oleh Liu Minghuan

PDB (produk domestik bruto) Tiongkok selama ini terus dipertanyakan oleh dunia luar. Wadah pemikir AS Brookings Institution baru-baru ini merilis sebuah laporan yang mengekspos manipulasi angka PDB dari pemerintah daerah di Tiongkok yang mana angkanya digelembungkan sekitar 1,7 persen setiap tahunnya.

Brookings Institution pada 7 Maret lalu merilis sebuah laporan yang menyebutkan bahwa, pemerintah daerah Tiongkok telah memanipulasi angka PDB.

Diperkirakan angka PDB yang dirilis pemerintah daerah Tiongkok antara tahun 2008 – 2016 setiap tahunnya telah di-upgrade setinggi 1.7 %. Jumlah dana cadangan yang sebenarnya juga 7 % lebih rendah dari yang diumumkan secara resmi.

Laporan tersebut menunjukkan alasan kecurangan data. Data nasional Tiongkok didasarkan pada data-data yang dilaporkan oleh pemerintah daerah, tetapi akibat pemerintah daerah dapat memperoleh penghargaan dari pemerintah pusat jika mencapai tujuan pertumbuhan dan investasi, ini akhirnya mendorong pemerintah daerah untuk secara sengaja melaporkan data yang sudah “disemir”. Biro Statistik Nasional Tiongkok menyesuaikan data yang dilaporkan oleh pemerintah daerah untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

Menurut laporan itu, setelah tahun 2008, data keuangan pemerintah daerah di Tiongkok menjadi semakin terdistorsi, tetapi Biro Statistik Nasional tidak melakukan penyesuaian dan perubahan yang diperlukan. Jika bagian yang di-upgrade itu disesuaikan kembali, maka tingkat perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok sejak 2008 lebih serius daripada data resminya. Selain itu, jumlah investasi dan output industri juga sangat dibesar-besarkan, supaya data resmi tentang konsumsi dan layanan lebih masuk di akal sehingga dapat diandalkan.

Media Singapura ‘Lianhe Zaobao’ pada 17 Maret memberitakan bahwa salah satu pembuat laporan di atas, Profesor Song Zheng dari The Chinese University of Hongkong mengatakan, Biro Statistik Nasional Tiongkok berada dalam posisi yang lemah ketika mengumpulkan data lokal. Alasannya, Biro ini berada di kedudukan yang selevel dengan pemerintah daerah, jadi bagaimana dimungkinkan untuk mengoreksi data yang dilaporkan pemda. Oleh karena itu ketidakakuratan data mempengaruhi data PDB Tiongkok.

BACA JUGA : Akankah Tiongkok Menggerakkan Ekonomi Dunia pada Tahun 2019 ?

Song Zheng mengatakan, jumlah laju pertumbuhan PDB yang dilaporkan sendiri oleh pemerintah daerah telah melebihi tingkat pertumbuhan PDB resmi tahunan Tiongkok sejak tahun 2003. Fenomena tidak normal tersebut menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara PDB pemda dengan PDB nasional. Pemerintah daerah Tiongkok cenderung memalsukan data pada produksi industri lokal dan investasinya.

Membandingkan tingkat pertumbuhan PDB resmi dan kenaikan pajak pertambahan nilai produk serta pajak penghasilan perusahaan pada periode yang sama, Song Zheng menemukan bahwa pertumbuhan PDB industri resmi sejak tahun 2008 telah melebihi pertumbuhan pendapatan pajak. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan PDB Tiongkok dibuat tinggi.

Media Singapura ‘Lianhe Zaobao’ melaporkan bahwa dengan membandingkan data dari kota-kota yang berbeda, mereka menemukan bahwa data di Beijing, Shanghai, Zhejiang, dan Guangdong adalah yang paling akurat. Sementara Liaoning, Mongolia Dalam, Tianjin ketiga tempat tersebut yang terperangkap dalam skandal penipuan data. Akurasi data mereka berada di peringkat paling bawah.

Menurut laporan, Ning Jizhe , Direktur Biro Statistik Nasional Tiongkok menyatakan pada konferensi pers 13 Maret 2019 bahwa cara perhitungan statistik pertumbuhan ekonomi Tiongkok sesuai dengan standar yang digunakan secara internasional, sehingga datanya ilmiah dan dapat diandalkan.

Tetapi studi terbaru dari wadah pemikir Brookings Institution di Washington menunjukkan bahwa data PDB Tiongkok memiliki komponen penipuan. Data aktual adalah 12% lebih rendah dari data yang diumumkan resmi oleh pihak berwenang Tiongkok yang berada pada angka 6,6%.

Yin Zhongqing, Wakil Direktur Komite Keuangan dalam konferensi persnya usai Kongres Rakyat Nasional pada 10 Maret lalu secara terbuka mengakui, bahwa terdapat banyak masalah dalam angka statistik Tiongkok.

BACA JUGA : Terhempasnya Ambisi Internasionalisasi Renminbi di Tengah Dolar AS yang Masih Terus Digdaya

Yin Zhongqing mengatakan, angka total PDB daerah lebih besar dari akuntansi nasional. Angka ini menunjukkan telah terjadi “pertarungan data” yang menimbulkan keraguan terhadap kebenaran angka statistik dari pemerintah.

Yin Zhongqing juga menuduh pemerintah setempat membuat perbandingan, peringkat serta memalsukan sumbernya. Termasuk membuat masalah serius seperti laporan palsu, menyembunyikan data, menghilangkan atau memperbesar angka, membuat laporan ulang, dan lain sebagainya untuk menghasilkan data statistik yang tidak mencerminkan situasi sebenarnya.

Sesungguhnya masalah penipuan data PDB komunis Tiongkok telah berlangsung lama. Ada banyak penelitian luar negeri yang meragukan laporan keuangan pemerintah.

Qin Weiping, seorang ekonom yang tinggal di AS mengatakan kepada Radio Free Asia (RFA) : “Beberapa waktu yang lalu, penelitian yang dilakukan oleh beberapa sarjana dari Universitas Hongkong  menemukan bahwa, PDB Tiongkok dari tahun 2006 hingga 2016 paling tidak digelembungkan sebesar 10 %, dengan tingkat kecepatan pertumbuhan yang dinaikkan 2 % setiap tahunnya.”

Qin Weiping secara pribadi percaya bahwa angka PDB tahunan Tiongkok setidaknya digelembungkan 30 hingga 40 %.

Pada Januari 2017, Chen Qiufa, gubernur Provinsi Liaoning dalam sidang di Dwi Konferensi mengakui bahwa data ekonomi tahun 2011 hingga 2014 dari kota, kabupaten yang berada di bawah yurisdiksi Provinsi Liaoning telah digelembungkan, jadi angkanya patut diragukan.

Pada 2018 lalu, beberapa provinsi dan kota di Tiongkok juga secara terbuka mengakui laporan pertumbuhan yang mereka sampaikan kepada pemerintah pusat bermasalah. Di antaranya, satu kabupaten di Wilayah Baru Binhai, Tianjin telah mengakui bahwa PDB-nya telah digelembungkan sampai 33.5 % dari PDB riilnya. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Atau video ini :

Share

Video Popular