungkap pelanggaran HAM di negara asalnya. Akibatnya, ayahnya yang berada di Tiongkok terancam.

Karena Lin telah berkeliling dunia untuk mengangkat masalah HAM di Tiongkok, dia telah bertemu dengan banyak orang Tiongkok yang sesuai dengan kehendak PKT sehingga keluarga mereka di Tiongkok akan aman. Kisahnya memberikan contoh khas, kata Manthorpe, tentang bagaimana PKT mencoba membungkam suara-suara pembangkang di Kanada. (ran)

Ikuti Rahul di Twitter @RV_ETBiz

Video pilihan:

Huawei Ikut Perang 5G, Eropa Pilih Siapa?

Share

Video Popular