oleh Lizixi

Pada 10 Maret 2019 adalah hari peringatan 60 tahun insiden kekerasan di Tibet. Pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama mengatakan bahwa dalam 2 sampai 3 tahun setelah kematian fisiknya, Pemerintah komunis Tiongkok akan menetapkan seorang Dalai Lama melalui penunjukan, tetapi 6 juta warga Tibet tidak akan menerima keputusan seperti itu.

Dalam edisi terbaru majalah TIME yang menggunakan foto Dalai Lama yang telah 60 tahun berada dalam pengasingan di India, menerbitkan sebuah artikel hasil wawancara dengannya di India baru-baru ini.

Dalai Lama yang kini berusia 83 tahun, ditanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan  reinkarnasi suksesi. Dunia luar menduga kuat bahwa komunis Tiongkok yang telah 60 tahun mengendalikan Tibet setelah Dalai Lama dalam pengasingan. Besar kemungkinannya akan menetapkan seorang Dalai Lama pilihan mereka untuk dijadikan pewaris pemimpin spiritual setelah Dalai Lama meninggal dunia kelak. Hal mana tentu berkaitan dengan upaya untuk melemahkan nilai keberadaan pemerintah dalam pengasingan Tibet, sekaligus memperkuat kontrol terhadap penduduk Tibet.

Terhadap pandangan ini, Dalai Lama menanggapinya dengan mengatakan setelah 2 sampai 3 tahun kematiannya, pemerintah Tiongkok mungkin memilih Dalai Lama seperti halnya dengan memilih Panchen Lama, menetapkan seorang Dalai Lama sesuai kepentingan mereka. Tetapi ini tidak akan pernah diakui oleh 6 juta warga Tibet. Dia juga mengatakan bahwa, seperti Panchen Lama yang dipilih oleh pemerintah Tiongkok, bahkan pejabat Tiongkok sendiri pun memanggilnya Panchen Lama palsu.

Pewaris ‘Reinkarnasi Buddha yang Hidup di Tibet’ adalah cara unik pewarisan tahta Buddhisme Tibet, merujuk pada pencarian penerus baru sebagai pengganti praktisi agama yang diakui sebagai pemimpin spiritual Tibet setelah yang bersangkutan meninggal dunia. Ini dikarenakan penggantinya dianggap sebagai reinkarnasi dari roh praktisi agama tersebut, maka penerus dianggap sah untuk menyandang gelar asli.

Namun, dalam masalah mengenai reinkarnasi Dalai Lama, pemerintah Tiongkok bersikukuh menganggap bahwa Partai Komunis Tiongkok memiliki hak untuk menyetujui atau tidak seorang Dalai Lama berikutnya. Tetapi Dalai Lama percaya bahwa pejabat PKT tidak memiliki hak untuk mengkonfirmasi penggantinya karena mereka adalah ateis, tidak percaya pada siklus hidup dan mati dan keyakinan agama.

Selain itu, Central News Agency melaporkan bahwa dalam pandangan pewaris mazhab Buddhisme Gelug (Sekte Topi Kuning), Dalai Lama dan Panchen Lama adalah hubungan antara guru dengan murid spiritual. Namun Panchen Lama memiliki hak suara yang besar dalam menentukan siapa Dalai Lama berikutnya setelah Dalai Lama sebelumnya meninggal dunia.

Panchen Lama ke-11 Gyaincain Norbu adalah panchen pilihan komunis Tiongkok. Tetapi Panchen Lama ke-11 Gedhun Choekyi Nyima yang diangkat oleh Dalai Lama belum ada berita.

Bahkan, untuk mencegah warga Tibet percaya pada agama mereka, pemerintah komunis pada tahun 2007 memberlakukan ‘Peraturan Tentang Reinkarnasi Buddha Buddhisme Tibet’ yang  menetapkan bahwa reinkarnasi Buddha Tibet harus secara resmi disetujui oleh pejabat berwenang Tiongkok.

Pada tahun 2016, pemerintah juga meluncurkan “Sistem Penelusuran Online mengenai Buddha Hidup”. Disebutkan bahwa pemimpin spiritual Tibet harus menjalani skrining resmi dari pemerintah komunis sebelum disahkan untuk menyandang gelar ‘Reinkarnasi dari Buddha Hidup Tibet’ dan menjalankan seluruh kekuasaan agama.

Pada akhir tahun 2016, PKT bahkan mengadakan “Kelas Pelatihan Buddha Hidup Reinkarnasi Baru Tibet” yang memungkinkan warga Tibet menerima ideologi Partai Komunis, melakukan perjalanan ke Jinggangshan yang digelari basis revolusi Tiongkok di Jiangxi, dan Shaoshan, Hunan yang merupakan kampung halaman Mao Zedong. Termasuk mengunjungi kediaman Mao Zedong dan Liu Shaoqi, dan untuk memberikan ‘khata’ syal sutra Tibet kepada patung Mao Zedong.

Menurut adat istiadat tradisional Tibet, ‘khata’ hanya akan dikenakan pada patung Buddha, sorgum, atau  para tamu VIP dalam sebuah upacara agama.

Zhu Weiqun, wakil menteri Departemen Front Bersatu Partai Komunis Tiongkok pernah  mengatakan bahwa urusan agama di Tibet tidak hanya masalah kepercayaan agama, tetapi juga masalah politik utama di Tibet. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular