Xia Xiaoqiang-Epochtimes.com

Pada 22 Februari 2019 Partai Komunis Tiongkok (PKT) secara resmi mengumumkan “hasil investigasi” hilangnya file “kasus hak tambang 100 miliar Shaanbei (Shaanxi Utara)” di Mahkamah Agung.

Insiden “File hilang” ini adalah perbuatan Wang Linqing yang disengaja, karena ketidakpuasannya terhadap unit dimana dia sedang bekerja lalu mencuri materi kasus yang relevan.

Video yang tersebar di internet penyuntingan dan pembuatannya dibantu oleh  Cui Yongyuan.

Wang Linqing disidik dan dituntut karena menjadi tersangka “memperoleh secara ilegal dan dengan sengaja membocorkan petunjuk kriminal rahasia negara”. Kemudian Wang Linqing muncul di CCTV (TV corong PKT) dan ‘mengaku bersalah’ dihadapan pemirsa TV.

Pada 26 Desember 2018, Cui Yongyuan telah mengungkapkan bahwa file “kasus hak tambang 100 miliar Shaanxi” hilang di Mahkamah Agung. Cui Yongyuan mengkritik Ketua Mahkamah Agung Zhou Qiang, karena melakukan intervensi ilegal dalam persidangan “kasus hak tambang 100 miliar Shaanxi” dan mengumumkan bukti yang relevan.

Selanjutnya  ketua hakim Pengadilan Tinggi Wang Linqing juga beberapa kali menerbitkan video untuk mengungkap proses file asli dan salinan kasus tersebut hilang secara misterius di kantornya pada November 2016 ketika sidang kedua, Wang Linqing juga melaporkan dengan nama asli ketua Mahkamah Agung Zhou Qiang melakukan intervensi ilegal dalam persidangan kasus.

Pengungkapan data oleh Cui Yongyuan dan pelaporan nama asli oleh Wang Linqing semuanya menunjuk kepada Ketua Mahkamah Agung Zhou Qiang.

Konten laporan mereka dapat melewati sensor ketat PKT terhadap jaringan internet dan media serta muncul  di internet daratan Tiongkok, sempat membuat dunia luar mengira bahwa Zhou Qiang mungkin akan dilengserkan.

Namun setelah Wang Linqing diselidiki dan hilang lebih dari 50 hari dan tiba-tiba jalan cerita berbalik yang diluar dugaan orang, ia muncul di CCTV mengaku bersalah secara terbuka; pada saat yang sama juga mengungkapkan situasi yang sebenarnya manajemen puncak PKT.

Pertama, sistem peradilan PKT memiliki banyak kecurangan dan skandal pun sering terjadi, pengungkapan oleh Cui Yongyuan dan pelaporan Wang Linqing sempat sekali lagi menyulut harapan sebagian masyarakat terhadap pihak berwenang untuk memperbaiki kekacauan peradilan. Namun hasil penyelidikan resmi PKT sekali lagi membuat orang-orang mencampakkan khayalan yang naïf tersebut.

Komite Politik dan Hukum Komunis Tiongkok yang memimpin Komisi Pusat Inspeksi Disiplin, Kejaksaan Agung, Kementerian Keamanan Publik menjadi tim investigasi gabungan yang dapat mewakili badan yang paling otoritatif dari sistem peradilan PKT, sekarang melakukan hasil investigasi yang membalikkan fakta juga telah melanggar pengetahuan yang paling mendasar, sekali lagi menghancurkan secara total kredibilitas pemerintahanan Komunis Tiongkok.

Fakta ini membuat  orang lebih menyadari bahwa tidak peduli bagaimana PKT mengiklankan dirinya dengan profil tinggi mengatur negara menurut hukum (supremasi hukum). Begitu ada insiden yang menyentuh kepentingan internal elit PKT, dimana telah muncul orang dan perilaku yang menentang aturan operasional PKT, maka PKT akan merobek kedok sendiri dan menggunakan metode gangster untuk menyelesaikannya; hukum, pengadilan dan hakim semuanya disandera oleh PKT dan mereka dijadikan alat / bidaknya.

Sebenarnya level atas PKT juga tahu dampak buruk terhadap citra PKT jika mengeluarkan hasil penyelidikan yang seperti ini, tetapi persis seperti sel kanker yang sudah menyebar keseluruh tubuh, terhadap mekanisme penghancuran diri PKT secara otomatis yang sudah terbentuk dan tersebar diseluruh negeri ini, sebenarnya sudah sama sekali tidak dapat dikendalikan oleh mereka sendiri. 

Kedua, pengakuan bersalah Wang Linqing di TV juga membuat orang melihat mesin propaganda PKT yang bejat dan tidak tahu malu, belum diadili sudah diputuskan bersalah, tindakan PKT yang melanggar hukum secara serius dan melanjutkan pengaturan negara secara tidak fair.

Metode pengakuan bersalah di TV oleh Wang Linqing selama berdirinya RRT ini, telah berulang kali terjadi sandiwara dan lelucon seperti ini.

Sebenarnya PKT juga tahu bahwa orang-orang tidak percaya pada “pertobatan” orang yang mengaku bersalah, tetapi PKT tetap bersikeras melakukannya, tidak hanya untuk mempermalukan para penantang, tetapi juga telah mengirimkan informasi ancaman kepada dunia luar.  Siapapun yang menantang tindakan PKT maka PKT akan menyerang balik dengan keras.

Di satu sisi media corong pemerintah meneriakkan mengatur negara menurut hukum, di sisi lain media merusak sendiri citra partai, menghadapi situasi berlawanan seperti ini sebenarnya level atas PKT juga sudah sama sekali tak berdaya.

Ketiga, sejak tahun lalu hingga saat ini mantan pembawa acara CCTV Cui Yongyuan selain mengungkapkan kecurangan menghindari pajak di industri hiburan, juga mengungkap sejumlah kasus besar yang melibatkan korupsi perwira tinggi kepolisian Shanghai dan hilangnya file “kasus hak tambang 100 miliar Shaanxi” dan melibatkan tokoh kelas berat di level tinggi PKT.

Ketika diwawancarai, Cui Yongyuan pernah berujar: “Beking saya itu sangat kuat, kuatnya tak terpikirkan oleh Anda! Saya tidak mau memberi tahu Anda dan Anda juga jangan mencari tahu! Supaya jangan sampai Anda terkejut!”

Sebenarnya perkataan Cui tidak sepenuhnya membual, Tiongkok di bawah pemerintahan PKT, orang yang bisa seperti Cui Yongyuan mengungkapkan anti KKN secara terbuka, tak mungkin dibelakangnya tidak ada kekuatan politik yang mendukung.

Pengungkapan kecurangan penggelapan pajak di kalangan hiburan hanya menyalahi pengusaha dan Cui tetap aman-aman saja, tetapi begitu mengungkapkan anti-korupsi yang menyentuh level politik elit, terutama ketika menyentuh medan pejabat Shanghai serta pejabat senior saat ini Zhou Jiang yang sekarang menjabat di Beijing yang memiliki latar belakang faksi Jiang Zemin, maka situasinya sama sekali berbeda.

Zhou Qiang adalah salah satu anggota penting dalam Group Jiang Zemin. Selama Zhou menjabat di provinsi Hunan terjadi sejumlah kasus besar yang menggemparkan dan memicu kontroversi, termasuk kasus kematian misterius Wang Wangyang (insiden bunuh dirinya Warga Negara Hongkong yang diduga dihabisi oleh PKT); kasus Tang Hui ibu dari anak belia yang dipaksa melacur, Tang Hui yang meneriakkan keadilan dijebloskan ke kamp kerja paksa; kasus penggalangan dana ilegal Xiangxi serta penjahat utama Zeng Chengjie ditembak mati dan lain-lain.  

Pada saat yang sama Zhou Qiang juga aktif mengekor Jiang Zemin dalam penganiayaan terhadap Falun Gong. Setelah Zhou Qiang menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung, berpidato menganggap “insiden 709” yakni penangkapan dan penculikan sejumlah pengacara HAM, sebagai sukses besar pengadilan, secara luas ia dikutuk dan dicemooh di dalam maupun di luar negeri.

Para sarjana hukum di Daratan Tiongkok telah bersama-sama meminta agar “Hakim buta hukum” Zhou Qiang mengundurkan diri. Sarjana hukum He Weifang dan Zhang Qianfan telah bersuara mengatakan bahwa Zhou Qiang mengemudi mundur roda sejarah dan benar-benar telah mendatangkan malapetaka bagi negara dan rakyat.  

Sekarang Cui Yongyuan sudah kehilangan kontak, apakah ia dapat mundur secara utuh di masa depan masih belum diketahui. Kejadian Cui Yongyuan menunjukkan bahwa kampanye anti-korupsi setelah Xi Jinping menjabat selama lima tahun tidak sepenuhnya seperti klaim resmi bahwa “Pertarungan melawan korupsi telah mendapatkan kemenangan yang luar biasa”, sebaliknya adalah anti-korupsi mengalami hambatan serius, mengalami perlawanan mati-matian dan mendapat serangan balik dari kelompok-kelompok kepentingan PKT.

Ketika gerakan anti-korupsi menyentuh Jiang Zemin dan membahayakan stabilitas serta keberadaan rezim Komunis Tiongkok maka sebenarnya gerakan anti-korupsi hanya tinggal namanya saja.

Jalan cerita yang berbalik dari kasus kehilangan di Mahkamah Agung dan pengakuan bersalah hakim Wang Linqing di CCTV serta kehilangan jejak Cui Yongyuan yang membantu pihak berwenang tertinggi anti-korupsi dengan cara pengungkapan.

Semua ini telah menjelaskan status paling realistis dari manajemen puncak PKT: dalam sistem yang dijalankan PKT saat ini tingkat tertinggi telah sepenuhnya kehilangan kemungkinan untuk memperbaiki dan mengurangi berbagai krisis yang dihadapi Tiongkok, dalam masalah internal dan eksternal yang terus memburuk.  Rezim Komunis Tiongkok akan terus mengekspos sendiri semua jenis keburukan yang tak dapat dibayangkan kepada dunia. (LIN/WHS/asr)

Artikel Ini Terbit di Epochtimes cetak versi  Bahasa Indonesia

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular