oleh Xu Menger

Baru-baru ini, topik “obat pintar” kembali menjadi perbincangan di kalangan orangtua siswa di daratan Tiongkok.

Beberapa orang tua mendengar bahwa dengan mengkonsumsi “obat pintar” para siswa akan lebih mudah berkonsentrasi dalam kelas dan nilai rapornya akan meningkat dengan cepat. Karena itu, banyak orangtua sengaja ke pasar gelap untuk membeli “obat pintar” semacam itu untuk anak mereka.

Celakanya, “obat pintar” itu bahan utamanya mirip dengan sabu-sabu, adalah stimulan neurosentris yang mirip dengan Amfetamina, Ritalin, Modafinil dan sebagainya. Adalah obat-obatan jenis psikotropika yang dikontrol ketat di daratan Tiongkok. Pengguna awalnya ingin meningkatkan efisiensi belajar atau bekerja, tetapi akhirnya menjadi kecanduan.

Media Shanghai ‘Jiafang Ribao’ pada 13 Maret 2019 memberitakan, beberapa orangtua beranggapan bahwa biaya membeli “obat pintar” masih lebih bisa diterima dibandingkan dengan biaya les tambahan yang mahal, lagipula efeknya langsung. Oleh karena itu, pedagang yang tidak bermoral memanfaatkan pemahaman oran tua dan siswa ini untuk mengemas obat-obatan jenis psikotropika menjadi “obat pintar”, “obat motivasi belajar”  dengan menutupi toksisitas obat itu sendiri, dan dipublikasikan secara melebih-lebihkan efeknya.

Laporan itu mengatakan bahwa seorang siswa SMA yang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi telah menulis pada situsweb ‘Douban’ tentang pengalamannya dalam mengkonsumsi  obat tersebut.

Begini tulisan siswa yang dimaksud, “Setelah membeli Ritalin (produksi Swiss) di pasar gelap, dalam setengah jam awalnya, efeknya tidak terasa secara jelas, tetapi setelah 1.5 jam kemudian, efeknya sangat dasyat. Dulunya sebelum minum obat ini saya merasa sulit belajar. Namun setelah minum obat ini. Pokoknya, tidak lagi mengalami pikiran saya tidak bisa mengikuti pendengaran, tetapi kecepatan pendengaran yang tidak bisa mengikuti pemikiran.”

BACA JUGA : Apa yang Lenyap Akibat Pengaruh dan Doktrin Paham Komunis

Siswa ini dengan blak-blakan menyebutkan bahwa obat itu hanya efektif untuk pekerjaan yang sifatnya berulang. Akan tetapi untuk pekerjaan yang bersifat kreatif seperti bahasa lisan dan mengarang efeknya kecil. Dia menceritakan tidak ada nafsu makan setelah efek obat habis. Selain itu, keesokan harinya muncul halusinasi hingga merasakan sangat tidak nyaman.

Ini adalah obat “resep merah” yang dikendalikan oleh lembaga medis, tetapi orangtua masih mencoba untuk mendapatkannya dengan cara tersendiri. Parahnya, beberapa orangtua membiarkan anak-anak mereka berpura-pura menjadi anak yang hiper aktif (ADHD) agar  dokter memberikan resep obat termaksud. Selain itu, pasar gelap juga menjadi tempat bagi beberapa orang tua dan siswa untuk membeli obat-obatan jenis psikotropika.

Mengapa orangtua yang sudah tahu “barang” itu beracun tetapi masih saja membiarkan anak mereka mengkonsumsinya? Laporan itu mengutip ucapan orangtua siswa kelas dua SMP yang dapat mewakili suara para orangtua “gila” menjelaskan bahwa, dibandingkan dengan anaknya tak bermasa depan di kemudian hari (karena tidak pandai dalam belajar), jika ada obat yang dapat meningkatkan kinerja belajarnya, mengapa tidak ?

Gao Hongyun, Direktur Bagian Psikiatri Rumah Sakit Anak Universitas Fudan, Tiongkok menjelaskan bahwa bahan yang disebut “obat pintar” itu adalah jenis methylphenidate. Fokusnya adalah pada Ritalin, yang merupakan produk dengan dua spesifikasi yang berbeda. Yang pertama adalah obat yang efek kerjanya agak lamban, tetapi yang terakhir adalah obat yang efek kerjanya cepat.

Dokter Psikiatri Hongkong Dr. Ivan W. C. Mak kepada ‘Apple Daily’ mengatakan bahwa, Ritalin terutama digunakan untuk mengobati pasien yang sulit berkonsentrasi/kurangnya perhatian dan hiperaktif (ADHD) dan merupakan stimulan saraf pusat.

Menurut Dr. Ivan, obat ini sama sekali tidak membantu  dalam belajar, dan mungkin ada efek samping jika dikonsumsi secara sembarangan atau tanpa petunjuk dokter ahli. Gejala-gejala seperti kehilangan nafsu makan, sakit kepala, detak jantung yang cepat, tekanan darah naik dan lain-lain dapat muncul. “Jika Anda menggunakannya dengan tidak tepat, jiwa pun dapat terancam,”katanya.

BACA JUGA : Cara Uji Coba Obat Ala Rezim Komunis Tiongkok, Secara Paksa Korban Dibuat Lemah

Setelah seorang siswi kelas tiga SMA daratan Tiongkok mengkonsumsi “obat pintar” yang disediakan oleh ibunya, kinerja akademisnya meningkat pesat dalam waktu relatif singkat. Namun, setelah dua bulan ia masuk 10 besar yang diterima oleh sebuah universitas. penyalahgunaan obat psikotropika membuat ia kecanduan dan membutuhkan perawatan medis.

Beberapa waktu yang lalu media ‘Beijing News’ melaporkan, Tian Jing (nama samaran), siswi kelas tiga SMA yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, mengkonsumsi “obat pintar” yang dibelikan ibunya. Ia sendiri tidak tahu tentang obat ini, dan ia pun tidak jelas seberapa banyak yang diketahui ibunya tentang obat tersebut. Ia hanya ingat ibunya berkata : “Ada siswa yang rapornya menjadi lebih baik karena minum obat ini, kamu cobalah.”

Sebulan setelah minum obat itu, rambut Tian Jing mulai rontok, insomnia terjadi hampir setiap malam. Suatu saat ibunya meminta Tian Jing menghentikan obatnya. Namun, setelah menghentikan obat, ia mulai mengalami sakit kepala, mual-mual dan badannya terasa sakit. Pelajaran di sekolah hampir tidak lagi bisa diikuti, membaca buku atau menyelesaikan tugas  pekerjaan rumah pelajaran juga terasa berat, sulit untuk berkonsentrasi.

Pada semester berikutnya, insomnia dan kerontokan rambut Tian Jing semakin serius. Ia bahkan berhalusinasi ada seseorang yang terus mengikutinya, yang mau membunuhnya serta melukainya. Lebih parah lagi, setiap pergi dan pulang sekolah minta ibunya yang antar jemput karena takut untuk berjalan sendiri.

Hingga akhirnya Tian Jing setelah ujian masuk perguruan tinggi, pergi ke rumah sakit untuk perawatan medis. Mana ada “obat pintar”, tetapi obat yang dikonsumsi Tian Jing adalah Metilendioksimetamfetamina (MDMA) yang biasanya dikenal sebagai ekstasi.

Liu Xinxin (nama samaran) yang berusia 18 tahun, mulai menggunakan Ritalin yang diperkenalkan oleh teman-teman sekelasnya. Dalam waktu kurang dari 2 bulan, ia tidak bersekolah karena sakit.

“(Jika) tidak ada Ritalin, saya selalu merasakan seperti mau mati, sehingga saya hanya bisa berjalan mengelilingi lapangan senam satu putaran demi satu putaran,” katanya. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular