Erabaru.net. Dalam bercinta, ada yang baik dan buruk, ada suka dan duka, banyak mendapatkan, banyak juga kehilangan. Jangan memaksakan segalanya, jalanilah secara alami. Perasaan di antara orang dengan orang itu sangat unik.

Kita terkadang akan merasakan hal seperti ini. Ketika pertama kali mengenal seseorang, kita mengobrol dan berbicara bersama. Dari sekadar obrolan atau pembicaraan biasa itu, kita merasakan banyak persamaan dalam cara pandang. Dari sini, meski awalnya tidak punya pemikiran atau tujuan itu, dan terlepas disengaja atau tidak, besar kemungkinan akan terjalin suatu hubungan yang lebih dalam di masa depan. Mungkin jalinan persahabatan atau cinta, namun, apa pun hasilnya, selama pernah mengalaminya, itu adalah perasaan spesial yang pernah dirasakan.

Setahun sudah aku lulus dengan gelar doktor, dan sekarang aku mengajar di sebuah perguruan tinggi. Suatu hari, aku menyiapkan makalah untuk segera diterbitkan, sampai jam dua pagi baru selesai.

Saat itu, aku merasa lapar, namun, tidak ada yang bisa dimakan di rumah, dan mungkin karena makalahnya sudah selesai, hatiku pun senang, kemudian ingin keluar untuk membeli makanan.

Aku tinggal di asrama dosen di kampus, jadi butuh sedikit waktu untuk sampai di kedai 24 jam, karena merasa sangat bersemangat, aku pun segera keluar rumah.

Namun, seusai membeli makanan dan berjalan baru bebera meter, tiba-tiba dua sosok bayangan muncul di depanku, salah satu diantaranya mencengkram lenganku.

Aku tak menyangka di kampus baruku di pinggiran kota, akan terjadi hal tak terduga menimpaku, apalagi pada tengah malam, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan cengkeramannya tapi tak berhasil. Aku menjerit dan berteriak histeris, namun dengan cepat teman satunya segera menutup mulutku dengan kain.

Kedua panjahat itu dalam percakaannya menggunakan bahasa daerah mereka. Mereka membawaku berjalan entah ke mana, sementara bungkusan makanan ku sudah jatuh berantakan, dan aku semakin takut.

Tiba-tiba, muncul sesosok bayangan tinggi besar dan membentak dengan lantang, :“Apa yang kalian lakukan?”

Perampok di sebelah kiriku menyuruhnya untuk tidak mencampuri urusannya, atau akan merasakan akibatnya.

Sosok tinggi besar itu menyahutnya dengan terjangan secepat kilat ke arahnya, dan menendang perampok di sebelah kiriku. Kemudian menghadapi perampok di sebelah kananku. Setelah kedua perampok itu lari terbirit-birit.

Sesaat itu, tiba-tiba aku merasa sangat tersentuh dan terkesan dengan tindakannya. Saat itu, aku baru mengerti ternyata para pahlawan penyelamat kaum wanita lemah seperti dalam serial TV akan meninggalkan kesan yang mendalam itu memang benar adanya.

Hanya ketika Anda yang mengalaminya sendiri baru benar-benar bisa merasakan kesan itu. Betapa romantisnya ketika menghadapi bahaya, tiba-tiba muncul seorang pria datang menolongmu tepat pada waktunya.

Dia bertanya kepadaku secara beruntun apakah ada sesuatu yang hilang, perlu lapor polisi dan sebagainya. Mendnegar serentetan pertanyaannya, aku benar-benar bingung tidak bisa berbicara sama sekali, rasa ketakutanku belum hilang.

Apa yang akan terjadi padaku seandainya pria ini tidak muncul, akibatnya pasti tak terbayangkan ! Melihat aku diam saja, pria kekar itu berkata,: “Bagaimana kalau kuantar pulang, tinggal di mana? Sudah larut malam begini, sangat berbahaya bagi seorang gadis di tempat ini” Katanya penuh perhatian.

Tetapi tiba-tiba aku sedikit merasa curiga, bagaimana kalau dia juga seorang penjahat ? Kataku dalam hati, kemudian aku bilang: “Tidak usah, tidak usah, aku bisa pulang sendiri.”

Setelah mengucapkan terima kasih aku pun langsung berlari. Tapi aku lihat pria itu mengikutiku dari belakang. Jangan-jangan dia juga orang jahat, pikirku, dengan perasaan takut dan menangis, aku berhenti dan memohon padanya untuk tidak menyakitiku.

Mendengar ratapanku, dia dengan lembut menjelaskan, :”Kamu jangan salah paham, aku hanya ingin mengantarmu pulang, karena takut nanti terjadi apa-apa sama kamu, jadi aku mengikutimu dari belakan.”

Aku sendiri merasa tidak punya pilihan selain mempercayainya, jadi kubiarkan saja, aku berjalan, dia mengikuti dari belakang, setelah berjalan selama lebih dari 20 menit kemudian sampailah aku di asrama, saat memasuki gerbang kampus, kulihat dia sudah siap untuk pergi.

Aku memangilnya dan mengucapkan terima kasih, dia hanya tersenyum tidak mengatakan apa-apa. Aku lantas mencoba meminta nomor kontaknya, awalnya ia menolak, tetapi akhirnya dia memberi juga setelah melihatku tidak beranjak dari gerbang kampus.

Beberapa hari sejak kejadian itu, aku merasa bukan main cerianya hatiku, aku merasa seperti sedang jatuh cinta. Namun, aku tidak pernah berani meneleponnya, karena aku tidak tahu apa yang ingin kukatakan, aku juga tidak tahu bagaimana berterima kasih kepadanya.

Kemudian, aku menceriakan hal itu pada sahabat karibku. “Kamu juga sudah dewasa. Sudah saatnya mencari calon untuk menikah. Apa lagi yang kamu risaukan? Kalau memang suka kejar saja cintamu itu,”kata sahabatku sambil tersenyum.

Kini usiaku sudah 27 tahun. Sejak lulus sampai seusiaku ini belum pernah merasakan gelora asmara yang menggebu-gebu, tampaknya sekarang sudah saatnya aku menjalin cinta yang menghanyutkan.

Akhirnya aku memberanikan diri mengirim pesan pendek pada pria itu: “Dalam serial TV, biasanya kaum wanita yang diselamatkan oleh pria pahlawannya menyerahkan seumur hidupnya pada pahlawannya itu, aku juga ingin meniru cerita seperti itu, entah kamu bersedia menerimanya atau tidak.”

Beberapa jam kemudian, dia baru membalas : “Maaf, aku baru pulang kerja dan melihat pesan masuk. Tentu saja aku bersedia, tapi aku takut kamu akan menyesal setelah melihat diriku yang sebenarnya.”

“Aku pasti tidak akan menyesalinya. Sejak melihat sikapmu waktu itu, aku yakin, kamu adalah sesosok pria yang baik, menikah denganmu, aku ikhlas.” Jawabku.

Saat itu dia baru memberitahu namanya Guo Yong. Dia bilang akan menemuiku saat libur nanti untuk membahas masalah itu. Lagi pula, aku telah memutuskan menikah dengannya. Kami mengobrol panjang lebar selama beberapa hari itu, dari obrolan itu, aku merasa dia sosok orang yang dewasa, tenang dan perhatian.

Tapi dia selalu menunda-nunda untuk menemuiku, aku merasa ada sesuatu yang salah. Suatu hari aku menjadi marah, dan berkata kepadnya : “Kamu tidak suka ya sama seorang doktor wanita ? Banyak pria yang bilang doktor wanita tidak bagus, karena itu kamu tidak mau menikah denganku.”

Membaca SMS bernada emosi itu, si pria segera membalasnya : “Bukan, tapi aku benar-benar takut kamu memandang rendah padaku. Besok siang aku tunggu di gerbang kampusmu, aku memakai kemeja putih.”

Akhirnya akan bertemu juga, aku sangat gembira! Pada hari pertemuan itu, aku merias diriku secantik mungkin, paginya aku menunggu di gerbang kampus.

Sudah beberapa kali aku melihat pria berkemeja putih lalu lalang, semuanya tampak gagah, namun, ketika aku melihat kemunculan seorang pria berkulit hitam, aku ternganga dan mengerutkan kening! Masa sih itu pria yang kutunggu? Meskipun tinggi besar, tapi kulitnya benar-benar gelap, usianya juga tampak tidak muda lagi, dan gayanya juga tampak kampungan.

“Hai … Hai, aku Guo Yong,”katanya sambil berjalan ke arahku, ternyata memang dia !

Aku benar-benar sangat kecewa! Yang kunanti-nantikan sebenarnya adalah seorang pahlawan yang gagah, bukan seorang pria dengan gaya seperti ini, terlihat seperti pekerja migran, meski pakai kemeja putih juga tetap saja tampak kampungan.

Dan ternyata benar dugaanku, dia pekerja migran! Kami pergi makan bersama. Dia selalu tampak rendah hati dan dewasa. Meskipun pekerja migran, tapi dia tidak rendah diri dan selalu sangat tenang.

Dari pertemuan singkat di meja makan, aku merasa pria itu selalu memberi kesan sesosok pria dewasa dan dapat diandalkan, perlahan-lahan rasa kecewa tidak begitu terasa lagi.

Namun, ketika sedang makan, orang-orang melirik ke meja kami. Aku seorang intelektual, orang-orang pasti akan bertanya-tanya mengapa aku mau makan dengan seorang pekerja migran.

Di meja makan dalam awal pertemuan itu aku lebih banyak diam. Guo Yong mungkin tahu kekecewaanku, jadi dia juga diam tidak mau menggangguku.

Sudah beberapa hari ini Guio Yong tidak menghubungiku. Dan entah mengapa aku merasa tidak terbiasa, selalu melihat ponsel apakah dia mengirim pesan untukku. Sampai kemudian, aku menjadi tidak konsentrasi saat kerja. Akhirnya, aku tidak tahan lagi lalu mengirim SMS kepadanya:” Lagi ngapain saja, kenapa tidak menghubungiku ?”

Dia segera membalas SMS dariku : “Baru pulang kerja. Aku pikir kamu tidak ingin kuhubungi lagi. Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”

Kami mengobrol sangat lama lewat telepon. Kemudian kami berkencan lagi beberapa kali, dan aku merasa semakin nyaman dengannya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menikah dengannya!

Aku merasa, tidak peduli apakah itu bentuk balas budi atau rasa cinta, atau apa sajalah, jujur saja aku merasa ada cinta dalam hatiku padanya, yang paling aku sukai adalah sikapnya yang dewasa dan dapat diandalkan.

Untuk mengurangi pertentangan keluarga, aku ingin mewujudkannya terlebih dahulu dengan cara menikah resmi dengan Guo Yong. Pada hari itu, Guo Yong naik taksi menjemputku. Dia membawaku ke bank, kemudian mengambil kartu ATM dan berkata, :”Ini semua tabunganku, ada Rp 2 miliar di dalamnya, termasuk Rp. 500 juta adalah kompensasi dari perusahaan setelah kecelakaan kerja ayahku semasa hidup. Sisanya adalah uang simpananku sendiri yang kutabung selama lebih dari sepuluh tahun hasil kerjaku.

“Kamu akan segera menjadi istriku, sekarang aku serahkan semua uang itu kepadamu, nomor pin-nya sudah aku ganti dengan hari ultahmu. Kamu gunakan saja uang itu untuk membeli rumah, membayar uang muka, angsurannya biar aku yang bayar, sisanya kamu beli sebuah mobil untuk kamu pakai saat bepergian.” Kata Guo Yong. Guoyong memperlihatkan saldonya di mesin ATM, dan memang ada 2 miliar di dalamnya!

Semua itu adalah uang hasil jerih payahnya, mana boleh aku mengambilnya begitu saja.

“Sekarang aku serahkan semuanya kepadamu. Ibuku telah meningal sejak aku masih kanak-kanak, sementarta ayahku juga telah tiada karena kecelakaan kerja itu. Sejak itu, aku tidak memiliki siapa pun lagi. Aku sangat berharap memliki sebuah keluarga bahagia. Apalah artinya uang ini dibandingkan dengan dirimu yang telah menyerahkan sisa seumur hidupmu kepadaku, jadi kamu beli saja dan atas namamu,” katanya lagi.

Aku benar-benar sangat tersentuh, bukan karena uang, tetapi karena hatinya. Sekarang kami sudah punya rumah sendiri atas namaku, sementara mobil masih dalam pilihan. Harga rumah di wilayah tempat tinggal kami tidak mahal, jadi masih ada sisa setelah membeli rumah dan mobil.

Dia mulai bekerja sejak usia 17 tahun, sekarang dia berusia 32 tahun. Meskipun gaji di konstruksi sangat tinggi, tapi dia tidak bisa terus bekerja di konstruksi sepanjang hidupnya. Aku harus merencanakan sesuatu untuknya.

Saat itu, terlintas dalam benakku satu kalmat seperti ini : “Aku tidak ingin menikah dengan pria dari keluarga kaya, juga tak ingin menikah dengan orang-orang hebat/terkenal, aku hanya ingin menikah dengan sosok orang baik dan memiliki kebahagiaan yang sederhana, itu saja.” (jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular