oleh Liu Yi

Erabaru.net. Wakil direktur dan ekonom Institute of International Monetary Research di Universitas Renmin Tiongkok, Xiang Songzuo, baru-baru ini mengatakan bahwa pemerintah komunis Tiongkok membiarkan bank bayangan kembali beroperasi demi menjaga stabilitas ekonomi. Industri terkait khawatir jika gelembung meledak, hutang bank gelap dapat menyebabkan krisis keuangan Tiongkok.

Menurut ‘Liberty Times’, Xiang Songzuo dalam penjelasannya baru-baru ini mengatakan bahwa demi mencegah penurunan ekonomi pemerintah Tiongkok di satu sisi telah melarang beroperasinya bank bayangan. “Tahun ini, regulator akan mendorong lebih banyak bank bayangan untuk ikut dalam pembiayaan terutama untuk perusahaan swasta.”

BACA JUGA : Terhempasnya Ambisi Internasionalisasi Renminbi di Tengah Dolar AS yang Masih Terus Digdaya

Sikap pejabat Partai Komunis Tiongkok (PKT) sekarang juga sudah bergeser dari usaha pengurangan utang menjadi menstabilkan ekonomi. Akibatnya bank bayangan kembali bermunculan. Pihak Otoritas, selain akan menginvestasikan lebih banyak dana dalam pembangunan infrastruktur, juga ingin memanfaatkan dana dari pihak swasta untuk merangsang ekonomi.

Xiang Songzuo percaya bahwa pihak berwenang Tiongkok mendorong bank bayangan untuk ikut dalam pembiayaan pembangunan ekonomi juga menghadapi dilema, seperti “berjalan di atas tali baja.” “Pihak berwenang membutuhkan bank bayangan untuk mendanai investasi, tetapi di sisi lain, mereka juga perlu mengendalikan risiko potensial.”

CNBC melaporkan bahwa orang dalam industri terkait mengkhawatirkan bahwa dengan mendorong pemunculan dari bank bayangan dapat menutupi risiko yang ditanggung oleh bank dan entitas keuangan lainnya, karena praktik akuntansi bank bayangan selama ini tidak memasukkan aktivitas bisnisnya ke dalam neraca keuangan. Sehinggu begitu gelembung meledak, hutang yang ditimbulkan oleh bank bayangan pada akhirnya dapat menyebabkan krisis keuangan.

BACA JUGA : Ketika Fenomena Krisis Ekonomi Bermunculan, Menunjuk Janji Reformasi Xi Jinping

Tiongkok menghadapi turunnya pertumbuhan ekonomi, dari pengetatan kebijakan moneter sampai deleveraging, kemudian beralih lagi ke pelonggaran moneter, melepas dana ke pasar, bank sentral menurunkan persyaratan buat perbankan.

Pada Januari saja, pihak berwenang Tiongkok telah mengucurkan dana hampir RMB. 1,5 triliun ke pasar. Meskipun otoritas berulang kali mengklaim tidak akan membuat pasar “kebanjiran’ uang, tetapi di bawah tekanan ekonomi makro, apa boleh buat, pihak berwenang masih menjalani cara lama yaitu pelonggaran moneter.

Selain itu, Bank Sentral Tiongkok kembali menggunakan cara melepas pinjaman besar untuk pembangunan infrastruktur guna merangsang pertumbuhan ekonomi.

Menurut statistik yang dibuat ‘Securities Daily’, skala penerbitan obligasi pemerintah daerah bulan Pebruari mencapai RMB. 358,87 miliar, Dari bulan Januari hingga Pebruari, penerbitan kumulatif obligasi pemerintah daerah adalah RMB. 776,84 miliar. Diperkirakan bahwa penerbitan obligasi pada kuartal pertama dapat melebihi RMB. 1 triliun.

Sejumlah lembaga keuangan internasional telah memperingatkan bahwa jumlah hutang  Tiongkok yang besar sudah membahayakan perekonomian mereka, ditambah lagi dengan kemerosotan ekonomi, maka default dalam pembayaran kembali hutang sangat tinggi. Jika kegagalan membayar hutang benar-benar terjadi, maka dapat menyebabkan kekacauan keuangan dan bahkan krisis keuangan. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular