Cheng Xiaorong

Saat Dwi Konferensi Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 5 Maret 2019 lalu, Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang merilis sinyal mengenai situasi ekonomi Tiongkok di tahun 2019 ini akan semakin parah. Dalam laporan itu,  istilah risiko sampai ia sebut 24 kali, merujuk pada istilah kesulitan, ia ucapkan sebanyak 13 kali, Stabilitas sampai lebih dari 70 kali.

Li Keqiang bahkan menunjukkan bahwa situasi dalam dan luar negeri saat ini lebih rumit dan parah. Ia pun sering menyeka keringat saat berpidato. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Bagi Partai Komunis Tiongkok (PKT), situasinya memang suram. Selain tekanan besar yang datang dari perang perdagangan, PKT juga menghadapi gelombang menentang komunis Tiongkok dari masyarakat internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di dalam negeri, perlawanan rakyat terhadap penindasan, tuntutan hak asasi manusia dan kebebasan tidak pernah berhenti. Laporan Li Keqiang dan cucuran keringatnya merupakan cerminan dari seriusnya situasi makro yang dihadapi Tiongkok termasuk para petingginya.

Li Keqiang telah mengumumkan sejumlah langkah untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Analisa para sarjana menunjukkan bahwa kalaupun langkah-langkah itu bisa efektif, sifatnya hanya jangka pendek. Hanya mengalihkan sementara atau menunda munculnya krisis.

Tanggung jawab yang diterima oleh Li Keqiang dan Xi Jinping beberapa tahun yang lalu adalah kerusakan kondisi yang ditinggalkan oleh Partai Komunis Tiongkok dan mantan ketua partai Jiang Zemin. Kerusakan ini berupa korupsi birokrasi, sistem hukum yang lumpuh, merosotnya moral yang sudah berlngsung selama beberapa dekade. Jika ideologi dan tirani PKT ini diperpanjang, siapa pun tidak akan mampu merubah kondisi itu, ekonomi juga akan sulit untuk membaik.

Jika kita menengok kembali masa kemakmuran dan stabilitas yang terjadi dalam sejarah Tiongkok, jelas bahwa kemakmuran ekonomi muncul mengikuti kejelasan politik yang diterapkan kerajaan. Kaisar adalah orang bijak, rendah hati, menghargai dan mencintai rakyat. Karena itu negara jadi jaya dan rakyat sejahtera, perkembangan budaya dan kepercayaan diri ikut menyertai.

Dalam Dwi Konperensi yang diadakan pada tahun 2016, Li Keqiang pernah menyinggung soal kekuatan budaya dan moral kepada para wartawan yang meliput. Ia mengatakan : “…. Warisan budaya tradisional kita yang luar biasa telah berhasil mendorong tumbuhnya pembangunan ekonomi dan sosial yang berkesinambungan. Namun, sekarang ada banyak masalah di bidang ekonomi yang dikritik oleh banyak orang. Seperti penipuan, kekerasan, pemalsuan, kerusakan kredibilitas, jawabannya dapat kita temukan dari aspek budaya, kemudian untuk membuka resep perbaikannya.”

“Perkembangan budaya dapat menumbuhkan kekuatan moralitas. Kita mempromosikan modernisasi yang tidak semata-mata untuk menciptakan kekayaan materi, tetapi juga menyediakan kepada rakyat produk spiritual yang kaya melalui budaya, dan menggunakan kekuatan peradaban dan moralitas untuk memperoleh rasa hormat dunia.”

Pernyataan ini mungkin adalah keinginan sederhana dari individu, tetapi tidak berlaku untuk model pelanggaran yang dipraktikkan PKT. Oleh karena itu angan-angan itu tidak terwujud meskipun tiga tahun telah berlalu.

PKT secara politik mempraktikkan perjuangan kelas, di bidang ekonomi, mereka mengorbankan lingkungan ekologis dan mengorbankan tenaga kerja untuk meraih keberhasilan yang bersifat sementara. Pada aspek budaya adalah menghancurkan tradisi, menciptakan kebohongan, dan menekan fakta.

Pada hari yang sama ketika Li Keqiang menyampaikan laporan kinerja pemerintah, 709 Wang Qiaoling menuliskan pesan di Twitter, menceritakan bagaimana ia harus berdebat dengan tim keamanan nasional baru bisa bertemu dengan pengacara Jiang Tianyong. Seorang warga negara yang baik dan taat hukum begitu sulit untuk menemui warga negara lain yang telah dihukum secara ilegal oleh pihak berwenang dan dijatuhi hukuman penjara. Ini adalah fenomena yang terjadi setiap hari di Tiongkok.  (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

 

Atau Video Ini : 

Share

Video Popular