Erabaru.net. Ibu Zhao memiliki dua orang anak laki-laki, ia membesarkan kedua putranya sendirian sejak suaminya meninggal. Putra sulung bernama Zhao Yu, anak muda yang sangat pintar. Sebaliknya, Zhao Jun, putra bungsunya, sepanjang hari bermain di luar seperti orang idiot. Mentalnya bermasalah sejak ia sakit demam panas waktu kecil.

Zhao Yu kini telah berusia 25 tahun, dan mempunya seorang pacar bernama Qin Na, dua tahun lebih muda dari Zhao Yu, keduanya tampak serasi, jadi tidak lama kemudian, mereka memutuskan untuk menikah, namun, pada hari pernikahan terjadi sesuatu yang tak terduga.

Pada hari yang istimewa itu, mempelai pria, Zhao Yu tampak semangat penuh energi, ibunya juga bukan main bahagianya, selalu tersenyum ceria.

Ibu dan anak itu pagi-pagi sudah tampak sibuk. Sampai pada jam sembilan pagi, waktu untuk menjemput pengantin wanita pun tiba, Zhao Yu segera mengenakan setelan jas dan naik ke mobil pengantin sambil membawa seikat bunga. Namun, baru akan berangkat, dia mendapat panggilan telepon dari ayah mertuanya.

Ayah mertuanya berkata dengan tergesa-gesa di ujung telepon : “Qin Na, dia mengalami kecelakaan mobil! Mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan sebuah truk mini yang melaju dari arah berlawanan, beberapa orang di dalam mobil telah dilarikan ke rumah sakit! Kamu sebaiknya segera menjenguknya di rumah sakit ! “

Zhao Yu tertegun, tiba-tiba tidak tahu apa yang harus dibicarakan setelah mendengar kabar dari ayah mertuanya. Sementara itu, ibu Zhao langsung terduduk di lantai mendengar kabar itu.

Setelah itu, Zhao Yu bergegas ke rumah sakit. Dia melihat Qin Na masih dalam keadaan koma. Dokter mengatakan dia mengalami cedera di kepalanya, dan tak tertutup kemungkinan akan menjadi idiot setelah sembuh. Seperti disambar petir, keterangan dokter itu seketika membuat Zhao Yu terpaku di tempat.

Pada hari pernikahannya itu, Zhao Yu tinggal di rumah sakit, merawat calon istri yang baru akan dinikahinya.

Mempelai wanita masih belum bangun. Anehnya, Zaho Yu tidak melihat bayangan keluarga istrinya. Lalu Zhao Yu menelepon ayah mertuanya, namun, saat terhubung, yang terdengar justru suara ibu mertuanya : “Qin Na telah menikah denganmu! Jadi sudah menjadi tanggung jawabmu! Jangan telepon kami lagi, hidup dan matinya tidak ada hubungannya dengan kami.”

Pikiran Zhao Yu menjadi kacau. Dia sama sekali tidak menyangka ibu tiri Qin Na akan mengatakan hal seperti itu.

Kemudian, Zhao Yu memandangi Qin Na yang terbaring koma di ranjang pasien, dan tiba-tiba perasaanya berkecamuk tak menentu, antara sedih, cemas dan ragu. Dia bahkan terus bertanya pada dirinya sendiri: Apa aku benar-benar harus hidup dengan istri idiot seumur hidup?

Tiga hari kemudian, sambil menahan gejolak perasaannya, Zhao Yu memutuskan untuk meninggalkan Qin Na.

Sepulangnya ke rumah, Zhao Yu memberi tahu ibunya bahwa dia akan putus dengan Qin Na. Dia menuturkan bahwa orangtua Qin Na sendiri saja tidak peduli pada putrinya.

Ibu Zhao langsung naik pitam mendengar perkataan Zhao Yu, dia memukulnya bertubi-tubi dengan napas terengah-engah. “Dasar kau bocah kurang ajar, sikapmu seperti itu apa pantas disebut manusia? Orangtua Qin Na lepas tangan, maka kamu justru harus merawatnya! Bagaimana bisa kamu meninggalkannya pada saat seperti itu ?” Kata ibunya kesal, lalu mengemasi beberapa potong pakaian dan langsung pergi ke rumah sakit.

Setibanya di rumah sakit, ibu Zhao melihat Qin Na sudah bangun dari komanya, namun, matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. Kemudian, ibu Zhao menghampirinya dan berkata beberapa patah kata kepadanya, tetapi Qin Na hanya diam saja.

Detik itu, perasaan ibu Zhao seketika bergejolak dan tak tahan meneteskan air mata. Ya, Qin Na sekarang tampak seperti orang bodoh, dan menjadi tak kenal dengan siapa pun.

Pada hari-hari berikutnya, ibu Zhao yang merawat Qin Na di rumah sakit, sementara orangtuanya sendiri tidak pernah datang menjenguknya. Melihat keadaan Qin Na seperti itu, ibu Zhao semakin simpatik pada gadis itu.

Lebih dari dua minggu kemudian, Qin Na sudah boleh pulang dari rumah sakit. Ibu Zhao membawanya pulang ke rumahnya. Sementara itu, Zhao Yu sudah berkali-kali meminta ibunya untuk membawa Qin Na pergi dari rumah, namun ibunya tidak setuju.

Zhao Yu pun tak bisa berbuat apa-apa melihat kekerasan sikap ibunya, dia pun langsung pergi dari rumah dan bekerja di luar kota.

Pada hari-hari berikutnya, ibu Zhao pun menjalani hidupnya bersama dengan dua orang idiot di rumah, dan itu tidaklah mudah bagi sebagian besar orang, apalagi dia adalah seorang ibu tunggal.

Tapi ibu Zhao adalah sosok wanita yang tabah dan tegar. Sementara itu, Zhao Jun putra bungsu ibu Zhao, lambat laun mulai bisa memahami dengan kondisi ibunya, jadi dia sering membantu ibunya bekerja.

Belakangan, ibu Zhao membeli beberapa ekor domba untuk putra bungsunya, dan membiarkannya menjadi gembala domba setiap hari.

Dan perlahan namun pasti, Qin Na yang tidak pernah bicara, pun berangsur-angsur menjadi suka bicara dan tersenyum. Dia kerap ikut Zhao Jun menggembala domba di padang rumput.

Mereka berdua tampak akrab dan tertawa ceria di padang rumput. Zhao Jun yang masih memanggil Qin Na sebagai kakak ipar selalu berkata : “Kak aku mau menikahimu! Saudaraku meninggalkanmu, biar aku yang menikahimu!” Qin Na selalu tersenyum setiap kali mendengar kata-kata Zhao Jun, lalu mengangguk-angguk.

Tak terasa dua tahun pun berlalu, Zhao Jun akhirnya benar-benar menikahi Qin Na. Meskipun sederhana, tapi mereka hidup dalam kebahagiaan setiap hari!

Suatu malam saat hujan, ketika sekeluarga akan istirahat, tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Zhao Jun membuka pintu dan tertegun ketika melihat sosok orang yang berdiri di luar pintu. Ternyata itu adalah kakaknya Zhao Yu!

Zhao Yu berjalan masuk dengan bantuan sepasang tongkat, dan sambil menangis ia menceritakan hal-hal yang dialaminya di luar. Dia menceritakan telah bekerja dan mendapatkan uang yang banyak, namun, kecanduan bermain judi, akhirnya kalah dan meninggalkan utang setumpuk. Kemudian bersembunyi di mana-mana, tapi akhirnya tertangkap dan sebelah kakinya dipatahkan …

Zhao Yu sangat menyesal dan menangis. Sementara itu, ibu Zhao hanya bisa menatap sedih putra sulungnya sambil menitikkan air mata, bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan.

Bersamaan dengan itu, Zhao Jun tiba-tiba berdiri di depan kakaknya dan menepuk dadanya. “Jangan takut kak, kelak aku dan istriku akan menghidupimu …” kata Zhao Jun sambil menunjuk ke Qin Na.

Zhao Yu tertegun sambil memandangi Zhao Jun dan Qin Na, kemudian denqan sangat menyesal dan malu menundukkan kepalanya. (jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular