Erabaru.net. Beberapa waktu lalu, saya bertamu ke rumah teman. Temanku mempunyai anak laki-laki yang baru berusia 2,8 tahun, wajahnya bulat dengan sepasang mata besarnya menatap kami dengan rasa ingin tahu. Seusai makan siang, kami pun duduk santai di ruang tamu sambil mengobrol.

Di sela-sela obrolan kami, tiba-tiba, terdengar piring pecah dari arah dapur, kami ke dapur dan melihat pecahan piring di lantai. Di dapur tampak sang ayah marah-marah dan anak kecilnya menangis.

“Oh, piring pecah, sudahlah, jangan marah-marah begitu?” Bujuk si istri menenangkan suaminya.

Ibunya kemudian mendekati anaknya. “Sudah berapa kali ibu bilang, jangan ke dapur? Coba lihat, piringnya pecah lagi kan? ”

Pemandangan seperti itu mungkin pernah terjadi di setiap keluarga. Saat anaknya melakukan kesalahan, reaksi pertama orangtua sebagian besar adalah marah-marah menyalahkan anaknya.

Lalu bagaimana dengan sikap dan reaksi orangtua di luar negeri ?

Beberapa waktu lalu, saya sempat menonton sepenggal video luar negeri. Dalam video itu, seorang anak kecil juga tidak sengaja memecahkan piring di dapur.

Karena takutnya, bocah itu bersandar di lemari sambil menangis histeris, lalu terdengar suara seorang ibu, tapi dia tidak menegur apalagi marah-marah seperti orangtua di atas.

Sebaliknya, dia bertanya dengan lembut dan penuh perihatian : “Apa yang terjadi, sayang? Oh, kamu memecahkan piring ya ? ”

Anak itu berhenti menangis sebentar, dan terus menanggapi ibunya dengan isak tangis.

Dengan nada lembut, ibunya berkata : “Tidak apa-apa sayang, tidak apa-apa.”

Setelah itu, muncul sang ayah dan dengan lembut menggendong anaknya. Ia tepuk-tepuk punggung si anak. Lambat laun, bocah itu pun diam tidak menangis lagi dan menjadi tenang dibawah bujukan dan nada bicara yang lembut.

Di antara penggalan video tersebut, sang ibu mengucapkan satu kalimat yang layak direnungkan :

“Tidak apa-apa, sayang, tidak apa-apa, kamu bukan anak pertama yang memecahkan piring, setiap anak pasti akan memecahkan piring, ” katanya lembut pada anaknya.

Ya, setiap anak pasti akan memecahkan piring, lagipula, siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan saat dia masih kanak-kanak?

Setiap orang tua yang tumbuh dewasa dari dari sorang anak kecil, pasti akan membuat kesalahan demi kesalahan, belajar untuk tidak lagi membuat kesalahan dan memahami pengalaman hidup masing-masing.

Hanya saja, saat kita membayangkan suasana-suasana itu setelah melakukan kesalahan sebagian besar disertai dengan rasa takut. Karena, tidak semua orangtua mengerti faktor yang membuat anak itu melakukan kesalahan.

Atau, mereka tidak mau tahu sebabnya,hanya melapiaskan kemarahan yang tak terkendali, sehingga membuat si anak menjadi ketakutan karena rasa bersalahnya, menjadi tidak percaya diri dan lemah tak bernyali.

Sayangnya, setelah anak-anak yang semasa kecilnya itu sekarang menjadi orangtua, di mana saat menghadapi kesalahan anaknya, dia sudah lupa dengan dirinya sendiri yang dulu pernah bersembunyi di sudut kamar sambil gemetaran. Dan terus menghadapi anaknya dengan sikap kekerasan, menyalahkan dan memaksa si anak mengakui kesalahan.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan orangtua saat anak melakukan kesalahan ?

Saat anak memecahkan piring atau menyebabkan kerusakan karena kenakalannya, maka coba terapkan dua cara berikut ini untuk menanganinya :

  • Pertama, bertanya dan mengetahui alasan/sebab kesalahannya
  • Kedua, analisa dimana kesalahannya

Bantu anak Anda untuk tidak melakukan kesalahan lagi.

Ahli menyebutkan, saat si anak melakukan kesalahan, kemudian dimarahi dan dalam ketakutan, maka ibunya yang lembut yang sehari-hari mereka saksikan itu akan menjadi sosok/ibu yang mengerikan dan tidak menyayanginya, imbasnya ia hanya akan merasa bahwa dirinya tidak baik, sehingga tidak punya keberanian untuk mencoba lagi di masa depan, atau menciptakan perlawanan darinya dan belajar berbohong.

Jadi, sekali lagi diingatkan, menyalahkan dan menegur anak saat melakukan kesalahan itu tidak ada gunanya sama sekali, hanya akan merusak kepribadian si anak yang awalnya sehat sempurna.

Yang paling penting, adalah harus membiarkan si anak menanggung konsekuensi dari kesalahannya.

Saat si anak memecahkan sesuatu, banyak orangtua, di mana setelah memarahinya, mereka hanya berkata “ya sudah, kamu pergi main sana !” Lalu membiarkan anaknya bermain di kamar.

Tapi teman saya Lina tidak seperti itu.

Jika anaknya melakukan kesalahan di rumah, anaknya harus berdiri di samping sambil melihat ibunya membereskan pecahan piring. Meskipun anak itu tidak melakukan apa pun juga tetap harus berdiri di sana melihat ibunya membereskan pecahan piring.

Biarkan anak tahu bahwa jika melakukan kesalahan itu harus bertanggung jawab. Ada konsekuensinya saat melakukan kesalahan. Dan konsekuensi itu harus dirasakan, disaksikan dan dialami anak yang melakukan kesalahan itu.

Jika si anak melemparkan buku semaunya hingga membuat seisi kamar berantakan, maka biarkan dia menemani orangtua, mengambil satu persatudan merapikannya.

Jika menumpahkan air ke lantai, Tolong bantu orangtua dan lap lantai hingga kering dengan kain.

Saat makan dan tanpa sengaja menjatuhkan piring, biarkan dulu, nanti bantu bersihkan seusai makan.

Tetapi mengapa harus membiarkan anak anda menanggung akibatnya, karena khawatir kelak di masa depan, di mana saat ia harus menghadapi kegagalan, kekecewaan sendirian, apakah ia memiliki keberanian dan kemampuan untuk menanggung akibat dari kesalahannya.

Asal tahu saja, banyak rintangan dan lika-liku dalam hidup ini harus dijalani oleh diri masing-masing, bukankah begitu ?

Jadilah orangtua yang elegan. Tidak harus menggerutu kesal dan marah-marah juga dapat mendidik anak Anda menjadi sesosok pribadi yang baik dan bertanggung jawab !

Artikel ini wajib disimak para orangtua yang ingin mendidik anaknya menjadi sosok orang yang disiplin !(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular