Erabaru.net. Ini adalah sebuah kisah yang luar biasa. Saat Yu Hongmei berusia 8 tahun, ibunya meninggalkan rumah dan tak kembali lagi. Sebagai anak sulung, dia yang saat itu masih SMP memilih berhenti sekolah untuk memberi kesempatan pada adik-adiknya.

Yu Hongmei, yang harus bekerja di ladang setiap hari ketika itu juga tidak menyangka akan menjadi pembawa pesan warisan budaya, dan menjadi pengusaha sekaligus kolektor rumah-rumah kuno/antik.

Pada usia 23 tahun, Yu Hongmei menikah. Tak lama setelah menikah, ia mendapat kabar yang menyedihkan, ayahnya mengalami kecelakaan lalu lintas, dan meninggalkan hutang ratusan juta rupiah. Dia tidak bisa berhenti menangis ketika membayangkan hari-hari tanpa bahan makanan dan isak tangis anak-anak ketika itu.

Seorang kolektor bangunan antik yang terlahir sebagai pemulung – Yu Hongmei

Yu Hongmei mengawali hidupnya dengan memulung, tetapi nasibnya juga berbalik dari puing-puing sampah. Yu Hongmei selalu ingat, bahwa pada hari pertama memulung, ia mendapatkan 27 yuan (sekitar Rp 56 ribu). Kemudian, dia mendapati, bahwa setelah proses penghalusan, setiap tong (tempat air) dapat dijual dengan harga puluhan dollar.

Kemudian, dia mulai mendalami buku-buku antik dan memulai lokakarya untuk renovasi furnitur. Dari tong air hingga koleksi barang-barang antik, rumah-rumah kuno/antik, belakangan membentuk tim perbaikan bangunan-bangunan antik/kuno

Investasikan 150 juta yuan untuk memperbaiki situs bangunan kuno

Menjelang 40 tahun usianya, Yu Hongmei bercerita tentang masa lalunya sambil duduk di sebuah kursi mahoni berukir dan itu adalah aula utama rumah klasik ‘Three in One’ semasa Dinasti Qing (1644 – 1912).

Ini hanyalah salah satu propertinya. Rumah kuno yang telah dipugar dengan indah ini terletak di kompleks bangunan kuno di pinggiran Kota Wuhan dengan total investasi 150 juta yuan dan area seluas 1.300 are, setara dengan 86 lapangan sepak bola.

Selain itu, dia juga memiliki basis perjalanan sendiri, kilang anggur, perusahaan budaya, dan menyediakan ribuan pekerjaan untuk warga desanya.

Rumah-rumah tua yang diangkut dari seluruh penjuru negeri

Yu Hongmei memindahkan rumah tua yang hampir runtuh dari seantero negeri ke tempatnya, dan direnovasi. Bangunan-bangunan tua yang telah dipugar itu dipenuhi dengan relief yang tampak hidup dan teknik pengerjaan serta penyambungan kayu yang rumit.

Di luar halaman dikelilingi dengan tembok dan dihiasi dengan batuan pegunungan, termasuk kedai penginapan, tempat belajar (Sekolah), rumah-rumah semasa Dinasti Ming dan Qing. Penduduk desa merajut keranjang bambu, menunjukkan budaya rakyat yang perlahan-lahan mulai memudar.

Mencari barang antik yang rusak

Dengan mengendari SUV impor putihnya, Yu Hongmei selalu ke desa untuk melihat-lihat rumah tua begitu punya waktu luang. Dia suka dengan ukiran patung, karena ada cerita mitologis disana, skandal sejarah, dan aneka karakter tokoh yang berbeda.

Membangun sekolah nasional

Di desa ini, dia menempatkan lansia yang tinggal sendirian di satu tempat, dan secara khusus mempekerjakan seseorang untuk mengurus semua keperluannya.

Membangun gedung sekolah, agar para pemuda-pemudi berkesempatan belajar dan melatih mereka menjadi dosen budaya. Ini adalah ciri khas kehidupan/pembelajaran tanpa akhir Tiongkok selama ribuan tahun, semacam kegigihan dalam gaya seni bela diri.

Jika kita sendiri tidak punya kesempatan belajar/sekolah, maka harus memberi kesempaan pada generasi berikutnya untuk belajar/sekolah. Seperti kata Yu Hongmei, memberikan pengetahuan sama pentingnya dengan memenuhi sandang pangan.

Terlahir miskin, tapi tetap gigih mewujudkan impian dan cita-cita.Dia ingin setiap orang desa yang lahir dalam kemiskinan seperti dia memiliki impian dan cita-cita luhur.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular